FSGI Minta Evaluasi PTM di Daerah Level 1–3

27 September 2021, 11:00:51 WIB

JawaPos.com – Kebijakan menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) tetap akan dilanjutkan. Baik itu di sekolah di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) maupun Kementerian Agama (Kemenag).

Namun, pihak terkait harus menjamin bahwa anak tetap sehat.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan evaluasi terkait PTM terbatas. Berdasar data, laporan kasus Covid-19 pada anak yang dirawat dokter anak yang tergabung dalam IDAI selama Maret–Desember 2020 ada 37.706 kasus. Menurut Ketua Umum IDAI Prof dr Aman B. Pulungan SpA(K), itu merupakan gambaran data kasus Covid-19 anak di Indonesia pada gelombang pertama.

”Angka kematian yang cukup tinggi adalah hal yang harus dicegah dengan deteksi dini dan tata laksana yang cepat dan tepat,” tuturnya kemarin (26/9).

Angka kematian tertinggi pada anak usia 10–18 tahun sebanyak 26 persen. Lalu, usia 1–5 tahun 23 persen, 29 hari sampai kurang dari 12 bulan 23 persen, 0–28 hari 15 persen, dan kurang dari 10 tahun 13 persen.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa penyebab kematian anak akibat Covid-19 terbanyak adalah faktor gagal napas, sepsis, serta penyakit bawaan. Sementara itu, komorbid terbanyak pada anak dengan Covid-19 yang meninggal adalah malanutrisi.

Aman menyatakan bahwa IDAI mendukung PTM terbatas di masa Covid-19. Namun, kesehatan anak harus dijamin. IDAI memberikan rekomendasi tata cara PTM. Uji coba PTM terbatas harus diikuti anak yang divaksin dan pada daerah dengan positivity rate 8 persen. Selanjutnya, guru dan keluarga diminta memperkuat protokol kesehatan. ”Harus mempertimbangkan transportasi pulang dan pergi,” ucapnya.

Beberapa minggu terakhir, ungkap Aman, poliklinik dipenuhi anak sekolah yang terpapar Covid-19. Untuk itu, laporan tersebut diharapkan bisa ditindaklanjuti.

Sementara itu, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengapresiasi keterbukaan Kemendikbudristek soal data penularan Covid-19 pada siswa dan guru. Meski kemudian dikonfirmasi ulang bahwa data 1.299 sekolah tersebut tidak semua merupakan klaster sekolah. Data merupakan akumulasi laporan satuan pendidikan yang warga sekolahnya pernah tertular Covid-19 sejak Juli 2020. Kendati begitu, tetap perlu digarisbawahi, banyak siswa dan guru yang terpapar Covid-19. Risiko penularan di sekolah saat PTM tetap tinggi.

Sekjen FSGI Heru Purnomo menyesalkan adanya peserta didik dan pendidik/tenaga kependidikan yang terkonfirmasi Covid-19, mulai jenjang pendidikan PAUD sampai SMA/SMK yang mencapai 19.153 orang. Menurut dia, itu angka yang besar. ”PTM baru digelar oleh 42 persen satuan pendidikan saja sudah tinggi kasus, apalagi jika PTM digelar serentak nanti,” ucapnya.

Terlebih, kasus paling banyak terjadi di jenjang paling bawah. Yakni, SD sebesar 2,78 persen atau 581 sekolah dan PAUD sebanyak 252 sekolah. Karena itu, pihaknya mendorong pemerintah daerah tidak menggelar PTM terlebih dulu untuk jenjang PAUD, TK, serta SD kelas bawah (kelas I–III). Sebab, mereka belum divaksin dan perilakunya sulit dikontrol. ”Karenanya rentan penularan,” tuturnya.

Heru mengaku bingung dengan kebijakan pemerintah yang membuka sekolah PAUD dan SD. Namun, di sisi lain, PTM di perguruan tinggi belum diberlakukan.

Selain itu, pihaknya mendesak pemerintah daerah dan Kemendikbudristek segera mengevaluasi 118 ribu sekolah di wilayah PPKM level 1–3 yang telah menggelar PTM terbatas. Hasilnya bisa menjadi contoh baik maupun catatan khusus jika ada contoh buruk yang berdampak pada klaster sekolah.

Gugus tugas Covid-19 daerah dan dinas terkait juga diminta mengontrol penerapan 3M di satuan pendidikan yang menggelar PTM. Sebab, banyak laporan dari sejumlah serikat guru daerah soal adanya pelanggaran terhadap protokol kesehatan di sekolah saat PTM terbatas.

Pengawasan itu, lanjut Heru, diharapkan bisa selaras dengan penguatan testing, tracing, dan treatment (3T) di daerah. Tujuannya, positivity rate bisa menggambarkan kondisi yang sesungguhnya di wilayah tersebut. ”Sebab, kalau merujuk ketentuan WHO, positivity rate di bawah 5 persen yang aman untuk PTM,” ujarnya. FSGI juga berharap pemerintah bisa segera mendistribusikan vaksin untuk anak-anak.

Sementara itu, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi meninjau sejumlah madrasah yang kembali menggelar PTM. Kepada para siswa dia meminta untuk disiplin menjaga protokol kesehatan. Salah satu yang dia kunjungi adalah MAN 1 Tasikmalaya. ”Sekarang PTM sudah boleh dijalankan dengan sejumlah pembatasan,” katanya kemarin.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : mia/lyn/wan/c9/fal

Saksikan video menarik berikut ini: