JawaPos Radar

USD Terus Menguat, DPR: Ini Persoalan Global

15/07/2018, 16:27 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Misbakhun
nggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meminta semua pihak tak selalu menyalahkan pemerintah terkait pelemahan rupiah terhadap dolar. (JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meminta semua pihak tak selalu menyalahkan pemerintah terkait pelemahan rupiah terhadap dolar. Karena, Presiden Jokowi dan pembantunya juga tidak tinggal diam dengan kondisi ini

“Pemerintahan Presiden Jokowi telah melakukan langkah-langkah nyata dan terus-menerus untuk mengatasi masalah ini termasuk melakukan langkah koordinasi dengan BI an OJK selaku pengawas industri jasa keuangan,” ujar Misbakhun dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Minggu (15/7).

Misbakhun memaparkan, kurs dolar (USD) saat Presiden Jokowi dilantik pada 20 Oktober 2014 adalah sekitar Rp 12.030. Bahkan, USD pernah berada di kisaran Rp 14.800 pada 24 September 2015. Namun, kini USD di kisaran Rp 14.400.

Misbakhun juga lantas membandingkan depresiasi rupiah dengan mata uang negara-negara lain. Misalnya, peso Argentina (ARS). Tiga tahun lalu, USD setara dengan ARS 9,1. Tapi dua tahun silam, ARS terdepresiasi. Nilai USD menjadi ARS 14,8. Namun, setahun kemudian ARS kembali terdepresiasi. Nilai USD meningkat menjadi setara ARS 16,8.

Sedangkan enam bulan lalu, USD menguat menjadi setara ARS 18,6. Bahkan sebulan silam ARS makin terdepresiasi. USD pun menjulang menjadi ARS 25,6. Sedangkan saat ini USD setara ARS 27,1.

“Size ekonomi Indonesia dengan Argentina memang berbeda. Tapi depresiasi ARS ini sudah mencapai 300 persen dalam tiga tahun,” ujarnya.

Demikian pula dengan rupee India (INR). Sekitar sepuluh tahun lalu USD masih setara dengan INR 42,1. Kemudian lima tahun lalu USD menjadi setara INR 59,3. Setahun lalu, USD sudah menjadi INR 64,3.

Tapi sebulan silam kurs INR terhadap USD kian anjlok. USD menjadi setara INR 67,1. Berdasar catatan terkini, USD sudah menjadi setara 68,5.

Misbakhun juga menyinggung soal depresiasi lira Turki (TRY). Tiga tahun lalu USD setara TRY 2,63. Tapi dua tahun lalu, USD terkerek menjadi TRY 2,88. Setahun lalu kurs USD meningkat menjadi TRY 5,3. Sedangkan enam bulan lalu, USD menjadi TRY 4,65. Kini, USD menjadi TRY 4,84.

“Perekonomi Turki hampir mendekati Indonesia sebagai emerging market country walaupun secara spesifik mempunyai banyak juga perbedaan dalam hal sumber daya alam, sistem ekonomi, struktur pasar dan beberapa para meter,” tutur Misbakhun.

Mantan pegawai pajak Kementerian Keuangan itu menambahkan, depresiasi yang dialami ARS, INR maupun TRY menjadi bukti bahwa ada permasalahan di banyak negara emerging market. Misbakhun meyakini menguatnya USD bukan persoalan Indonesia saja.

“Ini persoalan global. Tinggal adalah bagaimana persoalan tersebut di atasi dan diantisipasi dampak-dampak negatifnya terhadap perekonomian nasional,” katanya.

(jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up