alexametrics

Buka JQH NU, Menag Titip Empat Pesan untuk Ulama

20 Mei 2019, 21:29:00 WIB

JawaPos.com – Pengurus Pusat Jamiyyah Qurro’ wal Huffadh (JQH) Nahdlatul Ulama (NU) mengadakan Konferensi Alquran. Acara yang digelar di Hotel Sriwijaya Jakarta 21-22 Mei 2019 itu dibuka oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin.

Pada kesempatan tersebut, Lukman menyampaikan bahwa titik fokus Presiden Jokowi periode kedua ini adalah pembangunan Sumber Manusia. Menurut Lukman Pemahaman terhadap kandungan Alquran memiliki tingkat urgensi dan relevansi yang tinggi dengan kebutuhan bangsa saat ini.

Karena, lanjutnya, sebanyak apapun akademisi, ilmuwan dan para ahli yang nanti akan dilahirkan oleh sejumlah lembaga pendidikan di Indonesia, itu akan nyaris tidak memiliki arti jika tidak memiliki pemahaman agama yang benar.

“Apalagi kita merasakan gejala fenomena akan adanya jalan pintas dalam memahami Islam, termasuk mempolitisasi agama,” imbuh Lukman.

Oleh karena itu, dirinya ingin menitipkan empat hal kepada ulama di negeri ini. Pertama, umat Islam Indonesia harus disadarkan bagaimana menerjemahkan dan menafsirkan ayat-ayat Alquran. Karena masih sering menghadapi kesalahpahaman seakan-akan terjemah Alquran atau Tafsir Alquran itu sendiri.

Kedua, lanjut Lukman, sebaiknya para ahli Alquran agar memberi penjelasan yang menyeluruh terkait dengan bagaimana mengkontekstualisasikan Alquran dengan realitas kekinian.

“Teks Alquran itu memiliki relevansi yang tinggi karena dia menjadi sumber rujukan utama pedoman hidup kita,” tuturnya.

Ketiga, Ahli Alquran agar mensosialisasikan kandungan Alquran, sehingga tetap memiliki relevansinya dengan kekinian. Ia berharap agar isu-isu aktual dan isu klasik bisa dirujuk sumbernya dalam Alquran.

“Misalnya relasi antara negara dengan agama, Isu gender, isu hak asasi manusia,” paparnya.

Terakhir, lanjut politikus PPP itu, mamahami Alquran itu tidak mudah, karena itu para ulama sebaiknya bisa menjelaskan kepada umat bahwa untuk menerjemahkan dan memahami Alquran itu harus bisa menguasai berbagai macam ilmu, mulai dari ilmu kaidah bahasa Arab, ilmu Balaghag, Nasikh Mansukh, Ilmu Asbabun Nuzul dan lain sebagainya.

“Tujuannya agar umat islam tidak cenderung mengambil jalan pintas dalam memahami Alquran,” pungkasnya.

Editor : Dimas Ryandi