Pilpres 2019

Imbas Populisme Islam, Prabowo Untung Jika Berjodoh dengan Salim Segaf

04/08/2018, 23:52 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto saat bersama dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf. (Derry/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Populisme Islam telah merambah ke dalam dinamika politik nasional dan telah mengkristal menjadi sebuah kekuatan politik baru. Gerakan itu telah menemukan momentumnya dalam pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 lalu dan sangat mungkin berlanjut pada pilpres 2019.

Itu diungkapkan oleh Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago yang meyakini bahwa gelombang populisme Islam akan menjadi salah satu kekuatan yang digunakan oleh kubu Prabowo Subianto. Diketahui saat ini mantan danjen kopassus itu didukung oleh Gerindra, Demokrat, PKS dan PAN.

"Kita tidak bisa tutup mata dengan munculnya sentimen publik dan tren politik yang sedang melanda negara-negara muslim di seluruh dunia-termasuk Indonesia, yakni menguatnya semangat (ghirah) gelombang populisme Islam", ujar Pangi pada JawaPos.com, Sabtu (4/8).

Menurut Pangi, populisme Islam yang menjelma menjadi salah satu kekuatan politik, kini ikut memainkan peranan yang cukup strategis dalam rangka menggalang kekuatan untuk mendukung atau tidak terhadap poros koalisi yang sudah terbentuk, Ijtima Ulama, GNPF 212 sebagai aksi nyata dari gerakan ini.

Rekomendasi yang dikeluarkan oleh gerakan ini menjadi pertimbangan penting, menjadikan sebagai daya tawar dan lobi (bergaining position) politik di kubu Prabowo yang semakin dinamis di tengah semakin bertambahnya partai yang bergabung dalam koalisi tersebut.

"Paket mana yang dikeluarkan sebagai hasil rekomendasi dari Ijtima’ ulama GNPF yakni Salim Segaf Al-Jufri dan Ustad Abdul Somad (UAS) adalah dua nama yang punya basis massa dan dukungan kuat di akar rumput Islam," paparnya.

Diketahui, Salim Segaf Al-Jufri adalah Ketua Majelis Syura PKS, mantan menteri Sosial era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan juga pernah menjadi duta besar RI untuk Arab Saudi dan Oman. Tidak hanya itu, Salim juga merupakan keturunan Ulama besar Palu, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan nama Guru Tua pendiri yayasan Al-Khairaat.

"Beliau juga masih punya garis hubungan sangat dekat dengan Habaib dan juga dekat dengan kiyai NU, dan tokoh Muhammadiyah, cenderung lebih moderat dan mampu berkomunikasi dengan semua kelompok dan kekuatan Islam mana pun," paparnya. 

Oleh karena itu, lanjut Pangi, penerimaan (akseptabel) terhadap sosok Salim Al-Jufri cukup luas sehingga upaya menyatukan kekuatan Islam yang menjadi agenda politik dikalangan umat Islam akan menemukan momentum yang tepat dan kian nyata.

"Tentu selain sudah berpengalaman dalam urusan pemerintahan (punya jam terbang) dengan posisi strategis sebagai mensos dan dubes. Figur Salim bisa menjadi modal yang sangat berharga untuk menjadi wakil presiden jika nanti beliau berjodoh dengan Prabowo," ujarnya.

Pangi menilai, rekomendasi dari ulama yang tergabung dalam GNPF ini menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi Prabowo, jika ingin memenangkan pilpres 2019 dengan dukungan kuat dari kalangan Islam dibandingkan dengan mengambil nama lain dari kalangan nasionalis seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

"Kombinasi Prabowo-AHY kurang  menjual karena sama-sama militer, ceruk segmennya juga sama irisannya. Sulit melawan Jokowi jika cawapresnya mantan wali kota Solo itu dari kalangan Islam," paparnya.

Oleh karena itu, dari beberapa pertimbangan di atas maka kombinasi Nasionalis-Religius sepertinya akan menghiasi persaingan dan kompetisi dalam pilpres 2019 mendatang.

"Pasangan Prabowo-Salim Segaf Al-Jufri akan menjadi lawan tanding yang sebanding, cukup keras dan sengit ujung kompetisinya. Artinya cukup merepotkan dan menyulitkan ruang gerak Jokowi dan pasangannya," pungkasnya. 

 

(gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi