alexametrics

Demokrat Ingin Gabung ke Jokowi, PDIP: Sudah Sangat Terlambat

13 Agustus 2019, 15:05:38 WIB

JawaPos.com – Partai Demokrat sudah memutuskan ‎sikap politiknya untuk lima tahun mendatang. Partai yang dikomandoi oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menolak untuk menjadi oposisi dan ingin bergabung ke koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin.

Namun, niat Demokrat untuk merapat ke kubu pemerintah sepertinya tak menuai sambutan hangat dari politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira.

Menurut Andreas, sejauh ini Demokrat dekat dengan Presiden terpilih Jokowi. Komunikasi juga terbangun baik antara Demokrat dan Jokowi. Namun, seharusnya dukungan Demokrat tersebut bisa dilakukan saat Pilpres 2019 silam. Bukan setelah hajatan selesai, dan pemenang sudah dinyatakan ke Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Sudah sangat terlambat apabila baru sekarang Demokrat mengekspresikan dukungan itu,” katanya.

Andreas menduga, dukungnya Demokrat ke Jokowi-Ma’ruf Amin karena ada keinginan di belakangnya. Misalnya mendapatkan jatah kursi menteri atau masuk ke kabinet. “Tentu ada saja harapan mendapat power sharing dalam kabinet nanti,” ungkapnya.

Namun demikian, Andreas menyerahkan semuanya ke Presiden Jokowi sebagai pemegang hak prerogatif. Presiden akan memutuskan seadil-adilnya mana partai yang dirangkul masuk ke dalam kabinet.

“Tentu Presiden Jokowi akan lebih jeli melihat kemungkinan-kemungkinan dukungan yang mengalir pasca kemenangan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Nasdem Irma Suryani Chaniago mencurigai ada motif di belakang keinginan Partai Demokrat bergabung ke koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Sepertinya semua partai politik yang mau gabung ke pemerintah saat ini pasti punya keinginan join di kabinet,” ujar Irma kepada wartawan, Selasa (13/7).

Namun demikian, Anggota Komisi IX DPR ini menilai tidak mengapa jika Demokrat bergabung ke pemerintahan. Sebab selama ini partai yang dikepalai oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpolitik secara santun.

Menurut Irma, Demokrat tidak pernah menjelekan Presiden Jokowi, kemudian memainkan isu politik identitas atau yang berkaitan dengan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Soal koalisi yang akan bertambah atau tidak. Hal itu ada di tangan Preisden Jokowi dan juga para ketua umum partai koalisi pendukung. Semuanya diputuskan lewat jalur komunikasi dengan partai-partai Koalisi Indonesia Kerja (KIK).

Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan menegaskan partainya tidak meminta jatah kursi ke Presiden Jokowi. Memberikan dukungan ke pemerintah hanya semata-mata untuk memberikan bantuan.

“Kami tidak pernah mengincar jatah kursi, kami tidak pernah minta kursi. Karena sadar itu adalah hak prerogatif presiden,” ujar Syarief.

Menurut Syarief, Demokrat berbeda dengan partai lainnya. Misalnya memberikan dukungan salah satu tujuannya untuk mengincar jatah kursi di dalam kabinet. Sehingga partai bernuansa biru ini enggan disamakan dengan partai lain.

“Jadi kami jangan disamakan dengan partai lain‎,” katanya.

Syarief berujar, ada syarat yang diajukan oleh Partai Demokrat dengan dukungan ke Presiden Jokowi ini. Itu ada tiga. Pertama ‎chemistry perlu ada kecocokan. Kedua perlu ada kebersamaan dalam koalisi. Kemudian ketiga adalah Demokrat perlu nyaman di dalam koalisi.

“Jadi kita tiga itu saja yang menjadi persoalan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sikap politik Partai Demokrat akhirnya terjawab sudah. Kepala Divisi Bidang Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengatakan partai yang diketuai SBY sudah menyatakan mendukung pemerintahan Jokowi dan Ma’ruf Amin.

Menurut Ferdinand, saat ini hanya cuma ada satu opsi, yakni bisa memberikan kontribusi aktif membantu pemerintahan ke depan menghadapi tantangan ke depan. Sehingga bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada.

“Kalau ditanya kemana arah politik Partai Demokrat, ya arahnya adalah untuk memperkuat pemerintahan Pak Jokowi ke depan,” ujar Ferdinand saat dihubungi, Senin (12/8).

Bagi Ferdinand, suatu kehormatan bagi Partai Demokrat apabila berada di dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin. Sehingga bisa memberikan kontribusi dalam mengelola pemerintahan lima tahun ke depan.

“Kalau Pak Jokowi akan mengajak Partai Demokrat, kita akan siap mendukung beliau,” ungkapnya.

Ferdinand menambahkan, sikap resmi Partai Demokrat ini nantinya akan diumumkan oleh Ketua Umum SBY atau Sekretaris Jenderal Hinca Pandjaitan. ‎Namun sikap Demokrat adalah ingin berkontribusi membantu pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Gunawan Wibisono

Close Ads