alexametrics

Sinarmas World Academy Latih Soft Skill Siswa Lewat Program SA dan CAS

25 Mei 2022, 16:00:36 WIB

JawaPos.com – Sekolah tak hanya memberi ilmu pada siswa lewat akademis saja, tetapi juga dapat melatih kemampuan soft skill siswa. Contohnya, kegiatan yang digagas dan dilakukan oleh para siswa Sinarmas World Academy (SWA). Para siswa di sana tak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan soft skill untuk siap terjun ke dunia kerja.

Mereka juga didorong untuk menelurkan ide untuk membuat project. Sehingga bisa dibilang, para siswa di Sinarmas World Academy (SWA) menjadi calon generasi CEO di masa depan dengan menciptakan sebuah program.

Para siswa mengikuti program Service as Action (SA) dan Creativity, Activity, and Service (CAS). Program itu membuat student di SWA memiliki pemahaman yang luas dalam memaksimalkan pembelajaran melalui kondisi kehidupan nyata.

“SA dan CAS itu merupakan program yang diwajibkan dalam kurikulum International Baccalaureate (IB). SA merupakan program untuk kelas 6-10, sementara CAS untuk kelas 11-12,” kata SA & CAS Coordinator, Elma, kepada JawaPos.com.

Menurutnya, melalui program ini, para siswa didorong untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari ke sebuah kegiatan yang berdampak bagi orang banyak. Tidak hanya membantu secara langsung dalam bentuk sumbangan atau donasi, tapi beragam penelitian dan karya juga menjadi hal yang penting bagi portfolio mereka.

“Program ini melatih soft skill para siswa sehingga mereka tahu bagaimana caranya memecahkan masalah dan menciptakan sesuatu project,” kata Elma.

Terlebih SWA fokus membangun Academic Profile setiap siswa sejak tingkat SMP supaya nantinya di akhir tahap sekolah, setiap siswa telah memiliki bekal untuk mereka melanjutkan pendidikan di tingkat Universitas standard kelas dunia.

Dalam SA dan CAS ini terdapat berbagai macam kegiatan yang diperbaharui setiap tahun ajarannya.

Mulai dari yang paling sederhana seperti mengumpulkan sampah plastik dan menjadikannya sebuah karya daur ulang, memberikan pelatihan pengajaran bahasa Inggris ke sekolah yang ada di pedalaman, sampai membuat berbagai macam penelitian atau industri rumahan yang menghasilkan produk nyata seperti Face Shield utk didonasikan ke klinik sekitar yang membutuhkan. Program itu pun tak terhambat pandemi Covid-19.

Kegiatan yang dilakukan untuk program CAS dapat berupa kelanjutan dari proyek SA yang dilakukan siswa pada jenjang sebelumnya. Dengan demikian, siswa dapat memaksimalkan implementasi proyek yang telah dibuat sehingga hasil atau dampak positifnya pada masyarakat lebih terlihat.

“Setelah siswa memiliki ide atau gagasan menarik, mereka akan melakukan investigasi dan riset lebih mendalam. Selanjutnya, mereka merencanakan kegiatan yang ingin dilakukan dalam bentuk proposal. Proposal ini kemudian dibawa ke guru penanggung jawab program lalu dievaluasi hingga ke tingkat upper management SWA. Dengan proses ini siswa menjadi terlatih untuk mendapatkan feedback dan membuat perencanaan sebaik-baiknya,” tutur Elma.

Jika disetujui, lanjutnya, siswa dapat langsung melaksanakan kegiatan tersebut. Meski ada yang dikerjakan secara individu, kebanyakan kegiatan SA dan CAS dilakukan siswa secara berkelompok, baik dalam kelompok kecil maupun yang lebih besar dengan cara berkolaborasi.

Para siswa rata-rata menyelesaikan hasilnya dalam berbagai bentuk laporan, seperti video, artikel, pertunjukan, dan karya musik. Rata-rata dituntaskan dalam waktu 1,5 tahun atau lebih.

Elma menambahkan, meski menjadi syarat kelulusan, hal terpenting dalam mengikuti program SA dan CAS adalah siswa dapat memahami langsung persoalan yang dihadapi masyarakat dan mengimplementasikan materi pelajaran yang mereka sukai serta kuasai untuk membantu mengatasinya.

Dalam proyek-proyek yang dilakukan, para siswa tetap mempunyai keinginan pencapaian yang ambisius, walau di tengah pandemi Covid-19 yang memberikan banyak hambatan. Menurutnya, hal ini mengembangkan sifat kepemimpinan siswa.

Selain itu, SWA Admissions Vincent mengatakan bahwa dengan pengalaman mengerjakan sebuah proyek dari program SA dan CAS, para siswa secara otomatis telah memiliki portofolio yang baik. “Hal tersebut dapat menjadi nilai lebih untuk pertimbangan masuk ke universitas. Terlebih, kebanyakan siswa SWA berkeinginan melanjutkan ke universitas di luar negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Vincent juga menjelaskan bahwa setiap tahun para siswa yang baru naik ke kelas 6 akan direkrut oleh kakak kelas untuk bergabung ke program SA yang sedang dikerjakan. Para siswa yang sebelumnya telah mendapatkan program SA pun melakukan presentasi untuk menarik minat adik kelas.

“Para siswa diperbolehkan untuk memilih lebih dari satu proyek yang diminati. Namun, mereka sendiri yang harus dapat mengatur waktu untuk melakukan kegiatan yang diikuti,” kata Vincent.

Berbagai kegiatan oleh siswa SWA
Sejak berdirinya sekolah internasional SWA pada Juli 2008, berbagai kegiatan SA dan CAS telah dilakukan oleh para siswa. Tak hanya memberi sumbangan atau donasi, para siswa juga melakukan beragam penelitian dan menghasilkan karya yang dapat membantu masyarakat.

Beberapa hasil project para siswa di antaranya :

1. Project Face Shield
Project di bawah salah satu penggagas bernama Hyung Jun ini menyebarkan kebaikan bagi orang lain. Salah satu kisah inspiratif adalah Proyek SWA MSHS IB CAS bernama Industrial Safeguard Initiative (ISI) @isi.covid19 yang telah memproduksi dan mendonasikan lebih dari 6000 pelindung wajah dan 5000 masker bedah.

Sebagai salah satu proyek yang dipimpin oleh mahasiswa, ISI bertujuan untuk menyediakan alat pelindung diri yang tepat bagi pekerja penting dan garis depan yang mencoba yang terbaik untuk mengurangi penyebaran Covid-19—dan karenanya mempromosikan lingkungan kerja yang lebih aman selama masa Covid-19 Pandemi.

Dimulai selama 2020, para siswa merancang pelindung wajah mereka sendiri menggunakan program komputer. Menariknya, mereka menetapkan standar sehingga produk akhir harus diproduksi menggunakan bahan sisa dari perusahaan pakaian.

Setelah pergi ke beberapa perusahaan dan pabrik besar untuk mengajukan ide, proposal mereka akhirnya diterima oleh pabrik sepatu Nike lokal, yang memungkinkan mereka untuk mulai memproduksi produk.

ISI saat ini telah mengumpulkan lebih dari Rp 110.000.000 untuk mendukung dan mempertahankan siklus produksi mereka. Saat ini, lebih dari 15.000 lebih masker bedah siap disumbangkan kepada para pekerja garda terdepan dan klinik yang paling membutuhkan.

Industrial Safeguard Initiative adalah salah satu dari banyak proyek IB CAS dan SA yang menarik di SWA. Nantikan kisah inspiratif lainnya yang akan datang.

2. Mengajar Inggris Secara Online
Program CAS juga berkolaborasi dengan Student Council (StuCo) untuk melakukan berbagai kegiatan. Misalnya, kegiatan mengajar murid sekolah lain yang berada di sekitar gedung SWA.

Satu kali seminggu, mereka terjun langsung memberikan pelajaran berbahasa Inggris kepada murid yang lebih muda. Namun, kegiatan tersebut terpaksa dihentikan saat pandemi Covid-19 melanda.

Para siswa pun akhirnya memiliki gagasan untuk memberikan pelajaran untuk para murid di sekolah lain secara online. Mereka memilih SDN 35 Dompu di NTB sebagai sekolah yang dituju.

“Teknologi membuat hal tersebut dapat terjadi. Kami dapat mengajar para murid di SDN 35 Dompu, NTB, dengan memanfaatkan internet. Setiap Sabtu pagi, kami melatih para murid secara online,” ujar SWA Student Council President 2020-2021 Eunike.

Eunike pun menjelaskan mengenai berbagai kegiatan yang dilakukannya untuk memberikan pendidikan tambahan untuk anak-anak dengan akses terbatas.

Ia bersama teman-temannya membagikan ilmu dan keterampilan seperti, menggambar komik, badminton, bernyanyi dalam bahasa Finlandia, membuat prakarya, dan bermain alat musik, menari tradisional sampai kpop yang menghasilkan pertunjukkan bersama secara virtual antara para siswa SWA dengan murid SDN 35 Dompu.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh SWA Student Council Vice President 2021-2022 Evelyn. Ia bercerita bahwa antusiasme para murid SDN 35 Dompu membuat pada siswa SWA menjadi lebih semangat menjalani kegiatan tersebut.

“Setiap Jumat, kami mengadakan rapat bersama teman-teman membahas materi apa yang akan diajarkan keesokan harinya. Rasanya menyenangkan dapat membagikan hal yang bermanfaat bagi orang lain,” ujar Evelyn.

3. Mengurai Plastik dengan Jamur
Salah satu siswa dalam project ini yakni Rania menemukan bagaimana caranya mengurai plastik dengan jamur. Ia sadar bahwa bumi saat ini menghadapi masalah sampah plastik. Maka berbagai project yang dituangkan cukup sederhana mulai dari yang paling sederhana seperti mengumpulkan sampah plastik dan menjadikannya sebuah karya daur ulang.

 

 

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : ARM, Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads