JawaPos Radar | Iklan Jitu

Polemik Lahan di Pusaran Kekuasaan

Dekan UNAS Tantang Jokowi Buka-Bukaan Data Lahan Milik Konglomerat

22 Februari 2019, 00:45:43 WIB
Jokowi
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) ditantang untuk buka-bukaan data soal penguasaan lahan milik konglomerat di negeri ini. (Issak Ramadhani/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Juru Bicara Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ahmad Riza Patria mengapresiasi pernyataan wapres Jusuf Kalla soal lahan prabowo. Pasalnya, itu demi menyelamatkan lahan negeri ini dari penguasaan asing.

“Pak JK ini orang yang bijaksana, orang yang obyektif, dia bicara apa adanya. karena waktu itu Pak JK juga yang bilang ke Pak Agus Martowardoyo, jangan kasih ke yang lain, kasih ke pribumi,” ucap Riza.

Menurut Riza, alih-alih melanggar hukum, justru Prabowo telah menyelamatkan aset negara yang justru mau diambil alih oleh asing, karena lahan itu termasuk kredit macet yang ditangani BPPN lalu ke Bank Mandiri. 

“Itu justru mau diambil alih asing, karean ada Singapura yang minat, ada Malaysia, bahkan ada Inggris. Pak Prabowo itu artinya dia mengambil alih masalah dan menyelesaikan masalah saat itu. negara kan cukup kekurangan liquiditas pada saat itu USD 150 juta,” papar Riza.

Karena itu menurutnya, Indonesia butuh pemimpin seperti Prabowo, yang tidak hanya mementingkan kelompok golongan pribadi keluarga, tapi kepentingan bangsa, dan kepentingan rakyat. “Saya pikir itu jelas, itu namanya nasionalis patriotik,” tutup dia.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Universitas Nasional (UNAS), Ismail Ramadan menilai, pernyataan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto soal lahan HGU yang dimilikinya sah dan tidak melawan hukum.

“Pernyataan Pak JK soal kepemilikan lahan oleh Pak Prabowo, terkait pernyataan Jokowi saat debat capres sesi kedua itu menujukkan bukti bahwa lahan yang dimiliki oleh Prabowo itu sah dan cara kepemilikannya tidak melawan hukum,” ujar Ismail di Jakarta, Kamis (21/2). 

Menurut Ismail, meskipun Jokowi mempermasalahkan kepemilikan lahan tersebut oleh Prabowo, dan ingin menguji apakah sudah sesuai dengan jalur undang-undang yang benar atau tidak, tentu harus dibuktikan secara hukum yaitu melalui putusan pengadilan.

“Bukan dengan cara menuduh tanpa ada konfirmasi atas kebenaran kepemilikan lahan tersebut oleh Pak Prabowo,” tegas dia. 

Sebab, kata Ismail, masyarakat bisa bertanya dan curiga apa maksud dan tujuan di balik pertanyaan Jokowi tersebut, dan patut dicurigai jangan-jangan Jokowi bertujuan mendiskriditkan Prabowo di depan publik dengan pernyataan tanpa bukti yang kuat. 

“Jika ini yang terjadi maka konsekuensinya Pak Jokowi bisa dijerat dengan peraturan KPU soal kampanye,” jelas Ismail.

Dia menegaskan, jika kemudian Jokowi mempermasalahkan besaran atau luas lahan yang dimiliki oleh Prabowo, pertanyaannya yang akan muncul lagi adalah mengapa Jokowi tidak mempermasalahkan kepemilikan lahan yang sangat besar juga oleh para pendukung Jokowi.

Menurut beberapa sumber, Ismail menyatakan, ada 29 konglomerat menguasai lahan 5,1 juta hektar, sama dengan hampir setengah Pulau Jawa luasnya. Tantangannya sekarang, apakah Jokowi sebagai Presiden nerani membuka ke publik terkait data rinci kepemilikan lahan di Indonesia, sebab sampai hari ini pemerintah masih menutupi akses informasi terkait kepemilikan lahan dengan dalih hak privasi.

"Rakyat tentu ingin mengetahui secara detail siapa nama-nama pemegang HGU beserta luas wilayah yang dimiliki oleh para konglomerat itu," ujarnya.

Karena, jika pemerintah sekarang ini ingin menertibkan kepemilikan lahan utuk kepentingan rakyat, maka konsekuensinya adalah Jokowi harus membatasi kepemilikan lahan yang dikuasai oleh para pengusaha terutama pengusaha taipan yang sangat benyak menguasai lahan di Indonesia.

Ismail pun menantang Jokowi untuk berani melakukan hal tersebut, terlebih lagi Jokowi sudah menyatakan dengan tegas bahwa dirinya tidak takut dengan siapapun. 

“Yang ditakuti Jokowi hanya Allah. Oleh karena itu mari kita buktikan pernyataan Pak Jokowi tersebut apakah benar dia hanya takut kepada Allah saja, tidak takut pada pemilik modal?” tegasnya. 

Editor           : Dimas Ryandi
Reporter      : Sabik Aji Taufan

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini