Perdana, Perempuan Masuk PBNU

Kiai Miftach-Gus Yahya Umumkan ”Kabinet”
13 Januari 2022, 13:32:24 WIB

JawaPos.com – Struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2022–2027 secara resmi diumumkan ketua umum terpilih PBNU KH Yahya Cholil Staquf di Jakarta kemarin (12/1). Struktur PBNU periode ini lebih gemuk dengan keanggotaan total 187 orang. Jauh lebih banyak daripada struktur PBNU pimpinan KH Said Aqil Siroj yang hanya 128 orang.

Struktur sebelumnya memiliki 16 ketua dengan masing-masing 1 ketua umum dan wakil ketua umum. Sementara itu, struktur PBNU di bawah Gus Yahya, panggilan akrab KH Yahya Cholil Staquf, memiliki 27 ketua dengan ketua umum didampingi 4 wakil ketua umum.

Ketua PBNU sebelumnya, KH Said Aqil Siroj, kini menjabat sebagai mustasyar bersama 33 orang lainnya. Rais aam dijabat KH Miftachul Akhyar dengan didampingi dua wakil rais aam, yakni KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhadji. Di barisan rais syuriah PBNU yang baru ini, tercantum nama KH Bahauddin Nursalim alias Gus Baha.

Ketua umum tanfidziyah dijabat KH Yahya Cholil Staquf didampingi empat wakil ketua umum, salah satunya politikus Nusron Wahid. Di jajaran ketua syuriah, terdapat beberapa nama seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Kemudian dua tokoh muda, yakni putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, dan Direktur NU Online Syafi Alielha atau dikenal dengan Savic Ali. Ketua PBNU periode sebelumnya, Robikin Emhas, juga tampak dalam jajaran ketua syuriah.

Janji mengakomodasi perempuan juga ditunaikan. Selain Khofifah dan Alissa Wahid, ada beberapa istri ulama senior seperti Sinta Nuriyah (istri mendiang KH Abdurrahman Wahid), Nyai Nafisah Sahal Mahfudz (istri mantan rais aam PBNU mendiang KH Sahal Mahfudz), dan beberapa tokoh perempuan lainnya. Beberapa duduk di jajaran a’wan dan wakil Sekjen.

Sekjen PBNU dijabat Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf. Sedangkan kursi bendahara umum diduduki Mardani H. Maming. Pengurus tanfidziyah berkekuatan total 65 orang.

KH Yahya Cholil Staquf mengakui bahwa ukuran ”kabinet” PBNU masa khidmat 2022–2027 memang sedikit lebih gemuk daripada biasanya. Dia sengaja merancang demikian karena beberapa alasan. Pertama, NU memiliki konstituensi yang sangat luas. Gus Yahya menyebutkan, dalam berbagai survei, seluruh warga NU atau mereka yang mengaku warga NU mencapai sekitar separo dari seluruh populasi muslim di Indonesia. ”Kami berkepentingan untuk menjangkau seluas-luasnya, sedapat-dapatnya, seluruh konstituensi yang sangat luas itu. Sehingga kami membutuhkan personel yang cukup banyak,” papar Yahya.

Visi yang diusung PBNU 2022–2027, kata Gus Yahya, dengan sendirinya menuntut perkembangan aktivitas yang berlipat dari sebelumnya. Karena itu, memang dibutuhkan tambahan personel untuk meng-handle pekerjaan besar tersebut.

Alasan kedua, terang Gus Yahya, susunan pengurus mencerminkan realitas multipolar di dalamnya. Baik dari segi kedaerahan, gender, maupun orientasi politik. Dari segi kedaerahan, seluruh daerah di Indonesia terwakilkan dalam PBNU. ”Sehingga PBNU yang kita miliki adalah PBNU yang berwajah Nusantara,” ujarnya.

Dari segi gender, kata Gus Yahya, untuk kali pertama sejak 96 tahun NU berdiri, kaum perempuan diakomodasi dalam kepengurusan NU. Alasan ketiga, pihaknya ingin mengambil jarak yang setara dengan berbagai sudut kepentingan di sekitar NU. Hal tersebut bisa dicapai dengan cara mengakomodasi berbagai elemen. ”Jadi, bisa saling mengontrol untuk menjaga agar jarak NU dengan pihak politik tetap sama antara satu dan yang lain,” tegasnya.

Sementara itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyatakan, tugas dan program PBNU saat ini begitu besar dan tentu berbeda dengan periode sebelumnya. Secara khusus, Kiai Miftach menyebut kehadiran kaum perempuan. ”Jadi, ada ibu-ibu yang memang saat ini sedang kita butuhkan, terutama pikirannya. Mungkin bisa diwadahi atau dipimpin dengan keberadaan kepengurusan nanti. Ini karena sebuah kebutuhan sekaligus uji coba,” papar Miftach.

Karena itu, kata Kiai Miftach, susunan kepengurusan PBNU 2022–2027 cukup besar. ”Kalau kita hitung semua mungkin sekitar 200 orang. Karena bukan sekadar mengurus lokal, dunia internasional juga membutuhkan langkah-langkah dari NU,” jelasnya.

Soal keterwakilan perempuan di PBNU, Alissa Wahid berkomentar, memang sebelumnya sudah banyak perempuan yang aktif di berbagai organisasi NU. ”Tapi, diakomodasi dalam jajaran kepemimpinan ya baru saat ini,” kata Alissa. Harapannya, aspirasi perempuan bisa lebih didengarkan dan dibawa sebagai pertimbangan-pertimbangan dalam berbagai kebijakan NU.

Ditanya soal sang adik, Yenny Wahid, yang tidak masuk kepengurusan, Alissa hanya tersenyum. ”Ya, ada beberapa pertimbangan. Tapi ndak mungkin juga satu rombongan (putri-putri Gus Dur, Red) masuk semua,” katanya.

Tokoh muda NU yang masuk jajaran ketua adalah Syafi Alielha alias Savic Ali. Direktur NU Online itu mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui tugas dan bidang kerjanya. ”Pembagian tugas mungkin dalam rapat pertama setelah pelantikan. Sementara saya ketua PBNU bidang piknik dan olahraga,” katanya berkelakar.

Mengenai jabatan Rais Aam KH Miftachul Akhyar di MUI, Katim Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori mengatakan bahwa hal tersebut tengah dibicarakan di tingkat kepengurusan syuriah. Said menyebutkan, memang ada usulan agar rais aam tidak merangkap jabatan sebagai ketua umum MUI. Namun, di sisi lain ada juga suara yang berharap dia tetap memegang jabatan tersebut. ”Masih dibicarakan di syuriah. Nanti kami pertimbangkan manfaat dan mudaratnya bagi organisasi,” jelas Said.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tau/c19/oni

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads