alexametrics

MUI: Polisi Perlu Tindak Tegas Provokator Kerusuhan di Ibu Kota

23 Mei 2019, 09:13:05 WIB

JawaPos.com – Aparat keamanan masih terus berjibaku dengan aksi massa yang melakukan aksi di depan Kantor Bawaslu. Para provokator dari aksi itu juga telah diamankan petugas kepolisian.

Menanggapi hal itu, ‎Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh, mengatakan masyarakat perlu mengingatkan kewaspadaan terhadap upaya-upaya provokasi selama bulan Ramadan.

Karena, ulah provokator dapat memicu tindak kekerasan dan perilaku anarkistis serta mencederai kesucian bulan Ramadan. “Bulan Ramadan adalah bulan suci. Setiap muslim wajib memelihara kesucian Ramadhan,” ujar Niam dalam keterangan ‎tertulis yang diterima JawaPos.com, Kamis (23/5).

Niam melanjutkan, Komisi Fatwa MUI meminta semua pihak untuk mewaspadai adanya provokasi yang merusak kerukunan dan persaudaraan sesama umat Isla. Termasuk kerukunan sesama anak bangsa dan sesama anak manusia.

Masyarakat yang menyampaikan aspirasi harus dalam koridor hukum dilakukan secara santun dan mewaspadai adanya infiltrasi serta provokasi yang merusak. “Sehingga aparat perlu tegas menindak provokator,” tegasnya.

Jika ada tindakan anarkis yang dilakukan mencederai kesucian Ramadan hukumnya adalah haram. Atas dasar itu, kata dia, Komisi Fatwa MUI mengimbau masyarakat untuk menjaga kondusivitas dan kedamaian.

Komisi Fatwa MUI, lanjut dia juga mengimbau aparat penegak hukum untuk melakukan langkah persuasif dalam menghadapi masyarakat yang menyampaikan aspirasi. Selain itu aparat juga tidak memberikan toleransi terhadap pelaku kekerasan dan anarki.

“Perlu langkah preventif agar kekerasan tidak meluas eskalasinya. Aparat dan umat Islam perlu mencegah potensi kekerasan sekecil apapun untuk menjamin kemaslahatan bangsa,” ungkapnya.

Ratusan Perusuh Ditangkap

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono (kedua kanan) didampingi jajaran terkait menunjukan barang bukti kasus kerusuhan pada 22 Mei dini hari di Polda Metro Jaya, Jakarta (22/5) malam. Polda Metro Jaya mengamankan 257 orang terkait aksi rusuh pada 22 Mei dini hari tadi dari tiga lokasi, dari ketiga TKP tersebut polisi mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya bendera hitam, molotov, uang hingga amplop dan lain-lain. FOTO: SALMAN TOYIBI / JAWA POS

Polda Metro Jaya menangkap ratusan yang diduga terlibat keributan di Ibu Kota pada 21 dan 22 Mei 2019. Polisi membeberkan apa saja yang para pelaku lakukan di tiga titik berbeda yaitu di depan Gedung Bawaslu RI, Petamburan, dan Gambir. Hal ini terungkap karena 257 perusuh sudah diinterogasi di Mapolda Metro Jaya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menyebut perusuh di depan Gedung Bawaslu RI melawan petugas yang melalukan pengamanan di sana. Mereka juga merusak bahkan memaksa masuk ke Gedung Bawaslu RI.

“Di Bawaslu ditangkap karena yang bersangkutan melawan petugas yang sedang bertugas. Kemudian juga melakukan perusakan dan memaksa masuk ke Bawaslu,” kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Rabu (22/5).

Kemudian, untuk di kawasan Petamburan massa melakukan penyerangan Asrama Brimob. Massa bahkan membakar kendaraan operasional yang ada di sana. “Di Petamburan, pembakaran mobil dan penyerangan asrama,” ujarnya.

Lalu, untuk di lokasi yang terakhir yakni di kawasan Gambir, massa coba menyerang Asrama di Polsek Metro Gambir berikut Mako Polsek Metro Gambir. Beruntung kejadian tak sampai bernasib seperti di Asrama Brimob kawasan Petamburan. “Di Gambir, penyerangan asrama di Gambir dan Polsek Gambir,” ujar dia lagi.

Argo menyebut mereka diamankan dari tiga lokasi berbeda. Pertama di kawasan depan Gedung Bawaslu RI, kedua di Kawasan Petamburan, dan ketiga di kawasan Gambir. “Dari tiga TKP (Tempat Kejadian Perkara) itu, setelah kita lakukan penangkapan terhadap sekelompok massa ini ada 257 tersangka yang membuat kerusuhan,” kata Argo.

Dia menyebut jumlah di tiap titik berbeda. Di Bawaslu RI ada 72 orang, di Petamburan paling banyak dengan jumlah 156 orang, sementara di Gambir ada 29 orang. “Yang bersangkutan dikenakan Pasal 170 KUHP dan Pasal 212, 214, 218. Untuk yang di Petamburan ada Pasal 187 yaitu pembakaran,” pungkasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Gunawan Wibisono