alexametrics

Praktik Program Merdeka Belajar Ala Mas Menteri Nadiem Belum Tampak

26 Februari 2020, 14:23:05 WIB

JawaPos.com – Mendikbud Nadiem Anwar Makarim meluncurkan program Merdeka Belajar pada 20 Januari lalu. Setelah lebih sebulan berselang, praktik program tersebut tidak nampak di lapangan. Kegiatan siswa di sekolah masih sama saja seperti sebelum-sebelumnya. Perlu gerakan di tingkat akar rumput untuk menjalankan program pendiri Gojek itu.

Sorotan itu disampaikan pencetus Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal. Dia mengatakan, program Merdeka Belajar sudah lama diluncurkan, namun praktiknya masih belum nampak. “(Merdeka belajar, Red) sebuah gebrakan yang sangat cocok untuk menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia,” kata Rizal saat diwawancarai Rabu (26/2).

Program merdeka belajar diantaranya bakal tertuang dalam bentuk penerapan asesmen sebagai pengganti USBN. Kemudian meniadakan ujian nasional, menyederhanakan rencana program pembelajaran (RPP) menjadi selembar saja, dan merevisi kebijakan zonasi dalam masa penerimaan siswa baru. Menurut Rizal kegiatan itu tampak sebagai strategi yang kontekstual.

Namun kenyataannya, konsep yang matang tersebut masih belum terlihat wujudnya dalam penerapan di level praktis. Menurut Rizal, mengubah kebijakan memang tidak mudah dengan adanya birokrasi yang berlapis-lapis. Apalagi kebijakan itu mengharuskan eselon pemerintah untuk menggeser kultur standardisasi yang sudah bertahan selama berpuluh-puluh tahun di Indonesia.

Lebih lanjut Rizal mengatakan, perlu ada perubahan paradigma lewat gerakan akar rumput sebagai jalan tengah mengatasi hambatan implementasi program Merdeka Belajar itu. “Apa yang dibutuhkan Indonesia saat ini sebenarnya bukan sekadar perubahan birokrasi. Tapi perubahan paradigma pendidikan,” jelasnya.

Perubahan paradigma itu mengarah pada perubahan mindset guru. Kemudian juga kultur sekolah yang merdeka untuk bereksperimen baik dalam pembelajaran, maupun pengelolaan perubahan sekolah. Rizal mengatakan perubahan semacam itu hanya akan terjadi jika dilakukan lewat perubahan akar rumput. Di antaranya adalah di kalangan guru.

Rizal menjelaskan para guru itulah yang paling memahami dan menguasai kondisi pendidikan. “GSM mengakomodasi semangat pergerakan guru-guru ini dengan framework yang mudah diterapkan dan mampu menciptakan perubahan nyata,” kata pria yang juga dosen fakultas teknik UGM itu. Dia menjelaskan, GSM sebagai platform gerakan akar rumput di bidang pendidikan, bakal terus
mengubah paradigma para stakeholder pendidikan yang merupakan peran strategis.

Sehingga sekolah yang menyenangkan tidak hanya dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu saja. Rizal menjelaskan, melalui GSM mereka mengusahakan kualitas pendidikan yang merata. Selain itu berjuang untuk memangkas tajamnya ketimpangan antara sekolah favorit dan pinggiran. Baginya pendidikan berkualitas seharusnya menjadi hak semua anak dan sekolah di Indonesia.

Editor : Kuswandi

Reporter : Hilmi Setiawan


Close Ads