alexametrics
Adu Gagasan Membangun Ekonomi

Jokowi Fokus Pemerataan, Prabowo Ciptakan Lapangan Kerja

Dua Paslon Singgung Perluasan Basis Pajak
14 April 2019, 14:05:23 WIB

JawaPos.com – Dua pasangan capres dan cawapres, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, memaksimalkan debat edisi kelima tadi malam untuk meyakinkan pemilih. Mereka mengunggulkan program masing-masing dalam membangun ekonomi Indonesia.

Sejumlah ide besar pembangunan ekonomi Indonesia muncul dalam debat. Paslon 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin, misalnya, menekankan pemerataan. “Tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi,” tegas Jokowi.

Dengan penekanan itu, selama 4,5 tahun memimpin bersama Jusuf Kalla, Jokowi berfokus pada pembangunan infrastruktur untuk mengatasi ketimpangan. Bukan hanya di Jawa, tetapi juga luar Jawa. Hal itu dapat memacu pemerataan ekonomi.

Pembangunan infrastruktur, lanjut Jokowi, sangat berpengaruh pada perekonomian. Dia mengingatkan, cara pandang ekonomi makro berbeda dengan ekonomi mikro. “Dalam ekonomi makro, kita mengelola agregat produksi,” kata dia. Sementara itu, ekonomi mikro berkaitan dengan aktivitas jual beli. Karena itu, tidak mungkin membangun industri-industri baru yang berorientasi ekspor bila tidak ada infrastruktur yang mendukung.

Jokowi dan Ma’ruf menawarkan pembangunan yang berkesinambungan. Tahapan pertama adalah pembangunan infrastruktur. Lalu, pembangunan sumber daya manusia. Dilanjutkan dengan reformasi struktural. Lantas, pemungkasnya adalah reformasi di bidang teknologi informasi.

Ide lainnya di bidang penerimaan pajak. Jokowi menyatakan, program konkret yang ditawarkan adalah perluasan basis pajak. Dengan begitu, sumber-sumber penerimaan pajak makin beragam. Saat ini masyarakat makin mudah membayar pajak dengan bantuan teknologi informasi. “Bapak (Prabowo, Red) kalau mau lapor SPT bisa pakai e-filing dari rumah. Jam berapa pun bisa dilakukan,” tambah mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Penampilan paslon presiden-wakil presiden 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin di debat terakhir Pilpres 2019 yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Sementara itu, cawapres 01 Ma’ruf Amin menjelaskan ide besar mengenai pengembangan ekonomi syariah. Menurut dia, Indonesia punya modal besar di bidang ekonomi syariah. Mulai sukuk, perbankan, hingga produk halal. “Ke depan kita akan percepat dengan pembentukan badan pengembangan ekonomi syariah,” ucapnya. Potensi zakat dan wakaf juga akan ditumbuhkan dengan mengembangkan badan-badan zakat yang ada saat ini.

Di sisi lain, paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno menekankan pada penciptaan lapangan kerja dan memastikan harga-harga terjangkau oleh seluruh masyarakat. Juga, swasembada pangan.

“Kunci­nya ada pada kepastian usaha dan kepastian hukum,” tandas Sandiaga. Kepastian usaha secara otomatis akan berkorelasi dengan penciptaan lapangan kerja.

Berkaitan dengan pajak, andalan Prabowo adalah menaikkan tax ratio. Setidaknya agar Indonesia bisa seperti Thailand yang tax ratio-nya mencapai 19 persen. Menurut dia, penggunaan teknologi secara maksimal dan transparan akan menjadi kunci keberhasilan pemerintah dalam menaikkan tax ratio.

Menurut dia, pemerintah bisa lebih mampu menarik pajak dengan penggunaan teknologi. Terutama dari mereka yang selama ini belum melakukan kewajibannya. “Kita harus berani mengejar mereka yang selama ini menghindari pajak,” tegasnya. Teknologi akan mampu mengenali dengan baik potensi-potensi pajak yang bisa ditarik pemerintah.

Tentu saja, kata Prabowo, perluasan basis pajak juga diperlukan sehingga sumber-sumber penghasilan negara menjadi lebih beragam. Sedangkan transparansi diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan terhadap pemerintah.

Senada, Sandiaga memaparkan strategi yang bisa dilakukan terkait perpajakan. Yang ditawarkan kepada publik adalah program pemotongan pajak bagi pekerja. “Dengan cara menaikkan PTKP (penghasilan tidak kena pajak, Red),” ucapnya. Hasilnya, uang di kantong masyarakat akan bertambah sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, konsumsi meningkat dan bisa memancing peningkatan lapangan kerja.

Penampilan paslon presiden-wakil presiden 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di debat terakhir Pilpres 2019 yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Ekonomi Digital dan BUMN

Kedua paslon juga tidak melewatkan membahas pengembangan ekonomi digital. Pada segmen keempat debat, Jokowi meminta pendapat paslon 02 tentang pengembangan ekonomi digital yang sedang masif di Indonesia. Salah satunya, permainan yang masuk dalam daftar e-sport profesional, Mobile Legends: Bang-Bang.

Sandiaga mengakui bahwa generasi milenial saat ini sangat produktif. Juga optimistis. Nah, dia ingin menggunakan semangat tersebut untuk menciptakan produk-produk yang dapat menguasai dunia. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya dibanjiri dengan produk-produk impor. “Juga, jangan sampai e-sport ini kemudian memengaruhi generasi muda kita yang tidak memiliki akhlakulkarimah,” ucapnya.

Sandiaga lantas balik mengomentari paslon 01. Dia menyangsikan Jokowi yang lebih mengerti tentang perkembangan ekonomi digital. Namun, kebijakan dan program-program yang ada selama ini justru bertolak belakang.

Dia kemudian menyebut penerbitan sejumlah kartu seperti kartu Indonesia pintar, kartu prakerja, dan kartu sembako. “Sedangkan kartu-kartu tersebut tidak menggunakan teknologi digital sama sekali. Berbeda dengan kami yang akan bergantung kepada satu kartu yang ada di dompet semua orang, e-KTP,” jelasnya.

Paslon 02 juga mempertanyakan upaya petahana dalam membangkitkan badan usaha milik negara (BUMN). Menurut riset, saat ini beberapa perusahaan BUMN di Indonesia sedang goyah. “Menurut riset yang dilakukan Bloomberg, Garuda Indonesia itu baru bisa untung jika kursinya diisi sejumlah 120 persen. Berarti tidak bisa untung-untung,” terang Prabowo.

Jokowi pun merespons. Dia mempersilakan paslon 02 untuk mengecek data terbaru BUMN. Selama masa kepemimpinannya, Jokowi mengklaim telah memperbaiki pemasukan beberapa perusahaan BUMN. Misalnya, penguasaan Pertamina pada Blok Rokan, Blok Mahakam, dan pengambilalihan saham PT Freeport Indonesia sebanyak 51 persen. “Tidak akan ada negara maju jika semua masyarakatnya pesimistis,” ucap Jokowi.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (bin/c11/c10/fal)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads