alexametrics

Mengukur Dampak Serangan Terorisme di Era Jokowi

26 Januari 2019, 08:40:00 WIB

JawaPos.com – Isu terorisme menjadi pembahasan dalam debat capres pertama, pada Kamis (17/1). Melihat dari isu itu, Pengamat intelijen Universitas Indonesia (UI) Nuruddin Lazuardi berpendapat, Jokowi tidak memiliki janji spesifik dalam bidang bidang tersebut.

Jika tetap mengukur sejauh mana dampak serangan terorisme, menurut Nuruddin, masyarakat dapat membandingkan kasus serupa di era Jokowi dengan yang sebelumnya. Apakah menurun atau naik.

“Sarangan teror empat tahun ini meningkat atau tidak? Simple saja. Apakah ada serangan teroris? Kalaupun ada, dampaknya seberapa besar?” ujar Nuruddin dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Sabtu (26/1).‎

Lebih jauh dia mengatakan, untuk melihat dampak terorisme perlu dilihat jumlah korban dan efek kecemasan yang ditimbulkan. “Coba bandingkan dengan lima atau sepuluh tahun sebelumnya. Saya tidak bisa mengatakan ukurannya, tapi kita bisa merasakan,” imbuhnya.

Dia menyebut, sebelum Jokowi pelaku teror kerap menggunakan bahan-bahan yang memiliki daya ledak besar. Bahan itu disinyalir mudah masuk dan beredar di kalangan masyarakat.

“Bandingkan dengan bom yang ada sekarang ini, yang kemarin-kemarin meledak. Bahan-bahan apa? Intelejen tidak melihat bagaimana bom itu dibuat, meledak seperti apa dan di mana. Tetapi intelijen melihat bahwa suplai peredaran bahan untuk membuat bom itu seolah-olah mati, hilang,” katanya.

Di sisi lain, Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Adi Prayitno menilai, tingkat kepuasan public terhadap Jokowi terbilang tinggi di semua sektor. Baik di sektor infrastruktur, pertanian, hingga maritim.

Dia menyebut tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi sekitar 70 persen. Meski demikian, hasil survei terkadang tidak sejalan dengan kenyataan.

Dia menemukan adanya ketimpangan antara popularitas dengan elektabilitas Jokowi. Untuk elektabilitas Jokowi saat ini berkisar 54 persen. Jomplangnya popularitas dan elektabilitas Jokowi menunjukkan hati masyarakat terbelah.

Jika menggunakan perspektif pemilih rasional, Jokowi dinilai akan sangat mudah menang karena puas kepada Jokowi. “Tapi kenapa jika ditanya 70 persen ini yang muncul hanya 54 persen. Itu artinya ada hati yang kemudian menjadi preferensi pilihan. Mungkin yang 20 persen tak memilih Pak Jokowi karena dipengaruhi isu hoaks dan sebagainya. Ini yang kemudian yang menjadi perang bersama,” pungkasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Gunawan Wibisono

Mengukur Dampak Serangan Terorisme di Era Jokowi