alexametrics

Anggap Sekjen PDIP Keliru, Syarief: Emil yang Melamar ke Demokrat

28 November 2017, 17:55:45 WIB

JawaPos.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengeluhkan strategi politik outsourcing yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). ‘Korbannya’ adalah kader muda banteng moncong putih, Emil Dardak, yang akhirnya lebih memilih Demokrat untuk menemani Khofifah di Pilgub Jatim 2018. 

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan mengatakan, sebetulnya bukan hanya partainya yang melakukan trik seperti SBY itu. Melainkan partai lain juga melakukan hal serupa.

“Pandangan (Hasto) keliru, karena hampir semua partai begitu,” ujar Syarief saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/11).

Hasto dan Mega
Sekjen PDIP Hasto bersama Ketum PDIP Megawati. (JawaPos.com)

Anggota Komisi I DPR ini juga mengaku, Partai Demokrat tidak pernah merayu Emil Dardak utuk bisa maju di Pilgub Jawa Timur. Melainkan Emil sendiri yang melamar ke Partai Demokrat untuk diusung.

“Setahu saya dia (Emil Dardak) yang melamar ke Partai Demokrat. Bukan kita yang merayu-rayu,“ katanya.

Menurut Syarief, hampir semua partai melakukan strategi outsourcing dalam membajak kader. Apalagi apabila kader itu tidak betah di partai yang ditempati. Maka partai tidak bisa memaksa kadernya untuk tetap bertahan.

“Perpindahan kader kan wajar saja. Jika tidak nyaman lalu kadernya pindah partai kan wajar saja,” pungkasnya.‎

‎Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan, Emil Dardak yang tergiur jalan kekuasan dan akhirnya loncat pagar meninggalkan harapan dan mimpi rakyat Trenggalek. 

Hal ini terjadi setelah Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketum Partai Demokrat menjalankan strategi outsourcing, mungkin karena krisis kader muda di Partai Demokrat.

Hasto juga mengungkapkan, SBY memang ahli dalam ‎strategi dan menggaet Emil Dardak adalah pilihan jalan pintas untuk merekrut menjadi calon pemenang di Jawa Timur. 

“Demokrat krisis kader untuk menghasilkan kepemimpinan muda. Sebab Demokrat kadernya pernah tersangkut berbagai persoalan korupsi seperti yang dialami oleh Andi Mallarangeng, Nazaruddin, Choel Mallarangeng, Anas Urbaningrum,” ujar Hasto.

Sekadar informasi, PDIP telah mencalonkan salah satu kadernya Azwar Anas sebagai cawagub untuk mendampingi Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Pilgub Jawa Timur.

Tapi secara tiba-tiba Partai Demokrat dan Partai Golkar mengusung Emil Dardak menjadi cawagub mendampingi Khofifah Indar Parawansa pada hajatan terbesar di Jawa Timur 2018 nanti.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Achmad Baidowi angkat bicara mengenai perseteruan dua partai ini. Menurut dia, dalam berdemokrasi tidak ada yang salah dalam merekrut kader lain.

“Itu bagian dari dinamika demokrasi,” ujar Baidowi saat dihubungi, Selasa (28/11).

Anggota Komisi II DPR ini mengaku, apabila partai tidak memiliki kader potensial untuk maju dalam pilkada atau kontestasi, maka tidak dilarang merayu orang tersebut untuk pindah haluan. “Jadi itu terjadi di semua partai politik,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan seperti PDIP yang juga membajak Abdullah Azwar Anas. Dia dahulu adalah kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun sekarang menjadi anggota PDIP dan maju di Pilgub Jawa Timur.

“Memang itu disebabkan karena lemahnya komitmen kader terhadap partai politik. Tapi itu tidak haram dalam demokrasi,” pungkasnya.‎

Editor : admin

Reporter : (cr2/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Anggap Sekjen PDIP Keliru, Syarief: Emil yang Melamar ke Demokrat