alexametrics

Megawati Ngaku Ada yang Bisik-bisik Kalau Sri Mulyani itu Pelit

25 November 2019, 20:17:28 WIB

JawaPos.com – Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri meminta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani agar tidak pelit mengucurkan dana untuk kepentingan kemanusiaan. Presiden ke-5 itu bahkan rela berkali-kali mengucap kalimat ‘nyuwun sewu’ kepada Sri Mulyani.

Nyuwun sewu adalah bahasa Jawa yang maknanya adalah kerendahan hati untuk meminta sesuatu. Kalimat itu digunakan untuk memohon secara halus agar Sri Mulyani tak pelit-pelit mengeluarkan dana negara bila menyangkut kemanusiaan dan nasib rakyat.

Megawati menyampaikan itu pada acara penganugerahan ‘Tokoh Pelopor Penguatan dan Modernisasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk Kemanusiaan dan Lingkungan’ di kantor BMKG Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (25/11). Menkeu Sri Mulyani pun hadir dalam acara tersebut.

Megawati terlebih dahulu bercerita saat kunjungannya ke BMKG Tiongkok. Di sana, dia mendapatkan demo kecanggihan teknologi negeri itu dalam mendeteksi gempa serta penyebaran informasinya ke masyarakat.

“Saya diminta hentakkan kaki kuat-kuat. Lalu alarm bunyi dan tiba-tiba semua alat di situ hidup. Ternyata kuatnya hentakan kaki saya itu 8,7. Jadi untuk Ibu Sri (Menkeu,red). Saya nyuwun (minta) agar bisa seperti di RRT,” kata Megawati.

Dia pun berharap Indonesia bisa memiliki teknologi secanggih itu. Supaya ketika bencana datang bisa diantisipasi. “Kapan kita punya yang begini? Ini saya kayak cerita 1001 malam. Jangan kalau sudah kejadian, baru orang-orang gugup tak jelas,” tambahnya.

Megawati sempat mempertanyakan teknologi tersebut. Namun tak mendapat jawaban dari pemerintah Tiongkok. Maka sesampainya di Indonesia, dia langsung mencari seorang ahli.

Selanjutnya seorang ahli teknologi dari ITB menjelaskan kecanggihan teknologi itu, kuncinya adalah satelit. Ahli tersebut kemudian menyarankan kepada Megawati agar memindahkan lokasi satelit Indonesia ke atas wilayah katulistiwa dari yang sebelumnya ada di kutub.

“Saya langsung bertanya berapa harga satu satelit. Ini mumpung ada Bu Ani (Sri Mulyani, Red). Saya nyuwun (minta, red) lah. Enam Menit itu berharga dan kita sayang nyawa. Katanya harganya Rp 1,4 triliun. Saya bilang, why not kalau itu bisa menolong banyak nyawa manusia,” kata Megawati.

“Jadi tolong dihitung. Kalau mungkin dikerjasamakan dengan siapa gitu. Karena ini untuk kemanusiaan dan rakyat kita,” tambahnya.

Megawati lalu berbicara panjang lebar soal bagaimana Indonesia harus meniru Jepang dalam menghadapi bencana alam. Dimintanya agar pelajaran siaga bencana masuk ke dalam kurikulum pendidikan.

Karena Jakarta juga dibayang-bayangi oleh gempa bumi berskala besar. Oleh karena itu butuh sarana penunjang untuk menghadapi bencana ini apabila sewaktu-waktu datang. Salah satunya yang dibutuhkan yakni brigade pemadam kebakaran yang siap menangani bila prediksi bencana alam itu menjadi kenyataan.

“Tolong ke menteri, kalau ada seser-seser gitu. Nyuwun sewu loh. Ada yang bisik-bisik, Ibu (Sri Mulyani, red) menkeu ketat, apa pelit, saya tidak tahu. Coba tanya saja ke orangnya sendiri. Nyuwun sewu loh bu,” tutup Megawati.

Sebelumnya, BMKG menganugerahkan kehormatan Tokoh Pelopor Penguatan dan Modernisasi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk Kemanusiaan dan Lingkungan kepada Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri. Acara digelar di Auditorium BMKG Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (25/11).

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, lembaganya saat ini bisa memberikan peringatan dini tsunami paling lama 2 menit atau 120 detik setelah gempa terjadi. Kondisi ini berbeda jauh jika dibandingkan pada 2004 lalu. Di mana saat bencana tsunami di Aceh dan Nias terjadi, kemampuan BMKG memberikan peringatan tsunami mencapai dua jam atau 7200 detik.

“Sebelumnya kemampuan kami di 2004 itu, kemampuan kami adalah dua jam. Saat itu tsunami Aceh,” kata Dwikorita.

Dia menilai, kondisi ini terjadi tak lepas atas peran Megawati saat menjadi Presiden. Dia memutuskan mengubah BMKG menjadi badan tersendiri di bawah komando presiden.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Sabik Aji Taufan


Close Ads