Mahfud MD Sebut Ma'ruf Amin Ancam Jokowi, Begini Pembelaan PPP

15/08/2018, 15:48 WIB | Editor: Ilham Safutra
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar bersama Ma'ruf Amin dan Ketua PBNU Said Aqil Siroj (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Pencalonan Ma'ruf Amin sebagai cawapres yang mendampingi Jokowi menyisakan "drama" baru. Dalam sebuah talk show di salah satu televisi nasional Mahfud MD mengungkap penetapan calon wakil presiden untuk Jokowi dipenuhi intrik dan tekanan.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menyebut Ma'ruf Amin mengancam Presiden Jokowi lewat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Rais Aam PBNU menyuruh anggota NU untuk membuat statemen bahwa NU akan menarik diri jika Jokowi tidak memilih wakilnya dari NU.

Pernyataan Mahfud MD itu direspons oleh Wasekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi. Dia menegaskan Ma'ruf Amin tidak melakukan ancaman kepada Jokowi. Menurutnya apa yang dilakukan Ma'ruf Amin itu bukanlah sebagai bentuk ancaman.

Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Hendra Eka/Jawa Pos)

"Ya kami tidak melihat itu sabagai sebuah ancaman. Karena kalau ancaman itu kan mengancam, nah itu berbahaya juga," ujar Baidowi di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta, Rabu (15/8).

Anggota Komisi II DPR itu tidak melihat ada sebuah suatu keterangan resmi dari PBNU mengenai ancaman kepada Presiden Jokowi tersebut. "Karena sikap PBNU itu resmi. Kalau ini kan informal," katanya.

Sebelumnya, Mahfud MD buka-bukaan salah satu penyebab dirinya batal mendampingi Joko Widodo (Jokowi) sebagai cawapres. Diterangkan Mahfud, pada detik-detik sebelum diumumkannya nama Mahfud MD, dirinya sudah diminta untuk menyiapkan curiculum vitae (CV) dan persiapan lainnya, seperti seragam.

Pada kesempatan itu Mahfud MD menyebut dirinya sempat dipertemukan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Pertemuan itu beberapa hari sebelum deklarasi pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Dalam pertemuan itu Mahfud mempertanyakan alasan PBNU mengancam menarik dukungan dari Jokowi apabila cawapres bukan dari NU. Lantas ‎Cak Imin berkilah bahwa ancaman itu tidak mendukung Jokowi itu atas usulan dari Rais Aam PBNU Ma'ruf Amin.

Fakta lain yang diungkap mantan menteri era Gus Dur itu, beberapa waktu lalu Ketua PBNU Said Aqil Siroj, Rais Aam PBNU, dan Muhaimin dipanggil ke istana bertemu dengan Presiden Jokowi.

Pertemuan tersebut tidak ada sama sekali pembahasab nama yang bakal menjadi cawapres. Jokowi hanya meminta masukan kepada tiga orang tersebut mengenai posisi cawapres.

Setelah itu tiga tokoh itu melakukan pertemuan di PBNU setelah dipanggil oleh Jokowi di istana kepresidenan.

"Kemudian ‎ketemulah tiga orang itu di PBNU. Dan berkesimpulan bertiga ini bukan calon, karena dipanggil enggak sebut calon. Lalu mereka sepertinya marah-marah," kata Mahfud.

Karena mengetahui tidak menjadi cawapres, Mahfud seperti menirukan perkataan Cak Imin menyebut Ma'ruf Amin kecewa. Sehingga Ma'ruf Amin pun mengancam NU bakal tidak mendukung Jokowi ‎kalau yang menjadi cawapres orang lain. Atau bukan dari kader NU.

"Lalu Kiai Ma'ruf menyatakan kalau begitu, kita tidak bertanggung jawab secara moral kalau bukan kader NU yang diabil. Nah ini kata Muhaimin," ungkapnya.

Setelah itu, tiga orang tersebut sepakat memanggil Ketua PBNU Robikin Emhas untuk berbicara ke media, bahwa apabila bukan kader NU. Maka NU tidak akan bertanggung jawab secara moral kepada Jokowi. "Robikin didikte oleh Kiai Ma'ruf Amin. Itulah permainan," pungkasnya.

(gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi