alexametrics

Anggota MPR Ini Koreksi Pendidikan Pancasila Era Reformasi

13 Juli 2020, 20:18:49 WIB

JawaPos.com – Anggota MPR dari Fraksi PPP Saifullah Tamliha menceritakan tentang pendidikan Pancasila yang diajarkan di bangku sekolah pada era sebelum reformasi.

Dulu, pada era Orde Baru, semasa di bangku sekolah Saifullah kerap menjadi juara dalam lomba cerdas cermat dan pidato tentang Pancasila. Kata dia, pada masa Orde Baru, siswa sekolah diberikan pelajaran Pancasila yang bernama Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan di bangku kuliah bernama mata kuliah Pancasila.

Setelah era reformasi dimulai dan berjalan, semua produk atau kebijakan yang dikeluarkan oleh orde baru dianggap tidak baik. Menurut dia, dari sinilah mata pelajaran PMP di sekolah terdampak dan ikut dihilangkan. “(Pancasila) Hilang selama reformasi berlangsung,” ujar Saifullah Tamliha di sela-sela diskusi Empat Pilar MPR di Media Center, Gedung Nusantara III, Kompleks Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, (13/7). Diskusi tersebut bertema ‘Membentuk Karakter Bangsa: Pancasila Masuk Kurikulum Pendidikan?’

Politikus asal Kalimantan Selatan itu mengungkapkan, saat MPR di bawah kepemimpinan Taufik Kiemas, Pancasila kembali disosialisasikan lewat Sosialisasi 4 Pilar MPR. Bahkan selama Saifullah Tamliha menjadi anggota MPR, dia kerap melakukan sosialisasi Pancasila. “Saya kerap melakukan Sosialisasi 4 Pilar,” ujarnya di hadapan puluhan wartawan yang mengikuti acara itu.

Saifullah Tamliha menegaskan, warga negara harus memiliki roh kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, sangat baik anak-anak sekolah diberi materi ideologi kebangsaan. “Anak saya tiga, semuanya lahir di masa reformasi,” ucapnya.

Kehampaan materi ideologi di sekolah perlu diisi. Memberi materi Pancasila sejak kecil sangat penting, karena  pada masa itu materinya mudah masuk ke dalam jiwa anak bangsa. “Jadi Pancasila perlu masuk dunia pendidikan,” tuturnya. “Masuknya Pancasila dalam dunia pendidikan merupakan koreksi total dari era reformasi,” tambahnya.

Saat ini sosialisasi Pancasila dilakukan MPR dan BPIP. Jika hanya mengandalkan dua lembaga negara tersebut, maka tidak cukup. Perlu tokoh lain yang melakukan hal serupa, yakni guru.

Saifullah yakin jika nilai-nilai Pancasila hidup dalam benak masyarakat Indonesia akan membuat Indonesia maju. “Juga tidak akan ada koruptor,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama M. Nabil Haroen mengatakan, selama ini Pancasila hanya menjadi narasi dan masih miskin implementasi. Jika dibiarkan, maka membahayakan.

Nabil Haroen juga juga pernah merasakan hidup semasa Orde Baru sehingga merasakan pendidikan Pancasila di sekolah. Menurut dia, seharusnya bangsa ini menjaga hal-hal yang baik. “Dulu PMP baik dan seharusnya dipertahankan,” tegasnya.

Sebagai anggota MPR, saat sosialisasi dirinya merasa bahwa Pancasila adalah sesuatu yang penting. Disebut banyak negara yang ingin mengadopsi nilai-nilai Pancasila. Pancasila tak hanya perlu masuk dalam kurikulum pendidikan namun juga perlu masuk dalam sendi-sendi kehidupan bangsa dan bernegara. “Mari kita kawal dan implementasikan Pancasila,” ajak Gus Nabil kepada semua.

Editor : Ilham Safutra



Close Ads