alexametrics

HNW Kaitkan ‘Jas Merah’ dan Aksi Terorisme di Selandia Baru

17 Maret 2019, 21:52:03 WIB

JawaPos.com – Ungkapan populer Bung Karno yakni jangan sekali-kali melupakan sejarah atau ‘Jas merah’ kembali digaungkan oleh Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW). Itu disuarakannya saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR yang  bekerjasama dengan Yayasan Cahaya Abadi Sejahtera.

Menurut HNW, minimnya ruang pengetahuan akan sejarah bangsanya sendiri, dikhawatirnya akan diisi dengan pengetahuan sejarah yang salah, sehingga menimbulkan pemahaman yang keliru dan pada akhirnya melakukan hal yang sangat buruk.

“Seperti kasus aksi terorisme pembunuhan jamaah dua masjid di Christchurch, Selandia Baru yang menewaskan puluhan umat muslim bahkan ada juga orang Indonesia yang meniggal,” ujarnya di Aula Pertemuan kompleks Masjid Raya Al Ittihaad, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (17/3).

HNW menuturkan, dalam aksi brutal tersebut, si teroris ternyata diketahui memiliki kebencian mendalam kepada para imigran yang disebutnya penjajah. Padahal, faktanya si pelaku itu berkebangsaan Australia dan seorang imigran juga. 

“Kita ketahui bersama, bahwa penduduk asli Australia adalah Aborigin, dan si pelaku itu yang pendatang, imigran,” paparnya.

Itulah, kata HNW, bukti bahwa pengetahuan sejarah si teroris sangat rendah sehingga apa yang diyakininya menjadi salah dan merugikan banyak orang.

“Karena itu sangat penting pemahaman dan pengetahuan sejarah yang benar sangat penting, demi menghindari kesalahan persepsi sejarah yang sangat fatal,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, diungkapkan HNW, ada juga terjadi fenomena minimnya pengetahuan sejarah tentang siapa saja elemen-elemen bangsa yang membentuk negara RI, yang menyelamatkan Pancasila dan NKRI. Antara lain fenomena Islamophobia.

Sebab, Islamophobia muncul disebabkan pemahaman yang keliru, seolah-olah tidak ada perannya umat Islam sebagai salah satu elemen besar bangsa ini dalam sejarah-sejarah penting Indonesia tersebut.

“Islamophobia juga secara sepihak, melabelkan kegiatan-kegiatan besar umat sebagai radikal, anti Pancasila dan NKRI. Padahal jika melihat sejarah umat Islam sangat mencintai Pancasila dan rela berkorban NKRI,” katanya.

Bahkan, diungkapkan HNW, kiprah umat Islam sampai ke hal-hal sederhana namun berdampak besar yakni menciptakan lagu mars perjuangan yang selalu dinyanyikan hingga kini yakni salah satunya lagu Hari Merdeka (17 Agustus) yang diciptakan Al Habib Muhammad Ibn Al Husein Al Muthahar atau dikenal dengan nama H. Mutahar.

“Lagu-lagu perjuangan gubahannya lainnya adalah lagu Hymne Syukur dan Hymne Pramuka. Bahkan, beliau juga yang memprakarsai terbentuknya Paskibraka, beliau tokoh utama kepanduan Pramuka. Beliaulah sosok yang dipercaya Bung Karno menyelamatkan Sang Saka Merah Putih yang akan dirampas penjajah,” tambahnya.

Sebaliknya, HNW juga mengingatkan, umat Islam juga harus betul-betul juga memahami sejarah bangsa dan negara. Jangan sekali-kali ada umat Islam yang membid’ah-bid’ahkan bahkan mengkafirkan Indonesia, Pancasila, UUD dan NKRI. Karean Indonesia adalah warisan perjuangan para ulama, kyai, habaib baik yang ada di organisasi dan partai Islam.

“Intinya, saya tegaskan sekali lagi, jangan sekali-kali bangsa Indonesia seluruhnya melupakan sejarah Pancasila, sejarah UUD, sejarah NKRI dan sejarah Bhinneka Tunggal Ika,” tandasnya.

Editor : Dimas Ryandi

Close Ads
HNW Kaitkan 'Jas Merah' dan Aksi Terorisme di Selandia Baru