alexametrics

Keriuhan Para Guru Ketika Didatangi Mendikbud Nadiem Makarim

27 Oktober 2019, 10:31:26 WIB

JawaPos.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berusaha cepat untuk memahami persoalan pendidikan di tanah air. Kemarin (26/10) dia menghadiri acara Temu Pendidik Nusantara yang digelar di Sekolah Cikal, Cilandak, Jakarta Selatan. Di sana Nadiem bertemu para pendidik dari komunitas guru belajar seluruh Indonesia. Mendengarkan keluh kesah hingga harapan perubahan pendidikan tanah air di masa depan.

Saat mantan bos Gojek itu datang, suasana kelas mendadak riuh. Para guru yang sedang mengikuti kelas kompetensi berteriak saat sang menteri muncul dari balik pintu. ”Wah, Mas Nadiem, foto ya,” seru para guru.

Senyum Nadiem pun mengembang. Dia menyalami guru satu per satu. ”Tiga atau empat kelas dengan guru dari berbagai macam daerah. Luar biasa. Saya terinspirasi sama motivasi mereka, energi mereka, semangat mereka untuk belajar lebih baik,” tutur Nadiem.

Suasana diskusi pun semakin hidup. Nadiem mendengarkan keluh kesah, masukan, hingga harapan para guru kepada pemerintah ke depan. ”Banyak sekali guru yang memang ingin lebih baik. Ingin belajar seperti muridnya,” katanya. Sebab, tidak mungkin membuat murid mau belajar kalau gurunya saja tidak ingin belajar.

Nadiem tidak sendiri. Dia didampingi inisiator Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab. Najelaa senang menteri termuda Kabinet Indonesia Maju itu menyempatkan hadir. Nadiem dan Najeela ikut belajar apa yang harus dilakukan guru di kelas: memberikan umpan balik, teknik bertanya, hingga cara mengajarkan disiplin kepada siswa.

”Mungkin masih hari-hari awal beliau (menjadi menteri, Red). Jadi, lebih banyak mendengar. Kan memang sejak awal bilangnya mau belajar dulu,” kata Najelaa. Dengan bertemu para guru, Nadiem berkesempatan mendengarkan kebutuhan guru yang mengajar di lapangan.

Kebutuhan tersebut tidak melulu soal dana. Para guru justru menyuarakan soal kemerdekaan untuk belajar. Mereka menyampaikan kepada Nadiem bahwa topik yang diberikan saat pelatihan agar sesuai yang mereka butuhkan. Kemudian, kompetensi yang diberikan jangan hanya instruksi yang terkesan template. ”Tapi, ingin dapat contoh praktik sehingga bisa diadaptasi konteksnya untuk diterapkan di daerah mengajar masing-masing guru,” terang Najeela.

Sebab, harus diakui bahwa selama ini topik pelatihan yang diberikan dinas pendidikan daerah terlalu memaksa. Tidak sesuai kebutuhan. Tak ada contoh praktik sehingga guru tidak mendapatkan gambaran yang pas mengenai konsep yang diajarkan.

Para guru juga menyampaikan, banyaknya tuntutan tugas di luar mengajar membuat guru sulit mengeksplorasi diri untuk berkarya. Misalnya, menulis buku, terlibat dalam seminar, dan mengikuti pelatihan. ”Jadi, percakapan lebih ke proses belajar gurunya sehingga membuat Mas Nadiem terkesan dan optimistis,” ujar perempuan 43 tahun tersebut.

Dari proses itu, Nadiem sadar tantangan untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru sangat berat. Di sisi lain, dia mendapat inspirasi positif untuk mengubah pendidikan yang lebih baik lima tahun ke depan. ”Saya termotivasi dan harapannya akan bertemu berbagai macam guru lagi,” tandas Nadiem.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : han/c10/fal

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads