alexametrics

Di Depan Hakim, Staf Gubernur Aceh Ngaku Diancam Dibunuh Penyidik KPK

18 Maret 2019, 14:01:56 WIB

JawaPos.com – Staf khusus Gubernur Aceh Hendri Yuzal dan Teuku Saiful Bahri mengaku mengalami tekanan saat diperiksa oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia menilai, pemeriksaan yang dilakukan di luar Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sehingga tidak sesuai fakta.

Pernyataan itu terungkap saat Ketua Majelis Hakim Saifudin Zuhri menanyakan apakah keduanya telah memberikan keterangan pada penyidik KPK tanpa paksaan. Namun, Hendri mengaku ada rasa takut saat diperiksa.

“(Keterangan) ada yang benar, ada yang tidak sesuai dengan fakta yang mulia. Waktu itu kan pemeriksaannya saya berada di bawah tekanan juga, ada rasa takut. Saya memberikan keterangan sebagian. Faktanya tidak demikian, itu setelah saya sadari beberapa saat kemudian,” kata Hendri di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (18/3).

Mendengar pernyataan Hendri, kemudian hakim Saifudin kembali menanyakan, apakah keterangan dalam BAP tersebut telah ditandatangani pada setiap halaman dan sempat dibaca Hendri. 

“Saya tidak baca secara keseluruhan kemudian waktu itu sempat tanya kepada penyidik, saya meminta ada beberapa perubahan di BAP ‘apakah saya boleh saya ubah?’. Tapi penyidik jawab silakan, itu disampaikan di persidangan saja,” ujar Hendri.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Teuku Saiful. Dia menyebut, BAP dirinya ada beberapa perubahan. “(Keterangan) yang sesuai dan ada yang belum saya perbaiki Yang Mulia. Karena saya trauma mau (diancam) dibunuh, rumah saya mau dibakar,” ujar Saiful.

Hendri dan Saiful diperiksa bersama-sama dengan Irwandi Yusuf. Ketiganya duduk di kursi pesakitan untuk dimintai keterangan terkait dugaan suap dari Bupati Bener Meriah Ahmadi.

Diketahui, Irwandi Yusuf sebelumnya didakwa menerima suap Rp1,050 miliar dari Ahmadi. Suap tersebut diberikan melalui Hendri dan Teuku Saiful.

Uang tersebut diduga diberikan agar Irwandi mengarahkan Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemerintah Aceh memberikan persetujuan terkait usulan Bupati Bener Meriah Ahmadi. Sebelumnya, Ahmadi mengusulkan kontraktor yang akan mengerjakan kegiatan pembangunan di Kabupaten Bener Meriah.

Proyek itu akan menggunakan anggaran yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) Tahun 2018. DOKA untuk Kabupaten Bener Meriah sendiri sebesar Rp108,724 miliar.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads
Di Depan Hakim, Staf Gubernur Aceh Ngaku Diancam Dibunuh Penyidik KPK