alexametrics

Paloh: Memangnya Jokowi Tak Tahu Kami akan ke PKS?

31 Oktober 2019, 16:14:13 WIB

JawaPos.com – Pertemuan Ketua Umum DPP Nasdem Surya Paloh dengan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman sudah diketahui Presiden Jokowi sebelumnya. Karena semua pergerakan politik pasti selalu dikomunikasikan dengan Istana.

“Memangnya Jokowi tak tahu kami akan ke PKS? Kami kasih tahu juga kan kami mau ke PKS,” kata Surya Paloh di Kantor DPP NasDem, Jakarta Pusat, Kamis (31/10).

Surya Paloh juga mengingatkan, dalam dunia politik, posisi tawar merupakan titik strategis terutama untuk parpol. Termasuk soal kunjungan ke PKS, menurut Paloh, hal itu tidak dilarang dan itu merupakan bagian dari demokrasi.

“Kita ke PKS tanpa maksud apa-apa. Kami menghormati PKS. Dan kami yakin PKS menghormati Nasdem,” katanya.

Oleh karena itu, Surya Paloh meminta pertemuan dirinya dengan Presiden PKS Sohibul Iman dianggap hal yang biasa saja. Pertemuan itu jangan dilihat sebagai episode yang serius.

“Kita semua paham. Tidak semua masalah terselesaikan melalui rapat formal. Kadang-kadang bisa terselesaikan sambil minum kopi,” paparnya.

Sementara itu, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera tidak mempersoalkan berbagai tafsir dari masyarakat atas pertemuan antara Surya Paloh dengan Sohibul Iman.

“Ya silakan saja, kalau tafsir kan kami tidak bisa membatasi, jadi monggo saja,” kata Mardani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (31/10).

Mardani menilai, ada beberapa hal yang bisa dilihat dari pertemuan tersebut. Misalnya, mereka ingin membangun silaturahmi kebangsaan karena bangsa ini besar dan permasalahannya juga besar.

“Jadi walaupun berbeda sikap, tetapi silaturahmi harus jalan. Kedua belah pihak menghormati pilihan masing-masing,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya sepakat bahwa masalah-masalah fundamental negeri ini mulai dari konsisi ekonomi, masyarakat yang terbelah, sampai demokrasi yang masih prosedural memerlukan terobosan-terobosan.

Menurut Mardani, hal ini memerlukan kerja sama dan kesepahaman dari semua partai, meskipun posisinya mungkin berbeda.

“Dengan dialog bisa lebih memudahkan dalam mencapai titik temu. Meskipun PKS sudah istikamah sebagai oposisi. Jadi, siapa pun baik di dalam maupun di luar, kalau memang mau menjadi kekuatan penyeimbang kami (sambut) dengan tangan terbuka,” katanya.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads