alexametrics
Imbas Aksi Tolak Dwifungsi TNI

HPHSI Anggap Penangkapan Robertus Robet Mengada-ada

7 Maret 2019, 15:31:01 WIB

JawaPos.com – Karena diduga melecehkan TNI dan melakukan ujaran kebencian, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang juga eks aktivis Robertus Robet ‎diamankan oleh Bareskrim Polri. Langkah korps baju cokelat itu pun menuai kecaman.

‎Salah satunya, Ketua Himpunan Pemerhati Hukum Siber Indonesia (HPHSI) Galang Prayogo yang menilai tidak setuju dengan langkah kepolisian menangkap Robertus Robet. Pasalnya, penangkapan terhadap Robet terkesan mengada-ada. Apalagi, penangkapan itu menggunakan Pasal 28 ayat 2 UU ITE terkait ujaran kebencian.

“Robet ini kan tidak pernah menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial. Jadi ini tidak masuk akal. Terkesan mengada-ada,” ungkap Galang dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Kamis (7/3).

Galang juga mengatakan, Robet tidak menghina seseorang atau golongan yang berbasis suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Dia hanya menyinggung soal dwifungsi TNI, agar tidak hidup kembali di era demorasi ini.

“Kita tahu bahwa pejabat pemerintah ataupun lembaga negara tidak masuk dalam kategori ini,” ungkap dia.

Lagipula, ungkap Galang, TNI tidak pernah merasa tersinggung atas orasi Robet. TNI justru menilai orasi itu bisa menjadi masukan berharga untuk terus memperbaiki diri.

“Itu kan sudah ada pernyataan dari pihak TNI. Bahwa TNI saja tidak tersinggung loh. Lalu kenapa Robert sampai ditangkap,” tegasnya.

Sekadar informasi, ‎aktivis Robertus Robet dijemput tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kamis (7/3) dini hari. Sahabat aktivis Rocky Gerung itu ditangkap lantaran diduga melakukan penghinaan terhadap institusi TNI.

“Benar, telah dilakukan peangkapan terhadap pelaku dugaan tindak pidana penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di indonesia,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Kamis (7/3).

Kata dia, dugaan penghinaan terhadap TNI itu berlangsung pada saat Aksi Kamisan di depan Istana Negara, beberapa waktu lalu. “Tersangka saat itu melakukan orasi pada saat demo di Monas tepatnya depan istana dengan melakukan penghinaan terhadap institusi TNI,” jelas Dedi.

Adapun atas perbuatannya, dosen UNJ itu diduga melanggar Pasal 45 A ayat (2) Jo 28 ayat (2) UU Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP terkait tindak pidana menyebarkan informasi yang ditunjukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dana tau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), dan/atau Berita bohong (hoax), dan/atau penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia.

Adapun dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Robertus berlangsung pada 28 Februari 2019 lalu. Yakni dalam Aksi Kamisan Ke-575 di Monas, Jakarta. Aksi tersebut berfokus kepada penolakan Dwifungsi ABRI.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Gunawan Wibisono

Copy Editor :

HPHSI Anggap Penangkapan Robertus Robet Mengada-ada