alexametrics

Dilema Prabowo Tentukan Cawapres, Antara Salim Segaf dan AHY

Pemilih Milenial atau Non-Jawa
7 Agustus 2018, 12:57:30 WIB

JawaPos.com – Hingga kini Prabowo Subianto belum mendeklarasikan siapa cawapres yang akan ditunjuk untuk mendampinginya di Pilpres 2019. Disinyalir keputusan untuk memilih itu dihadapkan dengan sebuah dilema.

Sebab belakangan ini ada dua kandidat kuat yang dianggap pantas menjadi cawapres untuk ketua umum Partai Gerindra itu. Yakni Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri dan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin‎ menduga menilai saat ini hanya ada dua tokoh yang bakal mendampingi Prabowo Subianto jadi cawapres. Salim Segaf Al Jufri dan AHY.

‎Dalam analisis Said, jika dilihat dari faktor kedaerahan, Salim Segaf cenderung lebih menjanjikan bagi Prabowo Subianto dibandingkan dengan AHY. Duet Prabowo – Salim Segaf‎ mengombinasikan unsur Jawa dan non-Jawa, sedangkan jika Prabowo berpasangan dengan AHY, terkesan menjadi Jawa sentris.

Sebetulnya Salim Segaf‎ dan AHY sama-sama memiliki plus minus. Untuk AHY peluang meraup suara pemilih berdasarkan faktor usia. AHY tampaknya akan mendapatkan perhatian lebih dari pemilih muda atau milenial dibandingkan dengan Salim Segaf.

Dilema Prabowo Tentukan Cawapres, Antara Salim Segaf dan AHY
Agus Harimurti Yudhoyono (Imam Husein/Jawa Pos)

“Pemilih milenial sebagai pemilih potensial AHY yang jumlahnya menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar 35 juta orang boleh jadi akan lebih tertarik untuk memberikan suaranya kepada AHY ketimbang ‎Salim Segaf ,” ujar Said kepada JawaPos.com, Selasa. (7/8).

Walaupun tidak mungkin semua pemilih milenial akan memilih AHY, tetapi lewat jargon calon pemimpin masa depan, purnawirawan muda TNI AD itu bisa saja akan juga disukai oleh sebagian pemilih senior. Jadi suara dari pemilih muda bisa dapat dia caplok, pemilih non-milenial pun bisa dipengaruhi.

“Sehingga dari sisi peluang untuk menggaet suara pemilih muda, AHY saya kira cenderung lebih menjanjikan dibandingkan dengan Salim Segaf yang usianya sudah cukup senior,” katanya.‎

Sementara itu, Salim Segaf‎ tentu juga punya peluang untuk menggaet pemilih muda, terutama dari kalangan santri pondok-pondok pesantren. Tetapi ketertarikan pemilih kepada Salim Segaf bukan disebabkan karena faktor usia, melainkan karena faktor kedekatannya dengan kelompok Islam.

“Jika dilihat dari background pemilih berdasarkan latar belakang agama, Salim Segaf tampaknya lebih unggul dari AHY,” ungkapnya.

Sebagai orang yang memiliki nasab dengan Nabi Muhammad SAW, berlatar pendidikan doktor dari perguruan tinggi di Madinah, cucu dari seorang ulama ternama pendiri Al-Khairat, serta didukung oleh gerakan Islam politik semisal Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPFU), Salim Segaf berpeluang besar untuk menggaet suara pemilih muslim.

Walaupun tidak semua pemilih muslim akan memberikan suaranya kepada Salim Segaf,‎ tetapi dengan berbagai latar belakang keagamaannya itu dia jelas lebih unggul dari AHY dari aspek tersebut.

Dengan latar belakang Salim Segaf‎ itu, maka apabila Prabowo mengambilnya sebagai cawapres, pasangan tersebut merupakan perpaduan unsur Nasionalis-Religius, betapapun istilah itu masih terus menjadi perdebatan.

Nah, kalau AHY yang jadi pasangan Prabowo, unsur nasionalisnya menjadi dominan. Jadi probabilitas untuk meraup suara pemilih dari kelompok muslim bisa diandalkan oleh Prabowo dari sosok Salim Segaf‎ ketimbang AHY.

