JawaPos Radar

Twitwar dengan Fahri Hamzah, Orang Tua Tsamara Sempat Was-was

11/07/2017, 10:35 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Twitwar dengan Fahri Hamzah, Orang Tua Tsamara Sempat Was-was
Tsamara Amany Alatas saat ditemui di kantor PSI, Senin (10/7). (DERY RIDWANSYAH/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com – Nama Tsamara Amany Alatas sepekan terakhir mendadak melejit di media sosial karena duelnya dengan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah. Tsamara tak gentar dalam menjawab semua kicauan balasan mantan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu. Dia merasa memiliki data dan fakta yang kuat untuk beradu argumen dengan Fahri Hamzah. 

Meski begitu, Tsamara tetaplah seorang generasi muda yang masih duduk di bangku kuliah Universitas Paramadina semester 6. Sebagai anak yang kritis di mata orang tuanya, Tsamara tetap diberi nasihat agar tetap bisa mengontrol emosi dan kata-katanya di media sosial. Apalagi yang dilawannya adalah seseorang yang berlabel anggota dewan yang terhormat.

Twitwar dengan Fahri Hamzah, Orang Tua Tsamara Sempat Was-was
Keluarga sempat khawatir ketika Tsamara TwitWar dengan Fahri Hamzah (DERY RIDWANSYAH/JAWA POS)

“Tentulah orang tua manapun akan khawatir jika anaknya sedang dalam posisi seperti saya. Orang tua saya bilang, jangan melontarkan kata-kata yang terlalu kasar. Ini kan yang dihadapi pimpinan DPR,” kata Tsamara saat berbincang dengan JawaPos.com, Senin (10/7).

Namun, Tsamara berupaya menjelaskan kepada orang tuanya untuk tidak khawatir karena saat ini masyarakat Indonesia hidup di era keterbukaan informasi. Selama dia memiliki fakta dan data yang kuat, Tsamara berani menghadapi Fahri Hamzah untuk berdebat secara terbuka atau beradu argumen.

“Saya jelaskan, kita sekarang hidup di era keterbukaan dan reformasi. Fahri Hamzah duduk di sana, ada orang yang memilihnya, rakyat yang memilihnya. Bisa jadi ada uang pajak saya yang membiayai fasilitasnya. Saya enggak yakin, enggak ada uang pajak saya, sekeluarga saya juga bayar pajak untuk membiayai fasilitas sebagai pimpinan DPR,” tukasnya.

Sebagai pemimpin, kata Tsamara, Fahri Hamzah dan pimpinan DPR lainnya harus mau dikritik dan tidak antikritik. Gadis belia kelahiran 24 Juni 1996 itu megaku sudah paham segala resiko yang akan dihadapinya saat memilih terjun ke dunia politik. Serangan atau bully di media sosial, menurutnya bukan hal seberapa besar jika dibandingkan dengan perjuangan para pahlawan di masa lalu.

“Resiko bully itu untuk anak-anak seumur saya enggak mudah secara psikologis. Tetapi pada tahap perjuangan, dibully di sosmed itu sangat kecil dibanding pendiri bangsa kita yang berpolitik sejak muda. Bung Karno juga dipenjara sejak muda. Aktivis 98 juga, Wiji Tukul pun hilang,” paparnya.

Keluarga Tsamara bukan berasal dari partai politik dan tak ada afiliasi dengan partai politik tertentu. Namun, perempuan yang hobi baca itu tertarik dengan dunia politik karena minatnya dari dalam hati. Dia ingin memperjuangkan segala hak rakyat.

“Dulunya, ayah dan ibu saya seorang pengusaha. Mereka berdua peduli politik tapi tak berminat terjun ke politik. Saat saya masuk menjadi politisi di PSI mereka yakin,” katanya.

Menurut Tsamara, hidup dalam era demokrasi membuat seseorang memiliki hak bebas berpendapat dam menyuarakan kebenaran. Setiap hak berpendapat dilindungi oleh Undang-Undang.

“Kalau sekadar bully di medsos balas saja. Balas dengan fakta. Selama Indonesia belum baik, selama DPR dan RUU belum kelar, selama itu masih ada saja, kemudian KPK dilemahkan maka tujuan berpolitik belum tercapai. Dan rakyat juga punya Allah yang selalu memberi perlindungan,” tuturnya. (cr1/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up