alexametrics

Kinerja Legislasi Melorot, PSI Warning Kinerja DPR

13 April 2018, 20:26:46 WIB

JawaPos.com – Kinerja legislasi DPR biasanya mudah kendor saat sudah memasuki tahun politik. Terbukti, target program legislasi nasional (prolegnas) jangka menengah periode 2014-2019 sebanyak 183 rancangan undang-undang (RUU), ternyata baru diselesaikan sekita 80-an.

Karena itu, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Rizal Calvary mengingatkan, agar target prolegnas bisa tercapai.

“Sebelumnya 2015, DPR menargetkan 40 RUU dalam Prolegnas, dari jumlah tersebut, DPR hanya bisa menyelesaikan 3 RUU saja yang kemudian disahkan menjadi UU,” kata Rizal dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, di Jakarta, Kamis (12/4).

Kemudian, kata Rizal, pada 2016 DPR secara ambisius menetapkan 51 RUU dalam Prolegnas yang ditargetkan selesai di akhir tahun. Namun dalam praktiknya, lanjut dia, DPR hanya bisa menyelesaikan 22 RUU, di antaranya 10 RUU Prolegnas dan 11 RUU kumulatif terbuka.

“Sementara itu di 2017, DPR menetapkan target untuk menyelesaikan 52 RUU Prolegnas pada akhir tahun. Sayangnya dalam kurun waktu satu tahun, DPR hanya bisa menyelesaikan 6 RUU saja,” jelas dia.

Kondisi ini, menurut Rizal berbanding terbalik dengan permintaan fasilitas yang diminta oleh para legislator itu. Termasuk yang paling terakhir adalah pengesahan revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, DPR, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3).

Kondisi ini, lanjut Rizal, mengingatkan dia pada sebuah tayangan berita dari BBC yang isinya Bos Facebook (FB) Mark Zuckerberg sedang disidang oleh para Senator Amerika Serikat. Satu dunia tahu, sidang ini untuk menggali kasus pencurian data di Facebook yang ramai dikenal dengan sebutan Cambridge Analytica.

Sepintas, sidang itu biasa-biasa saja. Seperti sidang-sidang atau hearing mega skandal keuangan korporasi Amerika Serikat yang lalu-lalu. Namun, bila dicermati lagi, para Senator AS kerap melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang konyol.

Senator Orrin Hatch misalnya bertanya, model bisnis Facebook ini apa sih, kok bisa digratisin? Terus, FB untung darimana? Dengan sedikit senyum kecut Mark Zuckerberg menjawab singkat. “Senator, kami hidup dari iklan.”

Bahkan, ada lagi yang lebih konyol. Dia Senator Brian Schatz. Dia bahkan tak paham sama sekali cara kerja Facebook. Schatz menanyakan apakah Facebook bisa melihat seluruh e-mail yang dikirim via Whatsapp?.

Kondisi ini, kata Rizal, wajar terjadi karena Anggota senator Amerika ini rata-rata sudah lansia. Usia rata-rata mereka 57-61 bahkan ada sampai 70 tahunan.

Bahkan, ini adalah usia rata-rata tertua dalam sejarah pemerintahan dan legislasi di Amerika. “Kita bisa maklumi kemudian, bila para senator bertanya akan apa yang bukan ‘dunia’ mereka lagi. Sidang ini seperti kakek menginvestigasi cucu-nya,” katanya.

“Berkaca dari kasus sidang FB ini, saatnya negara kita berani merevolusi sumber daya manusia di parlemen kita,” pungkasnya.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : (aim/JPC)


Close Ads
Kinerja Legislasi Melorot, PSI Warning Kinerja DPR