alexametrics

Rekonsiliasi Masih Buntu, Ketua BPN: Pak Prabowo Setia

24 April 2019, 18:51:36 WIB

JawaPos.com – Rekonsiliasi antara kedua kubu yang bertarung di pemilihan presiden masih menemui jalan buntu. Kubu paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menolak lantaran masih fokus memantau hasil rekapitulasi suara Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai 22 Mei 2019.

Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Djoko Santoso mengaku bersyukur Prabowo telah menolak utusan yang dikirimkan oleh Joko Widodo (Jokowi). Adapun utusan Jokowi yang dimaksudkan adalah Luhut Binsar Pandjaitan (LBP).

“Syukur alhamdulillah Pak Prabowo menolak utusan-utusan itu. Pak Prabowo setia kepada kita semua dan kita harus setia kepada Prabowo-Sandi,” kata Djoko Santoso saat menghadiri acara syukuran kemenangan di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Rabu (24/4).

Djoksan, sapaan akrabnya, menyatakan BPN masih fokus untuk memenangkan Prabowo-Sandi di pilpres 2019. Pasalnya berdasarkan hasil penghitungan real count internalnya, pasangan calon nomor urut 02 unggul dengan perolehan 62 persen.

“Pernyataan Prabowo menang 62 persen itu adalah titik yang nggak bisa kembali. Untuk itu kita harus siap berjuang. Ingat, tidak ada kompromi. Sejarah mengajari kita kenapa Indonesia merdeka? Karena dalam perjuangannya non cooperation artinya tidak ada kompromi,” tuturnya.

Atas dasar itu, Djoksan mengajak seluruh relawan dan simpatisannya berjuang untuk menegakan keadilan. Apalagi selama masa pemilu kali ini, pihaknya menuding banyak kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif.

“Jangan terprovokasi, jangan terpancing. Kita tetap menginginkan kedamaian. Tetapi damai itu satu proses akibat dari satu sebab. Kalau dalam pemilu itu prosesnya tidak jurdil, maka kita tuntut jujir dan adil,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anggota TKN Jokowi-Ma’ruf, Eva Kusuma Sundari mengaku khawatir atas penolakan rekonsiliasi dari kubu Prabowo-Sandi. Menurutnya, alasan penundaan rekonsiliasi lantaran belum ada urgensinya tidak bisa diterima.

Editor : Imam Solehudin

Reporter : Igman Ibrahim