alexametrics
Pilpres 2019

Elektabilitas Jokowi Menurun, Poros Ketiga Bisa Gerus Suara Petahana

24 Juli 2018, 00:45:17 WIB

JawaPos.com – Waktu pembukaan pendaftaran pasangan calon presiden (capres) dan wakil presiden (wapres) menyisakan sekitar dua pekan lagi. Namun, sejauh ini baru memunculkan dua kubu. Poros ketiga yang digadang-gadang pun masih diyakini masih bisa muncul.

Direktur Riset Median Sudarto mengatakan, jika Pilpres 2019 menghadirkan tiga pasangan calon (paslon), justru dapat merugikan capres petahana Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya, suara pemilih dapat pecah dan pilpres akan berjalan dua putaran. 

“Bisa juga menurut saya merugikan Jokowi kalau 3 paslon, yang jelas kalau 3 calon Pak Jokowi kerja 2 kali,” ujar Sudarto di Rumah Makan Bumbu Desa Cikini, Jakarta Pusat, Senin (23/7).

Dengan skenario tiga paslon disebut akan menghilangkan banyak suara Jokowi. Sebab pemilih akan memiliki opsi lebih dalam memilih paslon capres dan cawapres.

Jika pemilih tidak kerasan memilih Jokowi dan Prabowo maka suara akan jatuh ke paslon ketiga. Begitu pula saat pemilih tidak suka dengan Jokowi maupun paslon ketiga, maka pilihan bisa jatuh ke Prabowo sebagai paslon kedua.

“Ketika ada 3 paslon itu bisa banyak suara yang tidak kembali ke Jokowi. Misal, masyarakat nggak suka sama Jokowi dan Prabowo, suara akan ke Anies (sebagai paslon ketiga),” jelas Sudarto.

Sementara itu keuntungan akan mengarah ke Jokowi jika Pilpres hanya dua paslon. Bagi para pemilih yang tidak suka dengan Jokowi dan Prabowo, maka kemungkinan besar pemilih akan menjatuhkan pilihan kepada incumbent.

“Kalau dua calon misalnya, nggak suka sama Jokowi dan Prabowo maka suara akan kembali ke Jokowi,” pungkasnya.

Sementara itu terkait elektabilitas, Jokowi dan Prabowi Subianto masih mendominasi. Namun kali ini, petahana yang notabene sebagai capres petahana, tren elektabilitasnya sedikit menurun. Sedangkan calon pesaingnya Prabowo mengalami kenaikan.

Direktur Riset Median Sudarto mengatakan, penurunan elektabilitas Jokowi tidak begitu besar, hanya berkisar 0,5 persen dari survei bulan Juni sebesar 36,2 persen. Sedangkan Prabowo naik sekitar 2 persen.

“Elektabilitas Jokowi turun 0,5 persen dari survei bulan Juni sebesar 36,2 persen. Prabowo trennya naik dari survei lalu sekitar 20-an persen, sekarang 22,6 persen,” ungkap Sudarto di Rumah Makan Bumbu Desa Cikini, Jakarta Pusat, Senin (23/7).

Menurunnya elektabilitas Jokowi karena beberapa hal. Seperti sentimen masalah ekonomi yang belakangan meningkat dan berkembangnya politik identitas.

“Pemerintah Jokowi punya dua problem besar. Pertama masyarakat tidak yakin Jokowi di akhir masa jabatannya bisa menyelesaikan permasalahan ekonomi. Kemudian ada politik identitas yang menguat jelang pilpres,” lanjut Sudarto.

Sementara itu, meningkatnya elektabilitas Prabowo disebabkan karena sentimen negatif yang tengah mendera Jokowi. Selain itu, stigma negatif terhadap mantan Danjen Kopassus itu trennya menurun.

“Sentimen negatif ke Prabowo menurun, kalau bulan lalu sentimen ke Prabowo tinggi misalnya disebut arogan, statement-statement-nya kontroversial, pidatonya terkesan marah-marah saat ini mulai menurun,” tandasnya.

Sebagai informasi, dalam melakukan survei ini, Median melibatkan 1.200 responden yang tersebar di seluruh provinsi se-Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan dengan sistem multistage random sampling, dengan margin of error 2,9 persen. Survei dilakukan pada rentang 6-15 Juli 2018.

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (ce1/sat/JPC)



Close Ads
Elektabilitas Jokowi Menurun, Poros Ketiga Bisa Gerus Suara Petahana