alexametrics
Sumpah Pemuda 2018

Fadli Zon-Budiman Sudjatmiko: Dulu Teman Dekat, Kini Lawan Debat

28 Oktober 2018, 09:30:32 WIB

Aktivis asal India Kailash Satyarthi pernah menulis bahwa tidak ada ruas dalam masyarakat yang bisa menyaingi kekuatan, antusiasme, dan keteguhan hati para pemuda. Satyarthi benar. Karena itulah semangat Sumpah Pemuda seharusnya terus mengilhami Indonesia.

Pads edisi khusus Sumpah Pemuda 2018 hari ini, Jawa Pos mengangkat beberapa cerita tentang para pemuda yang berada dalam gelanggang yang sama, tetapi kebetulan memiliki pandangan, sisi, dan keberpihakan yang berbeda. Walau begitu, mereka sepakat bahwa bangsa InI adalah yang utama. Para pemuda ini mungkin bisa menjadi inspirasi. Bahwa kita bisa saja berbeda, tetapi tetap satu jua. Indonesia! Artikel kelima, dari Fadli Zon dan Budiman Sudjatmiko

Fadli Zon-Budiman Sudjatmiko: Dulu Teman Dekat, Kini Lawan Debat
Politisi Gerindra Fadli Zon (HENDRA EKA/JAWA POS)

Di depan publik, Fadli Zon dan Budiman Sudjatmika menjadi sosok yang saling konfrontatif. Mereka sering berdebat sengit saat membela capres-cawapres dukungannya. Baik di forum terbuka maupun medsos. Di sisi lain, mereka sama-sama mengaku pernah dekat.

Fadli dan Budiman dikenal sebagai aktivis. Namun, peranan mereka berbeda. Fadli duduk di kursi MPR sejak 1997 sebagai perwakilan pemuda. Adapun Budiman menjadi oposisi. Dia dipenjara karena dianggap menjadi dalang kerusuhan pada 27 Juli 1996.

Keduanya menjadi teman setelah dipertemukan ketika menempuh studi di London pada 2002. Fadli mengambil program magister di London School of Economic (LSE). Sementara itu, Budiman kala itu mengambil kuliah ilmu politik di School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London.

Perkenalan keduanya bermula ketika sama-sama turun ke jalan untuk menentang Perang Teluk II. ’’Ketemu pertama pas ikut demonstrasi. Waktu itu ada demonstrasi antiperang. Saya ikut dari LSE, Budiman dari SOAS,’’ tutur Fadli.

Perkenalan itu, menurut pria 47 tahun tersebut, membuat dirinya sering bertemu dengan Budiman di kesempatan lain. Biasanya, kata Fadli, dirinya bertemu dengan Budiman untuk ngopi bersama.

Sayang, Fadli lupa nama coffee shop tempat keduanya bersama mahasiswa Indonesia lain bertemu. ’’Kalau sudah bertemu, (Budiman) jadi teman diskusi, berdebat, tapi suasananya tetap santai,’’ kata wakil ketua DPR RI itu.

Kenangan tersebut juga masih terekam jelas di benak Budiman. Dia masih ingat betul awal-awal ketika mengenal Fadli. Keduanya satu suara menentang invasi Amerika Serikat ke Irak atau Perang Teluk II. ’’Waktu itu kami sama-sama ikut demo anti-Perang Teluk,’’ tutur Budiman.

Dari perkenalan di sana, mereka sejak saat itu sering bertukar pikiran dan gagasan mengenai Indonesia. Karena sama-sama aktivis dan perantau, diskusi-diskusi yang dilakukan semakin nyambung. Keduanya juga sama-sama mempelajari budaya politik Inggris.

Namun, menurut Budiman, pikiran-pikiran Fadli yang diungkapkan ketika di Inggris kini tidak keluar. Misalnya, tentang ekonomi dan persaingan global. Menurut dia, pikiran-pikiran itu seharusnya bisa keluar dari Fadli. Terlebih posisinya di DPR.

Pria yang pernah mendekam di penjara tersebut mengatakan memiliki beberapa kesamaan dengan Fadli. ’’Saya sama-sama baca buku, sama-sama suka belajar teori segala macam,’’ ucapnya.

Kedekatan mereka tidak hanya saat menempuh studi di Inggris. ’’Saya pernah diajak ke rumahnya (Fadli, Red). Koleksi bukunya jauh lebih banyak daripada koleksi buku saya,’’ ujar Budiman. Karena itu, Budiman menilai Fadli seharusnya punya wawasan yang lebih luas ketimbang dirinya.

Fadli Zon-Budiman Sudjatmiko: Dulu Teman Dekat, Kini Lawan Debat
Tweet Budiman Sudjatmiko yang menantang Fadli Zon untuk melakukan debat

Politik Jadi Jurang Pembeda

Jalur politik Fadli dan Budiman tidak hanya berseberangan. Tetapi juga berhadapan. Fadli menjadi dewan pengarah Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Sementara itu, Budiman masuk daftar pelaksana kampanye tingkat nasional pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Fadli menilai perbedaan itu merupakan hal yang normal. Menurut Fadli, sejak menjadi aktivis pada awal 90-an, dirinya sudah menulis polemik terkait gerakan mahasiswa. Tulisan itu menjadi dasar pandangannya dalam melihat perbedaan pilihan politik. ’’Saya pada 91-92 menulis gerakan mahasiswa 90-an. Waktu itu sesama aktivis ada perbedaan, ada persamaan. Biasa, menurut saya,’’ kata Fadli.

Perbedaan politik, bagi dia, merupakan sesuatu yang dinamis. Di satu sisi, ada kelompok yang dianggap dekat dengan kanan. Di sisi lain, ada pula kelompok yang dekat dengan kiri. Namun, hal itu tidak menghalangi Fadli untuk berkawan dengan Budiman maupun aktivis kelompok mana pun. ’’Saya, meski ada perbedaan dengan aktivis PRD, tetap bisa berkomunikasi,’’ ucapnya.

Menurut Fadli, perbedaan politik tidak perlu disikapi serius. Hal yang lebih penting adalah tujuan perbedaan politik itu sendiri. Selama semua memiliki cita-cita yang sama untuk kepentingan nasional atau kemajuan bangsa, seharusnya tetap bisa menjaga hubungan. ’’Ibaratnya dalam rumah tangga saja yang dekat ada perbedaan. Apalagi dengan orang yang tidak ada hubungan darah. Apalagi dalam politik. Biasa saja,’’ ungkapnya, lantas tertawa.

Begitu pun Budiman. Dia tidak pernah mempermasalahkan perbedaan posisi politik. Dia sangat menghargai perbedaan argumen. Meski dia sebenarnya tidak setuju. Dia mengatakan baru mempermasalahkan jika ada yang menjalankan politik dengan membodohkan diri.

Dengan memegang jabatan sebagai wakil ketua DPR, menurut Budiman, Fadli seharusnya juga bisa jauh lebih baik dari apa yang terlihat oleh publik saat ini. ’’Dia punya semua prasyarat untuk ngomong tentang politik yang cerdas,’’ lanjut anggota Fraksi PDIP di DPR RI itu.

Menurut Budiman, Fadli punya begitu banyak referensi untuk memperluas wawasan politiknya. Juga, tentu punya posisi penting dalam sistem ketatanegaraan yang memungkinkan Fadli untuk menyampaikan idenya dengan lebih baik.

Hingga kini, politikus kelahiran Cilacap itu tidak putus komunikasi dengan Fadli. Juga, dengan aktivis lainnya. Budiman juga tidak pernah mempersoalkan perbedaan-perbedaan pandangan politik yang terjadi antara dirinya dan Fadli.

Fadli Zon-Budiman Sudjatmiko: Dulu Teman Dekat, Kini Lawan Debat
Budimann Sudjatmiko (Dok. Jawa Pos)

Perjuangan Mahasiswa

Persahabatan dua tokoh itu tidak bisa terlepas dari perjuangan mahasiswa. Mereka memiliki penilaian yang berbeda tentang perjuangan tersebut. Menurut Budiman, semangat perjuangan mahasiswa 98 seharusnya masih relevan diterapkan sampai sekarang, tetapi menggunakan konsep. Bukan sekadar analisis.

Karena itu, seharusnya yang diperjuangkan Fadli saat ini masih relevan dengan perjuangan pada 1998. Yang penting harus tetap berpegang pada teori dan konsep. Bukan sekadar analisis orang awam. ’’Karena dia (Fadli) intelektual, master,’’ tambahnya. Hal itu penting untuk melengkapi atribusinya di dunia politik.

Sebagai alumnus Inggris, menurut Budiman, Fadli tahu betul bagaimana gaya parlemen Inggris dalam berdebat. Argumennya tajam, tetapi cerdas. Tipikal itulah yang seharusnya diadopsi dan dibawa ke Indonesia.

Sementara itu, Fadli menilai setiap zaman pergerakan memiliki tantangan yang berbeda. Gerakan pemuda pada 1928 memiliki fondasi yang luar biasa bagi pergerakan selanjutnya. Prinsip yang utama dalam pergerakan nasional adalah mencari banyak persamaan di antara banyaknya perbedaan yang muncul. ’’Persoalan itu sebenarnya selesai sejak 90 tahun lalu. Nah, tantangan berikutnya yang berbeda-beda,’’ katanya menegaskan.

Jika pada masa Orba tantangan yang muncul adalah menggerakkan reformasi, saat ini tantangan pergerakan pemuda, terutama mahasiswa, merupakan kemampuan untuk tetap kritis. Menurut Fadli, mahasiswa saat ini dituntut untuk tetap menjaga independensi agar tidak menjadi alat politik atau bahkan diperalat. Meski hal tersebut sulit dihindari dalam situasi riil. ’’Mestinya mahasiswa sekarang lebih well-equipped dengan data-data. Sebab, saat ini segala sesuatu bisa diakses dengan media sosial, internet,’’ jelasnya. 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (bay/byu/c15/eko)

Fadli Zon-Budiman Sudjatmiko: Dulu Teman Dekat, Kini Lawan Debat