JawaPos Radar | Iklan Jitu

Paslon Cari Sensasi, Khawatir Seperti Pertarungan Hillary Versus Trump

18 November 2018, 05:01:06 WIB | Editor: Imam Solehudin
Pilpres 2019
Dua paslon presiden dan calon wakil presiden, Jokowi-Ma'ruf Amin serta Prabowo-Sandiaga Uno (Issak Ramadan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Masa kampanye Pemilu 2019 dianggap terlalu banyak menyuguhkan isu-isu sensasional. Seperti penggunaan diksi-diksi kontroversi seperti, tampang Boyolali, politisi sontoloyo, politik genderuwo dan lain sebagainya. Situasi ini lantas disesalkan banyak pihak.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Aji Al Farabi mengkhawatirkan iklim demokrasi Indonesia. Menurutnya hal ini bisa berdampak buruk pada Pemilu 2019.

"Kampanye ini banyak noise (gangguan), jadi banyak sensasi. Ini satu gejala yang mengkhawatirkan. Padalah kalau kita lihat pertarungnya ini bukan petarung baru. Jadi masyarakat tahu betul siapa Jokowi dan siapa Prabowo," ujar Aji di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (17/11).

Aji menuturkan bahwa pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh para calon pemimpin bangsa ini bersifat sensaional. Tidak ada makna substansif berlandaskan program yang disampaikan kepada rakyat.

"Isu-isu ini kan sifatnya sensasional, tapi dua-duanya relatif dikenal dan publik berharap adanya gagasan yang muncul dan itu yang belum kita jumpai," terangnya.

Dalam pandangannya, Aji menilai publik sudah menanti-nanti gagasan yang ditawarkan oleh kedua belah kubu. Rakyat sudah bosan dengan sensasi-sensasi yang terjadi selama ini.

Jika situasi ini terus terjadi, Aji mengkhawatirkan persaingan Hillary Clinton dan Donald Trump di pemilu Amerika bisa terulang di Indonesia. Di mana isu subtansi tertutup oleh isu-isu bernada kontroversi.

"Sama seperti di Amerika Hillary dan Donal Trump. Masifnya isu di Amerika sehingga itu membunuh agenda. Ini yang kita khawatirkan di Indonesia terjadi begitu," tukasnya.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up