JawaPos Radar

Khawatir Pendukung Pancasila Makin Menurun, KBI Gelar Pelatihan Ini

05/09/2018, 18:16 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Teroris
Sejumlah Teroris yang ada di Mako Brimob saat peristiwa inisden keurusuhan rutan Mako Brimob Kelapa dua. Diduga banyak di anatara mereka yang menjadi korban radikalisme dan anti Pancasila. (istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Berdasar hasil surveinya beberapa bulan lalu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) menemukan data yang mengkhawatirkan terkait perkembangan Pancasila. Sejak 2005 hingga 2018, warga pendukung dasar negara yang sah itu angkanya terus menurun, dari 85,2 persen menuju 75.3 persen. 

Dalam kurun 13 tahun terakhir, penurunan itu terjadi sekitar 10 persen. Di sisi lain, pendukung NKRI bersyariah grafiknya mengalami kenaikan sekitar 9 persen. Yakni dari 4,6 persen pada 2005 menjadi 13,2 persen pada 2018.

Melihat temuan LSI itu, Komunitas Bela Indonesia (KBI) menggelar pelatihan terhadap 1.000 Juru Bicara (Jubir) Pancasila. Agenda ini melibatkan 40 orang peserta berasal dari beragam latar belakang seperti aktivis mahasiswa, perwakilan dari organisasi keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga penghayat kepercayaan. 

Selain penguatan isu kebangsaan, mereka juga dilatih skill penulisan, berdebat, dan manajemen media sosial. Acara ini diselenggarakan pada 31 Agustus hingga 3 Sepetember bertempat di Hotel The Rizen, Bogor.

Kordinator program KBI Anick HT menyatakan, pelatihan ini dibuat mengingat ancaman intoleransi dan terorisme saat ini sudah pada tahap yang sangat mengkhawatirkan, bahkan modusnya semakin mengkhawatirkan seperti melibatkan keluarga, termasuk anak-anak. 

Oleh karenanya, Pancasila sebagai ideologi bangsa sebagai perekat terbaik yang dimiliki bangsa ini perlu didengungkan ulang, bahkan dimarketingkan. Pengelolaan media sosial menjadi salah satu titik tekan penting dalam pelatihan ini. 

“Beberapa riset menunjukkan, di dunia media sosial saat ini ternyata follower, para influencer atau tokoh masyarakat yang menyebarkan konten negatif lebih banyak daripada yang konten positif,” ujar Anick dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com.

Oleh sebab itu, Anick berharap seluruh elemen bangsa sadar terhadap pentingnya menjaga keutuhan bangsa. Sehingga diharapkan menurunnya pro Pancasila seperti temuan LSI tidak terjadi lagi.

"Kami ingin sebanyak mungkin elemen bangsa ini peduli terhadap keutuhan dan kedamaian negeri ini. Dan setelah peduli, lalu melakukan sesuatu, sekecil apapun,” tegas Anick.

Sementara itu, Mohammad Monib sebagai salah satu pemateri ikut menceritakan bahaya radikalisme. Bahkan saat dirinya dulu masih terpapar paham itu, begitu negatif ketika memandang orang yang berbeda keyakinan.

“Saat itu, seperti santri-santri lain, saya juga menganggap orang di luar saya salah semua, dan cenderung memusuhi mereka. Bahkan bersalaman dengan non-muslim bagi saya adalah najis,” sambung Monib. 

Cerita narasumber tersebut mengilhami peserta betapa doktrin radikalisme ini sangat berbahaya. Karena membuat orang berpikir untuk menegasikan orang lain yang berbeda.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up