JawaPos Radar | Iklan Jitu

Lawan Intoleransi, Pemuda Serambi Madinah Dilatih Jadi Jubir Pancasila

28 Oktober 2018, 11:06:18 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Jubir Pancasila
Pelatihan Juru Bicara Pancasila berlanjut ke kota berjuluk Serambi Madinah. Acara yang digelar selama empat hari itu akan berlangsung hingga Senin (29/10) besok. (KBI for JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Pelatihan Juru Bicara Pancasila berlanjut ke kota berjuluk Serambi Madinah. Acara yang digelar selama empat hari itu akan berlangsung hingga Senin (29/10) besok. Pelatihan ini juga sedang dilaksanakan paralel di kota Manado, Sulawesi Utara.

Pelatihan ini, menurut Koordinator Komunitas Bela Indonesia (KBI) Anick HT, merupakan respon sekaligus tindakan antisipasi atas memudarnya Pancasila sebagai nilai dan falsafah hidup bangsa Indonesia.

Terbukti dari hasil penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) menemukan data yang mengkhawatirkan. Sejak tahun 2005, lalu 2010, 2015 hingga 2018, warga pro Pancasila terus menurun dari 85,2 persen menuju 75.3 persen.

Selama 13 tahun terakhir, dukungan warga kepada Pancasila menurun sekitar 10 persen. Di sisi lain, di era yang sama, pendukung NKRI bersyariah naik 9 persen. Publik yang pro NKRI bersyariah tumbuh dari 4,6 persen (2005) menjadi 13,2 persen (2018), 13 tahun kemudian.

Koordinator partner lokal KBI Dikki Shadiq mengatakan, meski daerahnya dijuluki sebagai Serambi Madinah, namun dalam dalam bingkai keberagaman Indonesia, Gorontalo sendiri kerap masih diterpa isu-isu intoleransi.

"Salah satu contoh kasus yang terjadi di Gorontalo, yaitu pelarangan pendirian rumah ibadah dan asrama mahasiswa Hindu. Ini menjadi keresahan kita saat ini,” ungkap Dikki.

Karena itu, Fasilitator KBI di Gorontalo Milastri Muzakar berharap usai pelatihan ini, peserta yang sudah bisa menjadi juru bicara Pancasila diharapkan bisa menjadi pemantik dan titik temu yang semakin mendekatkan jurang pemisah para pemuda lintas agama maupun etnis.

"Di sini untuk lebih sering berdialog dan membumikan nilai-nilai Pancasila untuk diamalkan sebagai pedoman bersama dalam bertoleransi,” paparanya kepada JawaPos.com.

Selama empat hari kegiatan, peserta akan dilatih menulis, berdebat dan manajemen media sosial. Pengelolaan media sosial menjadi salah satu titik tekan penting dalam pelatihan ini, menjadi aktif menebarkan gagasan positif di media sosial itu sangat perlu dan penting.

Seperti diketahui, saat ini ruang media sosial adalah ruang pertarungan yang sangat mempengaruhi opini publik. Banyak pihak yang dengan sengaja memproduksi ujaran kebencian dan hoaks untuk kepentingan politik sempit maupun kepentingan bisnis.

"Sementara masyarakat kita cenderung mudah percaya begitu saja terhadap informasi yang beredar tanpa kecakapan literasi," pungkasnya.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up