“Dari setidaknya empat faktor perbandingan di atas itulah saya cenderung mengatakan Habib Salim dan AHY relatif berimbang,” ungkapnya.

Dilema Prabowo Tentukan Cawapres, Antara Salim Segaf dan AHY
Prabowo Subianto-Salim Segaf Al Jufri (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Akan tetapi hingga kubu koalisi Prabowo tidak hanya diisi oleh Partai Gerindra, PKS dan Partai Demokrat saja. Ada juga PAN. Partai berlambang matahari itu punya hak yang sama untuk mengusulkan nama cawapres kepada Prabowo.

Walaupum selama ini PAN tidak cukup konsisten dalam mengusulkan nama cawapres, tetapi tidak mustahil pada acara Rapat kerja nasional (Rakernas) partai itu nantinya PAN justru membuat kejutan dengan memunculkan nama baru calon pendamping Prabowo.

Nama Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo mungkin saja akan dimajukan sebagai kandidat resmi yang diusulkan oleh PAN. Dua nama itu bisa saja diajukan oleh PAN dalam rangka mencari jalan tengah, sekaligus untuk memecah kebuntuan dari persaingan ketat antara Salim Segaf‎ dan AHY yang sangat berat untuk diputuskan oleh Prabowo.

“Latar belakang Anies dan Gatot yang bukan berasal dari kader parpol manapun cukup argumentatif untuk bisa dijadikan sebagai alasan oleh PAN untuk menawarkan keduanya,” tuturnya.

“Jadi bisa saja PAN akan bilang kepada parpol-parpol calon mitra koalisinya: Sudahlah, kita ambil saja tokoh alternatif yang tidak berasal dari PKS, Demokrat, dan juga dari PAN sendiri agar cawapres Prabowo bisa lebih cepat diputuskan,” tambahnya.

Dilema Prabowo Tentukan Cawapres, Antara Salim Segaf dan AHY
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan-Gatot Nurmantyo saat bertemu di Gedung MPR/DPR (Hendra Eka/Jawa Pos)

Jika benar PAN akan menawarkan dua nama itu, maka bagi Gerindra nama Anies sepertinya akan lebih disukai ketimbang Gatot. Sebab, relasi politik antara Anies dan Gerindra sudah terbangun sejak partai itu mengusung Anies di Pilkada DKI Jakarta 2017.

PKS mungkin juga akan lebih tertarik dengan Anies ketimbang Gatot dengan alasan yang mirip dengan Gerindra. Tetapi sekali lagi, ini adalah prediksi jika PAN memang mengusulkan nama Anies atau Gatot, dan usulan itu dianggap menjadi solusi bersama oleh parpol-parpol koalisi dalam menentukan cawapres Prabowo.

Tetapi jika kondisi itu benar-benar terjadi, maka Demokrat lebih condong setuju kepada Gatot Nurmantyo. Sebab, sebagai orang yang pernah menjadi anak buahnya, SBY lebih mengenal dan cenderung lebih mempercayai Gatot ketimbang Anies.

“Nama Gatot mungkin saja diusulkan oleh PAN karena di kubu petahana saat ini saya dengar kabar bahwa nama Moeldoko kembali menguat untuk dipasangkan dengan Jokowi,” ungkapnya.

Apabila kabar itu benar, maka mungkin saja nama Gatot ditawarkan oleh PAN dalam rangka mengimbangi bintang yang disandang oleh Moeldoko. Sebab, Prabowo itu kan cuma tiga bintangnya. Sedangkan bintang Moeldoko ada empat.

Nah, agar Prabowo tidak dikecilkan dengan urusan bintang-bintangan itu, maka diajukanlah nama Gatot Nurmantyo yang juga punya bintang dalam jumlah yang sama dengan Moeldoko.

“Jika begitu konstelasinya, maka pada Pilpres 2014 nanti mungkin saja akan terjadi ‘perang bintang’ yang menjadi medan tempur bagi para Jenderal,” pungkasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (gwn/JPC)

Dilema Prabowo Tentukan Cawapres, Antara Salim Segaf dan AHY