JawaPos Radar

Soal Asia Sentinel, Moeldoko: Bodoh Banget Saya Terbuka Seperti Itu

18/09/2018, 16:42 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Moeldoko
Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengklarifikasi sejumlah hal yang mengaitkan dirinya dengan Asia Snentinel yang memberitaan soal 'konspirasi SBY'. (jpnn/jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Partai Demokrat terus memburu dalang di balik pemberitaan media asing 'Asia Sentinel' yang berjudul Indonesia's SBY Government: Vast Criminal Conspiracy. Partai berlambang bintang mercy itu menduga ada keterlibatan Istana presiden dalam kasus ini. 

Dugaan keterlibatan Istana pertama kali diungkap oleh Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik. Melalui akun pribadi Twitter-nya @RachlandNashidik, mengunggah foto Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko bersama co-founder media asing Hongkong, Asia Sentinel, Lin Neumann.

Lantaran foto tersebut, anak buah SBY itu menduga ada orang Istana yang terlibat dalam pemberitaan yang dinilai Partai Demokrat sebagai fitnah keji.

Moeldoko
Foto Moeldoko bersama co-founder media asing Hongkong, Asia Sentinel, Lin Neumann yang diunggah oleh Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik di akun Twitternya. (twitter rachland Nashdik)

Menanggapi itu, Moeldoko menjelaskan simpang siur isu yang melibatkan dirinya tersebut. Dijelaskannya, pada Mei 2018, KSP memang tengah melakukan agenda untuk berdiskusi dengan AmCham alias American Chamber.

"Nah, di saat itu turut hadir pula co-founder media asing Hongkong, Asia Sentinel, Lin Neumann. Saya juga enggak ngerti kalau di situ ada ‎ada co-founder-nya Sentinel. Jadi jangan buru-buru baper, dilihat dulu latar belakangnya seperti apa," ungkap Moeldoko di Jakarta, Selasa (18/9).

Dalam pertemuan AmCham tersebut, kata Moeldoko, dirinya hanya membahas situasi politik terkini di Indonesia. Khususnya di bidang politik dan keamanan. Tidak ada pula pembahasan mengenai kepentingan politik apa pun dalam diskusi tersebut. 

"Saya jelaskan perkembangan demokrasi di Indonesia, seperti apa. Selanjutnya saya pastikan, saya sebagai mantan Panglima TNI, punya naluri yang sangat kuat untuk melihat situasi ini, saya yakinkan kepada mereka ke para pengusaha Amerika, investor agar tidak takut-takut ke Indonesia," ucapnya. 

"Jadi enggak ada gerakan politik apa pun‎, itu hanya kepentingan KSP untuk bisa memberikan kejelasan kepada investor, para pengusaha luar yang sudah menanamkan uangnya di dalam negeri, dan kita ingin menarik investasi lain yang ingin tahu situasi negara," sambungnya. 

Di samping itu, Moeldoko mengaku tak mengerti dengan tudingan tersebut. Sebab, seandainya dirinya merupakan salah satu penggerak dari kegiatan itu, maka tentu tidak akan dilakukan secara terbuka. 

"Kalau saya sebagai orang yang akan mengendalikan operasi intelijen kan, bodoh banget saya terbuka begitu. Kalau bodoh, mungkin saya enggak bisa jadi Panglima TNI," ucapnya. 

Di sisi lain, Moeldoko juga mengklaim, dirinya baru mengetahui belakangan ini bahwa Lin Neumann merupakan co-founder Asia Sentinel dan juga ketua dari AmCham. Dia juga mengaku hanya memenuhi undangan sarapan pagi. 

"Nah di situ saya juga enggak ngerti, Lien Neuwan juga saya enggak ngerti siapa, saya ketemunya juga di situ, saya hanya sebagai undangan‎ penyampai materi. Jadi konteksnya itu. Jangan nanti berpikiran, wah Istana ada di belakang. Ini enggak ada kaitannya dengan Istana," tuturnya. 

Selain itu semua, dia juga membantah bahwa ada pembahasan mengenai Bank Century dari pertemuan yang berlangsung 45 menit tersebut. Dia menegaskan bahwa tuduhan itu dinilai tak masuk akal. 

"Saya enggak mendalami betul tentang Century, apalagi punya sentimen yang mengarah ke sana, enggaklah, dan waktu itu saya juga masih Panglima TNI yah, jadi saya kurang paham Century itu," pungkasnya.

(ce1/aim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up