Hanura Nilai Ambang Batas Parlemen Tidak Diperlukan

13/01/2017, 08:54 WIB | Editor: Muhammad Syadri
Ilustrasi (doc Jawa Pos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ambang batas parlemen (parliamentary threshold) menjadi hal krusial dalam rancangan undang-undang tentang pemilihan umum (Pemilu). Usulan demi usulan pun dimunculkan partai yang ada di parlemen, tak terkecuali Hanura.

Mereka menganggap, ambang batas parlemen tidak diperlukan lagi terutama dalam Pemilu 2019 yang digelar serentak. Sebab kata Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang, di era demokrasi saat ini semua partai politik baik itu yang berskala kecil maupun partai politik baru berhak masuk ke dalam parlemen.

"Menurut saya ambang batas parlemen tidak perlu. Jangan mengunci partai-partai kecil untuk berkembang atau menutup partai akan masuk. Karena itu bebaskan saja," tegas pria yang akrab disapa Oso itu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/1).

Katanya, partai besar maupun kecil sama-sama berjuang untuk negara. "Jadi itu saya bilang, jangan ada dusta di antara kita. Mau menang silakan berjuang tapi jangan terus memastikan bahwa jumlah itu untuk mempengaruhi sesuatu," sambung Oso.

Senada, Sarifudin Sudding yang baru saja ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Hanura menuturkan, dihilangkannya ambang batas parlemen juga untuk menghargai masyarakat. Sebab, aspirasi masyarakat bisa tersalurkan melalui wakil rakyat yang ada di parlemen.

"Saya‎ kira kita harus menghargai pilihan rakyat berapa banyak suara rakyat yang terbuang. Ketika misalnya, ada seorang anggota dewan yang terpilih kemudian partai itu tidak lolos parlementary threshold," sebutnya.

Dia lantas menambah komentar bahwa sejatinya, ambang batas parlemen bentuk dari kemunduran demokrasi.

"Nah ini juga menurut saya ini kemunduran demokrasi bagaimana memberikan penghormatan penghargaan terhadap hak-hak rakyat dalam memilih calonnya di parlemen. Saya kira ini jadi perhatian‎,"  pungkas Anggota Komisi III DPR itu. (dna/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi