JawaPos Radar | Iklan Jitu

Moeldoko Diduga di Balik Asia Sentinel, Bamsoet: Tuduhan Tak Berdasar

19 September 2018, 13:16:50 WIB | Editor: Kuswandi
Bamsoet
Ketua DPR Bambang Soesatyo saat diwawancarai awak media (Intan Piliang/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kasus dalang di balik pemberitaan media asing 'Asia Sentinel' yang berjudul Indonesia's SBY Government: Vast Criminal Conspiracy belum juga terungkap. Partai Demokrat menduga ada Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) menjadi dalang dari isu tersebut.

Menanggapi hal itu, politikus Partai Golkar Bambang Soesatyo alias Bamsoet menegaskan, tudingan Demokrat dinilainya sangat tidak berdasar. Dia bilang, alat bukti foto yang disebarkan oleh anak buah SBY, tak bisa untuk menjadi rujukan.

"Kalau itu adalah melakukan tudingan kembali yang tidak jelas, harusnya enggak begitu sikap kita. Bersanding belum tentu juga bahwa itu punya pengaruh daripada hasil (pemberitaan) Sentinel itu," kata Bamsoet di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (19/9).

Bamsoet menambahkan, dirinya juga kerap berswafoto bersama sejumlah pejabat dan tokoh publik. Sehingga ia meminta masyarakat untuk tidak mempersepsikan foto tersebut secara berlebihan.

"Emang kalau tiba-tiba saya sebelah-sebelahan dengan Pak SBY emang saya dibilang ada apa-apa, dituding kan enggak juga. Jadi terlalu berlebihan kalau Pak Moeldoko katakanlah pihak Istana hanya gara-gara foto bersama berdampingan tiba-tiba (dituduh) itu lah penyebabnya," ungkapnya.

Di sisi lain, Bamsoet mengatakan, sebagai Ketua DPR dirinya meminta SBY untuk melaporkan hal ini kepada hukum. Apalagi, lembaganya pun telah mengeluarkan rekomendasi soal hak angket Century.

"Kita menunggu langkah SBY menarik ini ke ranah hukum. Nah terkait dengan Century, DPR sebagai inisiator hak angket Century sudah memberikan rekomendasi kepada KPK. Maka yang kita bisa lakukan adalah mendesak KPK segera menuntaskan kasus Bank Century ini jangan sampai terus menggantung dan merugikan SBY itu sendiri sebetulnya," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, dugaan keterlibatan Istana pertama kali diungkap oleh Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik. Melalui akun pribadi Twitter-nya @RachlandNashidik, anak buah SBY itu menunggah foto Moeldoko bersama co-founder media asing Hongkong, Asia Sentinel, Lin Neumann.

Dikonfirmasi, Moeldoko menjelaskan isu simpang siur yang melibatkannya dirinya tersebut.

Dia menyebut, pada Mei 2018 lalu, KSP memang tengah melakukan agenda untuk berdiskusi dengan AmCham alias American Chamber. Di saat itu pula turut hadir co-founder media asing Hongkong, Asia Sentinel, Lin Neumann.

"Bahwa saya di situ ada Sentinel‎, ada co-founder-nya Sentinel, saya juga enggak ngerti. Jadi jangan buru-buru baper, menduga begitu kan, dilihat dulu latar belakangnya seperti apa, menduga-menduga gimana," ungkap Moeldoko di Jakarta, Selasa (18/9).

Dalam pertemuan AmCham, kata Moeldoko, hanya membahas situasi politik terkini di Indonesia. Khususnya di bidang politik dan keamanan. Tidak ada pula pembahasan mengenai kepentingan politik apa pun dalam diskusi tersebut.

"Saya jelaskan perkembangan demokrasi, kematangan demokrasi di Indonesia seperti apa. Selanjutnya saya pastikan, saya sebagai mantan Panglima TNI punya naluri yang sangat kuat untuk melihat situasi ini. Saya yakinkan kepada mereka ke para pengusaha Amerika, investor agar tidak takut-takut ke Indonesia," ucapnya.

"Jadi enggak ada move politik apa pun‎. Itu hanya kepentingan KSP untuk bisa memberikan kejelasan kepada investor, para pengusaha luar yang sudah menanamkan uangnya di dalam negeri, dan kita ingin menarik investasi lain yang ingin tahu situasi negara," sambungnya.

Di samping itu, Moeldoko mengaku tak mengerti dengan tudingan tersebut. Sebab, seandainya dirinya merupakan salah satu penggerak dari kegiatan tersebut, maka tidak akan dilakukan secara terbuka.

"Kalau saya sebagai orang yang akan mengendalikan operasi intelijen kan, itu kira-kira kan operasi intelijen, bodoh banget saya terbuka begitu. Mungkin saya enggak bisa jadi Panglima TNI kan kira-kira begitu kalau saya bodoh sekali," ucapnya.

Di sisi lain, Moeldoko juga mengklaim baru mengetahui belakangan ini bahwa Lin Neumann merupakan co-founder Asia Sentinel dan ketua dari AmCham. Dia juga mengaku hanya memenuhi undangan sarapan pagi.

"Nah di situ saya juga enggak ngerti, Lien Neuwan juga saya enggak ngerti siapa, saya ketemunya juga di situ. Saya hanya sebagai undangan‎ penyampai materi. Jadi konteksnya itu, jangan nanti diubah-ubah konteksnya, 'wah Istana ada di belakang'. Nggak ada kaitanya dengan Istana," tuturnya.

Selain itu semua, dia juga membantah bahwa ada pembahasan mengenai Bank Century dari pertemuan yang berlangsung 45 menit tersebut. Dia bilang, tuduhan itu dinilai tak masuk akal.

"Saya sendiri Bank Century belum lahir kali, belum tahu ceritanya, belum tahu background-nya, saya enggak mendalami betul tentang Century, apalagi punya sentimen yang mengarah ke sana, enggaklah. Dan waktu itu saya juga masih Panglima TNI, jadi saya kurang paham Century itu," pungkasnya.

(ce1/aim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up