alexametrics
Kaleidoskop 2018

Akhir Drama Panjang Nama Pasangan Pilpres 2019, Hingga Idrus Dipenjara

30 Desember 2018, 17:00:25 WIB

JawaPos.com – Agustus 2018 bisa dibilang menjadi momen kebangkitan trah mantan presiden kedua Indonesia Soeharto dikancah politik nasional. Selain itu, juga menjadi duka bagi partai Golkar lantaran kader pesohornya menjadi tersangka KPK. Bulan itu juga makin lengkap di kala drama panjang tarik ulur ihwal siapa capres dan cawapres yang maju telah terungkap.

Pada (10/8), teka-teki siapa yang bertarung dikancah pemilihan presiden telah terang. Khusus kubu oposisi, drama panjang telah menghiasi penunjukkan cawapres Sandiaga Uno. Siapa sangka, nama Sandi yang tak pernah terdengar sampai dua hari jelang penutupan pendaftaran capres dan cawapres, mendadak muncul menjadi pendamping Prabowo.

Infografis Pemilu 2019
Infografis kilas Balik geliat pemilu tahapan awal selama 2018. (Kokoh/JawaPos.com)

Prabowo akhirnya menunjuk Sandiaga Uno sebagai cawapres pendampingnya di pilpres. Majunya Sandi dikancah politik nasional juga diringi dengan pengunduran dirinya sebagai wakil gubernur DKI Jakarta.

Pada hari pendaftaranya itu hampir seluruh ketua partai politik pengusung ikut mendampingi pasangan Prabowo-Sandi, kecuali Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketua Umum Partai Demokrat itu diwakilkan oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

Jenderal berjuluk 08 itu masuk dengan kendaraan roda empat berwarna putih. Mantan Danjen Kopassus itu terlihat berdiri dari dalam mobil dengan mengeluarkan badannya melalui atap mobil. Kala itu, kedatangan capres dan cawapres itu sendiri disambut meriah oleh ratusan relawan yang telah memadati jalanan depan kantor KPU. Kedatangan Prabowo-Sandi juga diiringi sebuah lagu berjudul #2019GantiPresiden yang diputar melalui mobil orator relawan.

Sama halnya dengan Prabowo, Presiden Jokowi juga melalui drama panjang hingga akhirnya menunjuk Ma’ruf Amin sebagai cawapres di pilpres mendatang. Sempat diisukan bakal menujuk mantan ketua MK Mahfud MD beberapa jam sebelum penunjukkan, akhirnya Jokowi resmi meminang Ketua MUI tersebut.

Keesokan harinya, Jokowi-Ma’ruf mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum sebagai calon presiden-calon wakil presiden untuk Pilpres 2019. Jokowi tampak mengenakan kemeja yang bertuliskan bersih, kerja nyata dan merakyat.

Mereka diantarkan langsung oleh seluruh ketua umum dan sekjen partai pengusung dan sejumlah menteri dalam Kabinet Kerja. Menteri yang ikut ialah, Menhub Budi Karya, Menaker Hanif Dhakiri, Mentan Amran Sulaiman, Menteri PUPR Basuki Hadi Muljono, Menteri PDTT Eko Putro, Mendikbud Muhadjir Effendy, Mensesneg Pratikno, Menteri LHK Siti Nurbaya, Menteri ATR Sofyan Djalil hingga Seskab Pramono Anung.

Usai mendaftar ke KPU, mereka langsung bertegur sapa dengan masyarakat yang telah menunggunya di halaman KPU.

Usai sudah kemeriahan pendaftaran paslon ke KPU, publik kembali diramaikan dengan turunnya anak dari mantan presiden kedua Indonesia Soeharto ke kancah politik nasional. 

Setelah partai Berkarya sukses lolos tahapan verifikasi faktual, keluarga dari keturunan Soeharto pun ikut bergabung partai yang dipimpin oleh Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto tersebut.

Tercatat, enam anak Soeharto resmi menjadi kader Partai Berkarya. Mereka adalah Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

Selanjutnya, Siti Hediati Harijadi alias Titiek Soeharto dan Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Tutut). Namun dari keseluruhnya, hanya Titiek, Tommy dan menantu dari Tutut, Muhammad Reza yang ikut terjun menjadi caleg di pemilu mendatang.

Tommy akan terjun sebagai anggota DPR RI di daerah pemilihan paling timur Indonesia yakni Papua 1. Sedangkan Titiek akan turun di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 1 dan Muhammad Ali Reza bakal berada di dapil Jakarta.

Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso bilang, tak semua trah cendana ikut turun langsung ke kancah politik nasional. Sebagiannya, bakal ditempatkan untuk membesarkan partai berlambang pohon beringin tersebut.

“Tidak semua masuk. Banyak yang bantu dari segi kerja untuk membesarkan partai tanpa harus masuk struktur,” paparnya.

Di tengah geriliya politik dan panasnya tensi politik nasional, tiba-tiba publik dikagetkan dengan penetapan mantan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham sebagai tersangka korupsi. Bahkan, mantan menteri sosial itu memberikan isyaratnya sendiri bahwa dia telah ditetapkan tersangka melalui SPDP (Surat Perintah Dimulainya Penyidikan).

Adapun Idrus Marham menjadi tersangka karena ikut menerima uang suap untuk memuluskan proyek jumbo PLTU Riau-1 senilai USD 900 juta atau sekitar Rp 13 triliun (kurs Rp 14.500 per USD). Sebelum Idrus, KPK sudah menetapkan Anggota DPR Fraksi Golkar, Eni Saragih serta seorang pengusaha, Johannes Budistrisno Kotjo dengan status serupa.

“Dalam proses penyidikan KPK, ditemukan sejumlah bukti permulaan yang cukup berupa keterangan saksi, surat dan petunjuk sehingga dilakukan penyidikan baru (21/8), dengan satu orang tersangka IM (Idrus Marham),” ungkap Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan, dikantornya, Jumat (24/8).

Menurut Basaria, IM diduga bersama dengan Eni Maulani Saragih menerima hadiah atau janji dari pemegang saham Blackgold Natural Resources, Johannes Budisutrisno Kotjo.

Mantan Sekjen Golkar ini juga aktif dan memiliki andil mengetahui penerimaan uang yang diterima Eni dari Kotjo sebanyak Rp 4 Miliar pada bulan November-Desember 2017, dan bulan Januari-Juni, Rp 2,25 Miliar.

“IM juga berperan sebagai pendorong agar proses penandatanganan Purchase Power Agrement (PPA) atau jual beli proyek pembangunan PLTU mulut tambang Riau-1,” ujarnya.

Selain itu, Idrus juga mendapatkan komitmen fee sebesar USD 1,5 juta, bila PLTU Riau-1 berhasil dilaksanakan oleh Kotjo.

Atas perbuatan itu, Idrus terbukti melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 128 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH,P atau Pasal 56 ayat (2) KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : (aim/JPC)


Close Ads
Akhir Drama Panjang Nama Pasangan Pilpres 2019, Hingga Idrus Dipenjara