alexametrics

Kubu Petahana Sebut Korupsi di Indonesia Belum Level ‘Stadium 4’

14 Januari 2019, 11:04:22 WIB

JawaPos.com – ‎Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin optimistis bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang bersih dari korupsi (clean & good governance). Sehingga praktik-praktik rasuah bisa diberantas.

Juru Bicara Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadzily mengatakan leve korupsi di Indonesia tidak separah kanker stadium empat, yang hampir mustahil dapat diobati.

“Terlalu lebay dan berlebihan jika korupsi tidak dapat diberantas yang menunjukan itu pandangan yang pesimistis terhadap bangsa ini,” ujar Ace kepada JawaPos.com, Senin (14/1).

Menurut Ace, yang akan dilakukan Jokowi-Ma’ruf sangat jelas terbaca dalam visi-misi pasangan calon yang disampaikan ke KPU. Visi-misi itu mencakup agenda aksi perubahan yg konsisten, komprehensif, sistimatis dan tajam menyentuh episentrum perubahan dalam pemberantasan korupsi.

“Pemberantasan korupsi akan efektif apabila pemimpin puncaknya berintegritas, bukan bagian pemburu rente, dan berani melawan kekuatan oligarki ekonomi-politik,” katanya.

Jokowi memiliki rekam jejak sebagai pemimpin yang berintegritas. Pada tahun 2010, saat menjadi Wali Kota Solo, Jokowi mendapatkan Bung Hatta Anti Corruption Award. Upaya pencegahan korupsi dilanjutkan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta dgn e-budgetting.

Dalam upaya pemberantasan korupsi ini, aspek pencegahan yang sangat penting, bukan hanya aspek penindakan. Jokowi menawarkan agenda aksi yang konkret dan komprehensif. Jokowi susah meletakan fondasi berupa strategi nasional pencegahan korupsi (Stranas).

“Agenda berikutnya adalah melaksanakan Stranas itu secara konsisten dengan fokus pada perizinan dan tata niaga, keuangan negara, serta penegakan hukum dan reformasi birokrasi di setiap kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya,” ungkapnua.

Ace mengatakan, Jokowi akan terus ‎meningkatkan kapasitas Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP). Memperkuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta meningkatkan sinergi dan kerja sama antar-institusi penegak hukum dalam pemberantasan kejahatan korupsi.

Dalam empat tahun ini, Jokowi telah menggiatkan transaksi non-tunai sebagai tindakan pencegahan penggunaan uang tunai dalam tindak korupsi dan pencucian uang. Pembayaran jalan tol sampai dengan bantuan pangan non tunai adalah contoh konkretnya.

“Pak Jokowi akan terus ‎mempertegas penindakan kejahatan perbankan dan pencucian uang. Sehingga akan ada efek jera karena terjadi proses pemiskinan para koruptor,” tegasnya.

Kunci dari pemberantasan korupsi adalah integritas dan rekam jejak. Jokowi, kata Ace, tidak punya beban terkait dengan konflik kepentingan terkait bisnis keluarga. “Anak-anaknya justru jualan martabak dan pisang goreng,” beber Ace.

Jadi efektivitas pemberantasan korupsi akan tergantung pada puncuk pimpinannya dalam hal ini Presiden. Jika pemimpinnya bersih, berintegritas dan berani, maka ada harapan terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia.

“Sebaliknya, kalau rekam jejaknya meragukan, dengan sarat beban konflik kepentingan, memiliki jalinan dengan kekuatan oligarki masa lalu dan dikelilingi para pemburu rente, maka itu sama saja menawarkan janji palsu,” pungkasnya.

Sekadar informasi, dalam visi misi Jokowi-Ma’ruf Amin ada mengenai soal pencegahan dan pemberantasan korupsi. Dalam visi misi itu meliputi tentang:

1. Melaksanakan strategi nasional pencegahan korupsi
2. Meningkatkan kapasitas aparat pengawas intern pemerintah (APIP)
3. Memperkuat KPK
4. Meningkatkan sinergi dan kerja sama antar institusi penegak hukum dalam pemberantasan kejahatan korupsi
5. Menggiatkan transaksi nontunai sebagai tindakan pencegahan penggunaan uang tunai dalam tindak korupsi dan pencucian uang
6. empertegas penindakan kejahatan perbankan dan pencucian uang

Editor : Imam Solehudin

Reporter : Gunawan Wibisono



Close Ads
Kubu Petahana Sebut Korupsi di Indonesia Belum Level 'Stadium 4'