alexametrics

Kartu di Balik Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno

16 Agustus 2018, 12:45:55 WIB

Para calon wakil presiden yang akan berlaga di Pilpres 2019 memang sudah gamblang. Namun, pertimbangan untuk memilih Sandiaga Uno di kubu Prabowo Subianto dan Ma’ruf Amin di sisi Joko Widodo tetap relevan dibahas.

DALAM sistem demokrasi langsung, kekuasaan yang ada di tangan rakyat harus diperebutkan para capres dan cawapres. Suara rakyatlah yang memberi legitimasi jabatan presiden maupun wakil presiden.

Demokrasi bak pasar politik yang merebutkan ”dagangan” suara rakyat. Di tengah kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk berdemokrasi, untuk merebut suara rakyat, diperlukan modal buat melakukan hegemoni.

Antonio Gramsci mengatakan, untuk melakukan hegemoni agar rakyat memberikan dukungan, diperlukan modal intelektual, sosial, maupun ekonomi. Modal ekonomi sangat dibutuhkan karena pilpres memerlukan biaya politik yang besar. Terutama untuk biaya kampanye dan membayar saksi-saksi.

Modal ekonomi itu juga perlu untuk ”membeli” suara rakyat. Terutama menghadapi para pemilih yang memiliki orientasi pragmatis. Di sisi lain, para pemilih tradisional membutuhkan modal sosial yang berupa sosok panutan.

Jumlah pemilih tradisional itu cukup tinggi. Terutama dari kalangan santri. Sedangkan modal intelektual dibutuhkan untuk membangun strategi kampanye yang bisa menghegemoni masyarakat.

Dari alotnya penentuan capres, tampak ada kesulitan dalam memilih modal yang akan dipakai untuk bertarung. Modal intelektual mungkin tidak terlampau jadi masalah bagi kedua kubu. Sebab, jumlah pemilih yang rasional dianggap tidak terlalu banyak.

Meraih dukungan dari pemilih rasional akan diatasi kalangan partai pendukung. Sebab, tiap kubu punya kelompok intelektual dari partai pendukung. Persoalan yang sulit tampaknya justru ada pada modal ekonomi dan sosial.

Padahal, dua hal itu justru sangat dibutuhkan dalam pemilihan presiden. Sebagian besar rakyat Indonesia beragama Islam. Juga, sebagian besar di antaranya berasal dari kalangan tradisional.

Karena itu, modal sosial amat dibutuhkan untuk menghegemoni mereka. Modal ekonomi juga menjadi pertim bangan besar lantaran cakupan wilayah Indonesia yang begitu luas. Pasti diperlukan dana besar untuk berkampanye atau membayar saksi-saksi.

Karena itu, dua modal tersebut, modal sosial dan ekonomi, harus dimiliki para kontestan serta menjadi pertim bangan dalam strategi pemenangan Pilpres 2019. Secara kultural, kelompok pemilih tradisional yang berasal dari warga nahdliyin memiliki kepatuhan terhadap para ulama.

Sebaliknya, sebagian penduduk dengan tingkat pendidikan rendah lebih berpikir pragmatis. Kondisi itulah yang menjadi bahan pertimbangan kedua kubu dalam menentukan cawapres.

Kubu Jokowi yang didukung partai-partai besar seperti PDIP, Golkar, dan Nasdem tampaknya memiliki modal intelektual dan ekonomi yang cukup kuat. Faktor itulah yang mendorong PDIP, Golkar, dan Nasdem untuk lebih memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi.

Ma’ruf Amin dipandang bisa menjadi modal sosial untuk memperoleh dukungan dari kelompok Islam. Selain menjadi figur panutan kalangan Islam tradisional, Ma’ruf Amin termasuk kiai sepuh. Beliau saat ini telah berusia 75 tahun.

Di kalangan nahdliyin, usia merupakan salah satu sumber hegemoni. Selain usia, sumber hegemoni dalam masyarakat NU adalah nasab dan penguasaan ilmu agama. Dua sumber hegemoni itu dulu dimiliki almarhum Gus Dur yang merupakan cucu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Meskipun bukan keturunan Hasyim Asy’ari, Ma’ruf Amin pernah nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hasyim Asy’ari. Ma’ruf Amin juga memiliki kapasitas dalam ilmu agama. Dia adalah doktor honoris causa dan guru besar dari perguruan tinggi Islam.

Gelar guru besar dia peroleh dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Dari kelompok partai pendukung Jokowi, khususnya partai yang berbasis Islam, Ma’ruf Amin juga bisa diterima PPP dan PKB. Sebab, di masa lalu dia pernah menjadi anggota legislatif dari dua partai tersebut.

Ma’ruf Amin juga dianggap bisa diterima alumni Gerakan 212 yang berhasil mendudukkan Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta. Latar belakang politik itulah yang mengantar kubu Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapres.

Kubu Jokowi berharap dapat menghegemoni kelompok Islam agar memperoleh dukungan umat Islam. Sebaliknya, kubu Prabowo justru meng alami masalah di modal ekonomi. Karena itu, mereka lebih memilih Sandiaga Uno yang berlatar belakang pengusaha.

Meskipun partai pendukung utamanya, PKS dan PAN yang berbasis Islam, kurang mendukungnya. Jadi, meski pada awalnya PKS ngotot untuk mengajukan cawapres dari kelompok ulama, tampaknya modal ekonomi menjadi faktor yang dipilih kubu Prabowo.

Sebab, dengan menggandeng Sandiaga Uno, diharapkan ada dukungan dana yang mumpuni untuk proses Pilpres 2019.

 

Ditulis oleh:

Prof. Warsono

Guru besar dan mantan rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (*)

Kartu di Balik Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno