JawaPos Radar | Iklan Jitu

Khawatir Rupiah Melemah, Fraksi PKS Bilang Begini

12 Juli 2018, 18:17:40 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Jazuli Juwaini
Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini berharap pelemahan rupiah yang terjadi akhir-ahkir ini tidak berdampak pada kondisi masyarakat di bawah. (JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini meminta pemerintah agar tetap waspada dan tidak boleh lagi menganggap enteng persoalan pelemahan rupiah. Agar tidak berimbas parah pada kondisi ekonomi masyarakat dan menjamin subsidi negara kepada rakyat miskin tetap terjaga.

"Pemerintah harus memastikan setiap pengeluaran yang terkait kurs dalam kondisi terkendali. Apalagi Asumsi kurs dalam APBN 2018 masih dipertahankan sebesar Rp. 13.400," kata Jazuli kepada wartawan, Kamis (12/7).

Anggota DPR Dapil Banten ini merasa perlu memberi peringatan pemerintah, karena kondisi asumsi dan realitas pelemahan rupiah bisa dipastikan akan berdampak terhadap belanja subsidi BBM, listrik serta pembayaran pokok maupun bunga utang yang semakin menumpuk.

"Jika tidak ditangani secara hati-hati, bahaya krisis ekonomi akan siap mengancam kapan saja," kata Jazuli.

Selain itu yang paling penting harus dijaga oleh Pemerintah adalah menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, pemerintah juga harus lebih hati-hati dan mengantisipasi setiap kebijakan terkait dengan harga. Sebab, semuanya akan bermuara pada daya beli dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Diketahui pelemahan rupiah terjadi akibat Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) sedang tidak bersahabat dengan banyak negara berkembang di dunia, termasuk Indonesia.

Hingga akhir tahun 2018 The FED berencana untuk menaikkan suku bunganya hingga empat kali. Terkait hal tersebut, Jazuli mendorong Bank Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan moneter dan intervensi pasar yang efektif dan tepat sasaran.

Menurut Jazuli, BI telah mengeluarkan kebijakan preventive, front loading dan ahead the curve dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps pada Mei lalu.

Selain itu, BI juga diharapkan tetap berada di pasar dan melakukan intervensi di pasar obligasi dan valas. Karena itu dirinya berharap, BI harus punya timing yang lebih cermat, tepat dan dan cepat.

"Karena BI tidak selalu berada di pasar dalam setiap titik dan waktu. BI harus memastikan bahwa jangan sampai kecepatan pelemahan melebihi kecepatan intervensi BI," katanya.

(jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up