alexametrics

Anak Buah Tjahjo Anggap Metode Saint Lague Lebih Adil, Ini Alasannya

13 Agustus 2017, 12:45:12 WIB

JawaPos.com – Hingga saat ini Undang-Undang Pemiluhan Umum (UU Pemilu) baru belum juga diundangkan di lembaran negara. Pasalnya Sekretariat Negara belum melakukan penomoran dan diteken Presiden Joko Widodo.

Menteri dalam negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo berharap, pada pekan depan UU Pemilu bisa segera diteken presiden. “Mudah-mudahan pekan depan sudah diteken Presiden,” kata Tjahjo.

Namun, Kemendagri sendiri mulai melakukan sosialisasi undang-undang tersebut. Seperti yang dilakukan Direktur Politik Dalam Negeri (Poldagri) Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Ditjen Polpum) Kemendagri, Bahtiar.

Bahtiar mensosialisasikan hal itu lewat forum Rakorwil dan Workhsop Regional Assosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) Zona Provinsi Maluku dan Maluku Utara di Ambon, Maluku, (11/8).

Bahtiar, yang juga anggota tim perumus RUU Pemilu, menyampaikan bahwa UU Pemilu yang baru memiliki banyak kemajuan dan nilai tambah dibanding UU sebelumnya.

“Salah satunya soal penguatan penyelenggara Pemilu. Penguatan penyelenggara Pemilu dilakukan dengan memperbaiki pola rekrutmen KPU dan Bawaslu, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” terangnya.

Kemajuan lainnya, yakni soal perubahan metode konversi suara ke kursi untuk calon anggota legislatif, DPR dan DPRD. Bila Pemilu lalu metode konversi suara menggunakan metode Kuota Hare, maka dalam Pemilu 2019 dan Pemilu selanjutnya memakai metode Divisor Sainte Lague.

Metode Divisor Sainte Lague Murni akan memberikan keadilan bagi seluruh partai politik (parpol) dalam hal penghitungan dan perolehan kursi legislatif.

Dimana Parpol yang memperoleh suara yang lebih besar pada suatu daerah pemilihan (dapil) secara signifikan pada perolehan tertentu akan memperoleh jumlah kursi yang lebih banyak.

Metode ini tentu berbeda dengan Kuota Hare yang pada praktiknya parpol yang memperoleh suara kecil dan yang memperoleh suara banyak, namun cenderung sama perolehan kursinya. 

“Amerika Serikat sendiri sudah tidak lagi menggunakan metode Kuote Hare sejak 100 tahun lalu karena dianggap tidak adil bagi peserta Pemilu,” terangnya.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : (dms/JPC)



Close Ads
Anak Buah Tjahjo Anggap Metode Saint Lague Lebih Adil, Ini Alasannya