alexametrics

Kata Akademisi Ini, Serangan Unicorn Seperti Kisah TPID di Debat 2014

19 Februari 2019, 01:20:15 WIB

JawaPos.com – Salah satu topik yang dibahas dalam debat kedua Pilpres 2019 adalah tentang perkembangan bisnis digital rintisan atau biasa dikenal dengan startup. Salah satu yang paling menarik adalah soal pertanyaan unicorn dari capres nomor urut 01 pada Prabowo.

Dalam debat yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut, Prabowo menjawab isu unicorn itu dengan mengingatkan perlunya kewaspadaan soal mengalirnya kekayaan ke luar negeri.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC) Zaenal A Budiyono menilai, jawaban Prabowo dalam debat tersebut justru visioner karena berpikir dua-tiga langkah di depan Jokowi.

“Sepintas pernyataan ini terkesan pesimistis di tengah booming internet, padahal sebenarnya itu adalah kekhawatiran yang wajar,” ujar Zaenal dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Senin (18/2).

Pasalnya, kata Zaenal, di era digitalisasi sekarang ini, hubungan antara aktivitas ekonomi kreatif dan ownership (kepemilikan, Red) seringkali tidak linier. Banyak kajian yang menjelaskan bagaimana mainstream startup di suatu negara tidak serta-merta menyumbang keuntungan maksimal bagi negara tersebut.

“Bahkan hampir semua unicorn Indonesia juga dikuasai asing,” ujar dosen Universitas Al-Azhar Indonesia ini.

Imbasnya, dalam strategi dan pengembangan pasar, tidak lagi menjadi hak mutlak dari pengembang, melainkan justru dikendalikan oleh investor yang mayoritas pemainnya adalah asing.

“Inilah paradoks hukum pasar yang masih eksis hingga hari ini. Namun sikap waspada terhadap raksasa ekonomi luar berbeda dengan xenofobia. Sedangkan xenofobia merupakan sikap anti asing yang lebih disebabkan sentimen anti perbedaan dan cenderung bersifat irasional,” jelasnya.

Menurut Zaenal, Prabowo hanya ingin mengingatkan jangan sampai di era digital dan booming-nya startup, Indonesia hanya menjadi pasar saja. “Saya menilai capres 02 hanya ingin mengatakan bahwa jangan sampai menjadi ‘korban’ dari para raksasa kapitalisme yang rakus. Di situ poinnya,” imbuh Zaenal.

Lebih lanjut, Zaenal juga menilai pertanyaan unicorn yang dilontarkan Jokowi seperti ingin mengulang kembali kisah debat di 2014. Saat Jokowi ‘menembak’ Prabowo dengan singkatan TPID. Kala itu Prabowo tidak tahu apa itu TPID karena memang istilah ini tidak populer di media.

“Untungnya kali ini Prabowo memilih berhati-hati dengan pertanyaan Jokowi. Ia balik bertanya apakah unicorn yang dimaksud adalah terkait online (startup). Artinya ia tahu mengenai unicorn, namun tidak mau terjebak seperti 2014, sehingga ia mengonfirmasi ke Jokowi,” pungkasnya.

Patut diketahui, dalam pengertian populer, unicorn merupakan istilah atau sebutan bagi startup alias perusahaan rintisan yang perusahaannya sudah bernilai di atas USD 1 miliar atau setara Rp 14 triliun jika kurs dolar AS Rp 14.000. Saat ini Indonesia adalah sebagai negara tempat tumbuh subur bagi perusahaan teknologi rintisan. Di Asia Tenggara, ada 7 perusahaan unicorn, 4 di antaranya berada di Indonesia. Salah satunya Go-Jek.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Gunawan Wibisono

Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Kata Akademisi Ini, Serangan Unicorn Seperti Kisah TPID di Debat 2014