alexametrics

Kalau Maju Lewat PDIP, Anak-Menantu Jokowi Harus Ikut Sekolah Partai

30 Juli 2019, 11:56:49 WIB

JawaPos.com – DPP PDI Perjuangan membuka tangan lebar-lebar jika memang anak atau menantu Jokowi ingin menjadi calon kepala daerah. Namun, mereka harus tetap mengikuti mekanisme partai. Salah satunya adalah kewajiban mengikuti sekolah partai.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan, partainya terbuka bagi putra-putri terbaik bangsa untuk menjadi kepala daerah pada Pilkada 2020.

Termasuk jika anak-anak presiden berniat menjadi calon kepala daerah di Solo, Jawa Tengah. “Tapi, siapa pun yang mau jadi calon kepala daerah wajib mengikuti tahap penjaringan,” katanya melalui keterangan resmi kemarin (29/7).

Yang jelas, tutur dia, PDIP membuka mekanisme bagi anak bangsa yang ingin berdedikasi dan ingin menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk menyejahterakan rakyat. Namun, lanjut Hasto, siapa pun yang ingin bergabung dengan PDIP harus mengikuti sekolah partai dan menjalani psikotes. Para calon kepala daerah dari PDIP juga akan dilatih menjadi kepala-kepala daerah yang baik.

PDIP. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Menurut politikus kelahiran Jogjakarta itu, partainya belum memulai tahap penjaringan. Tapi, pihaknya terus mencermati hadirnya tokoh-tokoh yang mempunyai peluang untuk memenangkan hati rakyat. “Kami akan terus mencermati siapa yang disuarakan rakyat untuk menjadi pemimpinnya,” urainya.

Mantan anggota DPR itu mengatakan, dalam menghadapi Pilkada 2020, partainya siap bekerja sama dengan partai lain. Tentu, partainya mengedepankan Koalisi Indonesia Kerja (KIK). Meski di beberapa daerah, karena latar belakang sejarah dan politik, terbuka juga kemungkinan bekerja sama dengan partai di luar KIK.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira meminta munculnya dua anak Jokowi dalam bursa calon wali kota Solo tidak dikait-kaitkan dengan posisi Jokowi sebagai presiden.

Menurut dia, munculnya Gibran dan Kaesang murni hasil survei sehingga tidak perlu dikaitkan dengan jabatan presiden. Menurut anggota DPR itu, munculnya nama Kaesang dan Gibran di bursa calon wali kota Solo bukanlah keinginan Jokowi. “Jokowi tidak memaksa anak-anaknya untuk mencalonkan diri,” ungkapnya.

Legislator asal NTT tersebut menyatakan, sampai saat ini Kaesang dan Gibran belum mendeklarasikan diri untuk maju. Jika keduanya atau salah satu maju, tentu berpotensi muncul konflik kepentingan Jokowi. Karena itu, kata Andreas, masyarakat boleh tidak memilih Kaesang dan Gibran. Dia menegaskan bahwa yang memutuskan mereka menjadi wali kota atau tidak adalah rakyat. “Bukan Presiden Jokowi,” tegasnya.

Menurut dia, Kaesang dan Gibran merupakan anak berpendidikan, berwawasan luas, dan sederhana. Sepengetahuannya, Gibran maupun Kaesang tidak pernah mengeruk keuntungan ekonomi atau politik dari posisi Jokowi.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (lum/c19/oni)

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads