JawaPos Radar

Pilpres 2019

Fahri Hamzah: Untuk Nyapres Lu Harus Pakai Duit, Otak Nggak Penting!

06/04/2018, 14:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
Fahri Hamzah: Untuk Nyapres Lu Harus Pakai Duit, Otak Nggak Penting!
Fahri Hamzah menghadiri acara 'Milenial Kongkow Bareng', Rabu (4/4). (dok. istimewa/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah menghadiri acara 'Milenial Kongkow Bareng' yang di gagas oleh Himapol Indonesia dan Suara Milenial. Dalam acara itu, politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu membahas berbagai macam persoalan, salah satunya soal ambang batas pencalonan presiden atau Presidential Threshold (PT).

Menurut pandangan Fahri, aturan ambang batas pencalonan presiden sebesar 20 persen dari kursi parlemen telah mempersempit kesempatan bagi sosok-sosok terbaik bangsa untuk ikut kontestasi pemilihan presiden.

“PT 20 persen adalah aturan yang dimunculkan oleh pihak eksekutif sebagai bentuk ketakutan eksekutif untuk menutup pintu kesempatan munculnya lawan yang lebih baik. Ini adalah bentuk problem penghancuran demokrasi!” katanya dalam agenda Rabu (4/4) lalu.

Fahri Hamzah: Untuk Nyapres Lu Harus Pakai Duit, Otak Nggak Penting!
Joko Widodo dideklarasikan sebagai calon presiden (capres) PDIP, saat Rakernas di Bali. (Muhammad Tan Reha/Jawapos)

Lebih lanjut, Fahri menuturkan, kandidat calon presiden (capres) seharusnya berani bertatap muka dengan kelompok mahasiswa. Selain itu, kandidat capres harus bisa memaparkan ide dan visinya, dan berdebat dengan kandidat lainnya.

Meski mempunyai berbagai kriteria itu, Fahri enggan menjawab ihwal siapa sosok capres alternatif yang didukungnya. Dirinya pun menyebut akan mengumumkannya pada waktu yang tepat.

“Saya takut ketika saya sebutkan di sini, calon saya tidak dapat tiket untuk nyapres. Tunggu tanggal mainnya aja. Di era sekarang, untuk nyapres lu harus punya duit. Otak tidak penting!” ucapnya.

Terpisah, Ketua Himapol Korwil III Fitara Shaura Habibie menjelaskan, tujuan acara ini dilaksanakan untuk mencari sosok-sosok terbaik bangsa yang akan ditawarkan ke publik sebagai capres alternatif.

“Kami berangkat dari kegelisahan teman-teman melihat sosok capres yang hanya berkutat antara dua nama Jokowi dan Prabowo. Padahal bangsa ini tidak kekurangan stok pemimpin hebat. Persoalannya, tokoh-tokoh ini kurang terekspos oleh media sehingga publik tidak tahu. Jadi, melalui kegiatan ini kami ingin mengkaji, memperkenalkan, lalu menawarkan ke publik”, ujarnya.

(aim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up