alexametrics

NasDem Klaim Menang Banyak di Pilkada, Ini Fakta Elektabilitasnya

2 Juli 2018, 22:36:15 WIB

JawaPos.com – Pilkada serentak telah usai, hasil hitung cepat sudah dirilis. Partai NasDem yang mengklaim sebagai parpol yang paling banyak memenangkan hajatan demokrasi lokal itu pun menuai kritik. Bahkan dianggap sedang menutupi elektabilitasnya yang stagnan.

Kritik itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago yang menilai wajar jika NasDem gencar mempublikasikan klaim kemenangan di Pilkada serentak.

“Survei Litbang Kompas April 2018 menunjukkan elektabilitas NasDem hanya 2,5 persen atau di bawah ambang batas parlemen 4 persen. Jadi wajar klaim kemenangan di pilkada dipublikasikan besar-besaran agar mempengaruhi pemilih,” kata Pangi di Jakarta, Senin (2/7). 

Klaim kemenangan itu menurut Pangi sengaja digencarkan agar seolah-olah suara partai ini (NasDem) sudah besar karena berhasil memenangkan banyak pilkada. “Padahal pilkada itu kan memilih figur, bukan partai,” imbuhnya.

Pangi menjelaskan, memang banyak faktor yang memengaruhi keterpilihan pasangan calon (paslon) dalam pilkada. Misalnya branding, isu dan program, mesin parpol dan figur.  “Tapi kebanyakan itu faktor utamanya karena figur,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pangi menyoroti sejumlah parpol menengah, seperti NasDem, yang langsung mengklaim kemenangan paslon yang diusung, meski yang terpilih menurut hasil hitung cepat, bukanlah kadernya.

“Problemnya parpol papan tengah ini sudah main klaim langsung saja kalau menang. Oke, ada parpol yang kerja, tapi figur dominan lebih kuat,” tegasnya lagi.

Bahkan, lanjut Pangi, yang berbahaya dan kerap terjadi di lapangan adalah fakta bahwa ada beberapa parpol papan tengah yang hanya disewa perahunya oleh calon yang populis. “Jadi agak sulit jika dikatakan ini murni prestasi parpol tengah,” ujarnya.

Jika kemenangan dilihat dari banyaknya kader yang menjadi kepala daerah/wakil kepala daerah, kata Pangi, parpol-parpol papan atas seperti PDIP dan Golkar masih berada di posisi teratas.

“Parpol atas seperti PDIP dan Golkar yang disebut-sebut sudah tumbang karena paslon yang didukung tidak banyak menang, itu kurang tepat. Karena yang harusnya dilihat, yang terpilih itu kader partai mana?” tanya Pangi.

Pangi melanjutkan, hal yang berbeda tentunya terjadi di Pilgub Jateng yang dimenangkan oleh Ganjar Pranowo dan Taj Yasin.

“Ganjar memang PDIP. Itu konkret. Jadi parpol papan tengah dan bawah jangan jumawa,” pungkasnya.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : (aim/JPC)

NasDem Klaim Menang Banyak di Pilkada, Ini Fakta Elektabilitasnya