alexametrics

Khawatir Rusuh, Majelis Adat Betawi Menolak Ada Aksi Massa di MK

11 Juni 2019, 23:46:35 WIB

JawaPos.com – Untuk meredam konflik sosial pada saat sidang sengketa Pilpres di gelar di Mahkamah Konstitusi (MK), Polri bersama TNI terus merapatkan barisan. 48 ribu aparat gabungan pun diterjunkan untuk mengamankan situasi Jakarta.

Tak hanya Polri dan TNI, elemen masyarakat sipil dari kalangan Majelis Adat Masyarakat Betawi juga berkumpul untuk ikut andil membuat situasi Ibu Kota kondusif. Sejumlah tokoh elite Betawi itu mendadak menggelar pertemuan di Hotel Aston Priority, Jakarta Selatan, Selasa (11/6) malam.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut,  KH Ahmad Jaelani LC, Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR) Lutfi Hakim, Sekjen Forkabi Muhammad Ihsan, Ketua Asosiasi Silat Tradisi Betawi (Astrabi) Anwar, dan sejumlah ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Badan Musyawarah (Bamus) Betawi Seluruh wilayah DKI Jakarta.

Ketua Umum Bamus Betawi Zainuddin menjelaskan, pertemuan itu digelar untuk menyikapi rencana gugatan hasil Pilpres 2019 di MK. Dari hasil pertemuan tersebut, pria yang akrab disapa Oding itu menyebutkan, Majelis Adat Masyarakat Betawi memutuskan untuk menolak dan tidak mengikuti jika ada rangkaian aksi-aksi di MK.

“Karena khawatir berpotensi pada kerusuhan saat berjalannya proses persidangan di MK,” paparnya.

Menurutnya, hal tersebut hanya akan merugikan masyarakat Jakarta. Khususnya orang Betawi yang notabenenya adalah masyarakat kecil.

“Kami tidak ingin situasi memanas sampai berujung kerusuhan seperti pada 1998 lalu. Karena yang sangat dirugikan adalah orang Betawi. Kalau orang-orang lain bisa pulang kampung, sementara kalau orang Betawi mau pulang kemana? Di sini rumahnya (Jakarta, red),” ujar Oding.

Politisi Golkar itu menghimbau kepada masyarakat Jakarta, khususnya warga Betawi, atas nama Majelis Adat Betawi supaya tidak terpengaruh dengan segala bentuk konten negatif di media sosial.

“Kami mengajak supaya setiap dari kita bisa menyaring sebelum sharing kabar -kabar, yang belum tentu kebenarannya,” ucapnya.

Sementara itu, anggota Majelis Adat Masyarakat Betawi sekaligus Imam Besar FBR KH Lutfi Hakim menuturkan, demi situasi ibu kota Jakarta yang kondusif. Dia ikut mengimbau kepada pihak tergugat dan termohon, baik yang berada di Jakarta atau di luar Jakarta, supaya bisa menerima dengan legowo dan beradab. Terkait hasil persidangan MK.

“Intinya, kami warga Betawi menolak jika adanya kerusuhan, dan upaya dari orang-orang yang mencoba membuat kerusuhan serta kerusakan di Jakarta dengan dalih apa pun,” terangnya.

Dia menambahkan, Majelis Adat Betawi mendukung penuh aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas. Jika terjadi huru-hara saat pengumuman sidang MK. “Karena kami tidak mau denger ada orang kami (Betawi, red) menjadi korban. Kami ingin Jakarta tetap aman,” tuturnya.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Dimas Nur Aprianto