alexametrics

Wiranto Sejajarkan Penyebar Hoaks dengan Teroris, DPR: Jangan Ngawur

21 Maret 2019, 11:37:49 WIB

JawaPos.com – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto menyebut pelaku hoaks tidak ubahnya seperti teroris. Karena kabar palsu yang diciptakan bisa menimbulkan ketakutan.

Namun, pernyataan Wiranto itu dinilai Anggota Komisi III DPR, Nasir Djamil ngawur dan berlebihan. Bahkan, ia menyarankan mantan ketua umum Hanura itu ‎membaca kembali UU Terorisme. Hal itu dilakukan supaya mengerti antara pelaku teror dengan hoaks.

“Jangan ngawur. UU terorisme bukan untuk penyebar hoaks. Karena hoaks itu muncul dari kegagalan negara memberikan edukasi dan literasi serta ketiadaan teladan dari para penyelenggara negara,” ujar Nasir saat dihubungi, Kamis (21/3).

Menurut Nasir, hoaks itu dapat dijerat dengan UU ITE dan juga KHUP. Bahkan, ia meyakini, hoaks itu akan hilang kalau pemimpin dan masyarakatnya jujur. Sebab, berita bohong itu tidak mendapat tempat alias tak laku di negara yang mayoritas penduduknya cerdas dan jujur. 

“Hoaks akan subur kalau penyelenggara negaranya bermental korup dan tidak mengetahui masalah yang sebenarnya yang dihadapi oleh bangsa ini,” katanya.

Nasir juga menambahkan, selama membahas UU Terorisme dirinya dan rekan-rekannya di komisi hukum DPR, tidak pernah berpikir bahwa penebar hoaks bisa dipidana dengan UU Terorisme. 

Sehingga Nasir menduga, maksud Wiranto yang menyebutkan bahwa penyebar hoaks seperti pelaku teror. Maksudnya sama-sama bisa menerbarkan ancaman.

“Mungkin yang beliau maksud hoaks itu bisa membuat orang menjadi takut. Biasanya hoaks itu marak menjelang perhelatan politik, baik pileg, pilpres mauapun pilkada,” katanya.

‎Sebelumnya, Menko Polhukam Wiranto menyikapi serius maraknya penyebaran hoaks. Dia bahkan menyamakannya dengan aksi teror karena dampaknya menimbulkan ketakutan pada rakyat.

Wiranto lantas menyejajarkan penyebar hoaks dengan pelaku terorisme. Dampak hoaks misalnya, bisa membuat warga tidak ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk mencoblos karena ada rasa takut akibat kabar bohong yang tersiar.

Wiranto mencontohkan, ada isu yang menyebarkan bahwa pemilu akan berjalan tidak aman, sehingga orang-orang merasa khawatir dan memilih pergi ke luar negeri. Hal itu berpotensi membuat hak pilih seseorang menjadi tidak tersalurkan. 

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Gunawan Wibisono

Copy Editor :

Wiranto Sejajarkan Penyebar Hoaks dengan Teroris, DPR: Jangan Ngawur