alexametrics

Ini Penyebab Neraca Perdagangan Indonesia Terpuruk Kata Kubu Prabowo

19 Desember 2018, 22:09:33 WIB

JawaPos.com – Neraca dagang Indonesia mengalami defisit terparah sejak 2013 lalu. Pada November ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca dagang telah mencapai US$ 2,05 miliar. Hal ini terparah sejak 5 tahun lalu.

Fuad Bawazier yang juga Anggota Tim Ekonomi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menilai, defisit neraca perdagangan yang terus terpuruk dikarenakan Indonesia tidak memiliki ekspor andalan. Itulah sebabnya, pemerintah tidak mampu lagi menahan defisit.

“Defisit itu utamanya karena ekspor kita melemah. Kita tidak punya ekspor andalan, orde baru kita punya komoditas ekspor andalan dan dikawal oleh pemerintah dan itu berhasil (seperti) playwood, tekstil kita jalan. (Sekarang) Ini nggak ada,” kata Fuad dalam diskusi Rabu Biru bertajuk ‘Menilik Defisit Neraca Perdagangan, Pajak dan Kondisi Bisnis Indonesia’ di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya 35, Jakarta Selatan, Rabu (19/12).

Pemerintah saat ini, menurut dia, tidak menjalankan kebijakan ekonomi untuk menaikkan nilai ekspor serta valuta asing dengan baik. Masalah itu tidak dikawal seperti pada pemerintahan sebelumnya. Akhirnya, desifit neraca perdagangan tidak bisa dielakan lagi.

“Paket kebijakan ekonomi yang sudah bertumpuk itu, itu satu meningkatkan ekspor, satu valuta asing, cuma ini semua diatas kertas, diumumin sendiri nggak jalan,” ucap dia.

Kemudian menurutnya, kebijakan penerapan B20 atau pencampuran 20 persen minyak sawit ke solar tidak berdampak besar. Bahkan, biang kerok defisit dagang saat ini paling besar disumbamg sektor migas. Dimana impor migas per November masih bengkak dan menyumbang defisit US$ 1,5 miliar. Sepanjang Januari-November, tercatat defisit sudah mencapai US$ 12,15 miliar atau setara Rp 176 triliun.

“Untuk mengurangi neraca perdagangan makanya ada B20, itu nggak jalan, angka itu tidak pengaruh B20, kalau dikasih B20 rusak mesin kita, itu memang untuk bantu (harga) sawit yang jatuh,” kata dia.

Menurutnya, migas yang selalu menjadi biang kerok defisit neraca perdagangan dikarenakan pada saat ini masih kurang eksplorasi. Sehingga pemerintah selalu melakukan impor BBM.

“Defisit neraca perdagangan itu berkaitan dengan inpor BBM, kita konsumsi kurang 1,6 juta barel, produksi kita 750 ribu barel, orde baru kita kebalik makanya jadi anggota opec, sekarang kebalik, ini sesuatu yang salah, menurut ahli minyak anda masih banyak (sumber minyak), berarti ada kebijakan eksplorasi yang tidak menenai,” kata dia.

Selain itu, tindakan koruptif dari pejabat. Hal ini tentunya, lanjut dia, menghambat kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah. “Karena penyakit korupsi, menegakan pemerataan tidak bisa, melakukan perbaikan ekspor tidak bisa, impor ditekan tidak bisa,” pungkasnya.

Editor : Kuswandi

Reporter : (aim/JPC)



Close Ads
Ini Penyebab Neraca Perdagangan Indonesia Terpuruk Kata Kubu Prabowo