alexametrics

Manuver NasDem Dianggap Bisa Bikin Jokowi Kecewa

11 November 2019, 21:04:57 WIB

JawaPos.com – Pidato Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh pada pembukaan Kongres Partai NasDem, Jumat (8/11) masih menuai kritik karena dinilai terlalu reaktif. Manuver tersebut dianggap tidak memberikan dampak positif pada berjalannya pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin.

Pengamat Politik Muhammad Sukron mengatakan, diawal masa jabatannya yang kedua, Jokowi dinilai menginginkan pemerintahan berjalan lancar dan kondusif. Terlebih selama pemilu 2019 berlangsung sudah banyak manuver politik yang terjadi.

Direktur Eksekutif Segitiga Institute itu menganggap, publik pun ingin melihat kondisi pemerintahan yang kondusif dan bekerja untuk kemaslahatan rakyat. Oleh karena itu, dia menilai manuver Surya Paloh seharusnya tidak terjadi. Karena membuat gaduh panggung politik.

“Sama seperti publik yang kecewa, Pak Jokowi juga wajar bila kecewa dengan manuver NasDem ini. Sebab seharusnya NasDem bukan bikin ricuh, tapi membangun situasi kondusif agar pemerintahan fokus bekerja mewujudkan janji kampanye di pilpres lalu,” kata Sukron kepada wartawan, Senin (11/11).

Sukron menuturkan, adanya pertemuan NasDem dan PKS pun semakin menambah keriuhan di internal koalisi pemerintahan. Menurut dia, koalisi tak perlu menggandeng PKS, terlebih sudah ada Gerindra yang bergabung dengan pemerintah.

“Kenapa Surya Paloh tak merangkul, misalnya, Partai Demokrat yang lebih besar? Lagipula, dengan jumlah koalisi plus Gerindra saat ini, PKS tak dibutuhkan,” jelasnya.

Selain itu, Sukron berpandangan NasDem bisa semakin mengecekawan Jokowi melalui kedekatannya dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kondisi ini bisa menimbulkan persepsi NasDem bermain dua kaki.

Lebih lanjut, Sukron meminta agar NasDem memikirkan rakyat yang telah memilih Jokowi sebagai presiden untuk 5 tahun ke depan. “Rakyat yang mendukung Jokowi seakan diabaikan oleh NasDem dan Surya Paloh,” terangnya.

Sementara itu, Ketua DPP NasDem Charles Meikyansah memastikan partainya akan tetap berada di pemerintahan Jokowi hingga 2024 mendatang. Hal itu pun telah ditetapkan pada Kongres ke II.

“Posisi NasDem jelas, posisi NasDem adalah partai yang mengusung dan akan menjaga pak Jokowi sampai 2024,” ucap dia.

Di sisi lain, terkait pertemuan dengan PKS, Charles menyampaikan itu hanya sebatas silaturahmi biasa. Tidak ada kepentingan politik di balik pertemuan tersebut.

“Pertandingan ada pihak a dan b, NasDem nggak mau seperti itu, tentu kita harus dengan kekuatan-kekuatan lain yang baik di pemerintah atau oposisi,” tukasnya.

Editor : Kuswandi

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads