alexametrics

Membaca Pesan Tersirat Di Balik ‘Sentilan’ Wiranto

Oleh: Irfaan Sanoesi*
3 Februari 2019, 05:21:54 WIB

Siapa sih pemimpin gendeng itu? Begitu pertanyaan saya saat membaca kalimat tersebut viral di lini masa hari ini yang menimbulkan pro dan kontra di mata netizen.

Usut punya usut, ternyata pernyataan pemimpin gendeng itu berasal dari sosok Pak Wiranto. Saya menyebut Pak Wiranto karena usia saya yang terpaut jauh sebagai penghormatan kepada yang lebih senior.

Saya telusuri lagi, dapet juga pernyataan Pak Wiranto yang juga kontroversial: “Jangan pilih pemimpin brengsek”.

Saya semakin penasaran dengan dua pernyataan Pak Wiranto ini. Saya pahami kata demi kata, kalimat per kalimat dalam berita-berita tersebut untuk mendapatkan narasi yang utuh. Hingga akhirnya saya sadar bahwa kalimat larangan yang terucap dari bibir Pak Wiranto tidak lahir di ruang hampa.

Gendeng berasal dari bahasa Jawa yang artinya gila, tidak normal baik ingatan maupun pikiran. Jika kalimat Pak Wiranto dimaknai secara harfiah, akan sukar diterima nalar karena tidak mungkin seorang gila dapat memimpin jutaan umat manusia sedangkan mengurus dirinya pun tidak bisa

Pernyataan Pak Wiranto akan mendapatkan momentumnya jika dimaknai secara konotatif. Tak bisa dilepaskan dari konteks yang mengiringinya.

Pernyataan Pak Wiranto itu berlaku universal, tidak melulu dikaitkan dengan konteks hari ini. Dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa setiap orang itu pemimpin dan akan bertanggungjawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Bagi perempuan jomblo, jangan pilih calon imam (pemimpin) gendeng. Bagaimana mungkin dia akan membahagiakan si istri jika tidak bisa mengontrol emosinya, tidak bertanggungjawab, gampang marah pesimis dan sebagainya. Kata gendeng di sini masih sangat relevan.

Begitu pun untuk cakupan yang lebih luas, kita yang sama-sama memiliki jiwa pemimpin, wajib hati-hati memilih pemimpin yang akan memimpin kita. Di sinilah tugas kita agar lebih selektif memilah dan memilih calon pemimpin kita.

Bagaimana kita menyeleksi calon pemimpin kita? Mudah saja. Menarik mengutip seorang psikiater Dadang Hawari, yang juga dikutip Pak Wiranto. Kata dia, seorang pemimpin setidaknya harus memenuhi sejumlah kriteria yakni kecerdasan, kemampuan emosional, kreativitas, dan spiritual.

Tak bisa dibayangkan jika pemimpin tidak mampu mengontrol emosinya sendiri. Apalagi memimpin ratusan juta umat manusia. Apa jadinya pemimpin hanya bisa menebar ketakutan dan hoax saja tidak punya jiwa optimistis. Tidak akan lahir kreativitas warganya jika pemimpinnya seorang pesimis dan pemarah.

Jika konteks di atas dikaitkan dalam pilpres, maka sangat relevan. UUD 1945 mengamanatkan agar negara hadir dan mempunyai tanggung jawab untuk melindungi segenap bangsa Indonesia.

Jelas kita nggak mau memiliki pemimpin yang pesimis, suka marah-marah, suka nakut-nakutin rakyatnya. Itu berarti dia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa menakhodai republik ini sedangkan dia sendiri punya masalah besar dalam dirinya.

Bahasa sederhananya, pilih pemimpin yang sabar dan tawadhu. Butuh sosok pemimpin sabar, tawadhu tapi bekerja keras sehingga meninggalkan prestasi dan rekam jejak yang nyata.

Jika demikian, maka apa yang dikatakan Pak Wiranto itu benar. Beliau mengingatkan kepada sesama anak bangsa jangan salah pilih pemimpin. Jangan pilih pemimpin gendeng dan brengsek kalau nggak mau menyesal akhirnya.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Kajian Islam Poros Kebangsaan

Editor : Imam Solehudin

Membaca Pesan Tersirat Di Balik 'Sentilan' Wiranto