JawaPos Radar

Demul Ajak Nobar Film G30SPKI, Begini Respons Anak Buah Mega

25/09/2018, 17:32 WIB | Editor: Estu Suryowati
Demul Ajak Nobar Film G30SPKI, Begini Respons Anak Buah Mega
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (2/7). (Issak Ramadhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mengeluarkan ajakan untuk nonton bersama film Pengkhianatan G30S PKI. Rencananya acara ini akan dilaksanakan pada 29 atau 30 September 2018, tepat pada peringatan ke-53 tahun peristiwa itu terjadi.

Menanggapi itu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ahmad Basarah meminta agar bangsa ini tidak hanya disuguhi dengan tontonan berbau konflik. Menurutnya, harus ada perimbangan dengan tayangan bernarasi persatuan dan kesatuan.

"Janganlah, khususnya generasi muda, dicekoki dengan narasi sejarah konflik pendahulu bangsa saja. Tapi, harus ada keseimbangan. Tampilkan juga narasi sejarah tentang Indonesia menggalang persatuan," ujar Basarah di Museum Kebangkitan Nasional, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (25/9).

"Biarkan publik menggunakan nalarnya. Kalau Indonesia dipertontonkan perpecahannya kira-kira masyarakat di bawah ini akan mengambil contoh seperti apa?" sambungnya.

Meski demikian Wakil Ketua MPR RI itu tidak melarang adanya pemutaran film Pengkhianatan G30S PKI tersebut. Hanya saja dia menyarankan diputar juga film-film bernarasi kesatuan bangsa sebagai penyeimbangnya. Sehingga masyarakat dapat mencerna setiap tayangan dengan baik.

"Sebagai sebuah pilihan ya monggo (nonton film itu). Tapi, demi keadilan generasi bangsa hadirkankah narasi sejarah bahwa selain sejarah konflik, pendahulu bangsa kita telah mengajarkan kesatuan bangsa Indonesia," terangnya.

Saran dari Basarah, film-film sejarah yang dianggap layak ditonton harus memenuhi beberapa syarat. Seperti objektivitas tayangan, hingga manfaat bagi penonton setelah menyaksikan tontonan tersebut.

"Pertama kalau itu film sejarah, tampilkan yang objektif. Jangan menampilkan film sejarah hanya satu sisi. Sehingga sejarah itu jadi cenderung kurang objektif. Kedua, bicara sejarah hikmah apa sih yang mau diambil," pungkasnya.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up