alexametrics

Berwirausaha, Hiburan Santri di Sela Menghafal Alquran

Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an, Wonosalam
29 Oktober 2020, 16:11:53 WIB

WAKTU menunjukkan pukul 08.00. Hawa Desa Sumber di Kecamatan Wonosalam, Jombang, terasa sejuk (23/10). Kira-kira suhu udara mencapai 19 derajat Celsius. Suara jangkrik bersahutan memecah kesunyian saat Jawa Pos berkendara menyusuri jalanan naik turun di area perbukitan yang terkenal dengan buah duriannya tersebut. Mendekati area Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an, lantunan ayat-ayat suci dari corong pendapa musala pesantren itu memecah kesunyian.

Bukan perkara mudah menjangkau pesantren tersebut. Letaknya memang hanya sekitar 200 meter dari jalanan utama Kecamatan Wonosalam. Namun, jalan yang harus dilewati menanjak. Plus curam, sempit, dan berkelok. Lebarnya ngepres untuk satu mobil. Di kanan-kiri jalan, ada got cukup lebar. Sudut kemiringan kira-kira hampir 45 derajat. Bagi sopir pemula, medan itu sangat menantang.

”Sampean berarti hebat. Biasanya, orang yang baru pertama ke sini nggak berani kendaraannya dibawa sampai ke atas sini. Parkir di bawah semua,” tutur KH Ahmad Ghozali Fadli, pengasuh Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an, Wonosalam, Jombang, saat menyambut kedatangan koran ini.

Empat gubuk bambu berjajar rapi di depan gedung asrama. Beberapa santri duduk bersila. Mereka melatih hafalan Alquran. Beberapa santri lain tampak duduk di bebatuan di pinggiran aliran sungai yang masih berada di area pesantren. Bibir mereka semua komat-kamit. Sambil sesekali melirik Alquran yang mereka genggam.

Aktivitas keseharian santri pesantren khusus tahfiz di Bumi Al-Qur’an memang seperti itu. Sebagian besar waktu mereka habiskan untuk menghafal Alquran. Baik pagi, siang, maupun malam. Namun, bukan berarti mereka tidak produktif untuk kegiatan-kegiatan lain. Pada akhir pekan, sejak Jumat sampai Minggu, mereka mengisi waktu dengan belajar berwirausaha. Ada yang beternak. Ada juga yang berkebun.

Baca juga: Belajar Bisnis dari Pesantren, Ekspor Kopi ke Australia hingga UEA

Bahkan, pesantren itu sekarang mampu menelurkan beberapa produk makanan olahan skala UMKM. Di antaranya, minuman bubuk jahe merah, kopi kemasan, dan selai salak. Semua produk tersebut telah memiliki izin edar resmi. Kemasannya juga menarik dan kekinian. ”Bahan bakunya kami beli dari tanaman masyarakat sekitar,” ungkap Kiai Ghozali.

Omzetnya kini sekitar Rp 20 juta per bulan. Semua dikerjakan santri-santri sendiri. Mulai pengolahan sampai pengepakan. Mereka juga dibantu beberapa pengurus pesantren. ”Bisa buat belajar merancang bisnis kecil-kecilan,” ucap Alfin Salim, santri di pesantren Bumi Al-Qur’an yang sudah hafal 10 juz.

Meski begitu, Kiai Ghozali menyatakan bahwa aktivitas kewirausahaan di pesantrennya masih sebatas tasliyah alias hiburan bagi para santri. Diharapkan, mereka tidak jenuh. Maklum, sejak Senin sampai Kamis, para santri selalu berkutat dengan hafalan Alquran. Karena itu, sampai saat ini dia tidak pernah mematok target penjualan.

 

Saksikan video menarik berikut:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : irr/c14/oni


Close Ads