alexametrics

Indonesia Harus Siap Hadapi Risiko Terburuk dari Rusia Vs Ukraina

16 Maret 2022, 19:23:57 WIB

JawaPos.com – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan, konflik Ukraina versus Rusia menuntut setiap negara mempersiapkan strategi terbaik untuk menghadapi risiko terburuk agar mampu menghadapi dampak krisis tersebut. Tak terkecuali Indonesia yang harus bisa memanfaatkan setiap potensi yang dimiliki untuk menjawab tantangan tersebut.

“Semua pendekatan untuk menghadapi dampak krisis akibat konflik kedua negara itu harus dilakukan untuk mengantisipasi risiko dari krisis di Ukraina-Rusia,” kata Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Mengantisipasi Ancaman Terhadap Ekonomi Nasional Di Balik Krisis Ukraina-Rusia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (16/3).

Di fase awal invasi Rusia ke Ukraina, menurut Lestari, sejumlah negara di beberapa terganggu keseimbangan pasokan energinya, juga gangguan rantai pasokan komoditas dan perlambatan ekonomi. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk memanfaatkan semua potensi yang dimiliki agar mampu menjawab tantangan tersebut.

“Penguatan identitas satu dalam keragaman yang kita miliki, bisa menjadi potensi yang bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan solusi dalam menghadapi dampak krisis tersebut,” ujar Rerie sapaan akrab Lestari.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu juga berharap konflik Rusia-Ukraina segera berakhir dan seluruh energi positif anak bangsa bisa dimanfaatkan sebagai modal negeri ini untuk bangkit.

Duta Besar RI untuk Polandia Periode 2014 – 2019, Peter F. Gontha berpendapat secara geografis Rusia memiliki perbatasan darat dengan banyak negara.

“Apa pun yang terjadi terhadap Rusia akan mengakibatkan dampak ekonomi terhadap banyak negara,” ujar Peter.

Karena itu, Peter sangat berharap pemerintah dapat menyikapi dampak krisis Rusia-Ukraina dengan kebijakan yang tepat, sehingga perdagangan sektor energi dan komoditas nasional dapat sepenuhnya bermanfaat bagi negara dan masyarakat luas.

Sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Rusia, menurut Peter, akan menjadi preseden bagi negara-negara yang berniat berinvestasi ke negara lain.

Di sisi lain, ungkapnya, rencana Rusia untuk melakukan serangan cyber ke pasar modal, perbankan dan perdagangan di Amerika Serikat juga akan menciptakan dampak negatif bagi negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

“Saya harap rencana Rusia ini tidak akan terjadi, tetapi Indonesia harus mewaspadai ancaman serangan cyber tersebut,” ujarnya.

CEO SAIAC untuk Asia Pasifik, Eropa, Timur Tengah & Amerika, Shaanti Shamdasani berpendapat dampak krisis Rusia-Ukraina di sejumlah sektor harus mampu dimanfaatkan oleh negara-negara ASEAN untuk mengisi gap komoditas yang terjadi.

Shaanti menyatakan Indonesia harus segera melakukan penyesuaian dalam perjanjian perdagangan dengan sejumlah negara untuk merespon berbagai perubahan akibat konflik Rusia-Ukraina.

“Kita harus optimistis, inflasi di Indonesia masih terkendali dalam 2-3 bulan mendatang, karena kondisi fundamental ekonomi nasional cukup kuat,” ujarnya.

Peneliti INDEF, Eisha Maghfiruha Rachbini sependapat jika konflik Rusia-Ukraina berkepanjangan, akan berdampak secara global. Krisis tersebut, akan menambah goncangan dari sisi permintaan dan penawaran energi dan komoditas dunia, sehingga memberi tekanan pada pemulihan ekonomi dunia pasca-pandemi.

Menurutnya, ketika permintaan Rusia dan Ukraina melemah terhadap sejumlah pasokan komoditas dan produk dari China, maka secara tidak langsung akan berpengaruh bagi negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan dengan China, termasuk Indonesia.

Ketua Koord. Bidang Kebijakan Publik & Isu Strategis DPP Partai NasDem, Suyoto berpendapat tidak ada seorang pun dapat memperkirakan perang Rusia-Ukraina akan berakhir dengan cepat. Ia juga menyarankan agar Indonesia bisa berperan dalam mengupayakan perdamaian dalam konflik tersebut.

“Indonesia perlu memainkan peran diplomasi yang soft dengan berupaya merangkul semua pihak untuk membantu mendamaikan pihak yang bertikai,” ujarnya.

Editor : Dimas Ryandi

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads